Dinamika Energi Dalam Hubungan Orang Tua Dan Anak

Dinamika Energi Dalam Hubungan Orang Tua Dan Anak

Dinamika Energi Dalam Hubungan Orang Tua Dan Anak

Studi di bidang konflik telah mengamati masalah mengapa manusia saling memperlakukan dengan kasar. Para ahli di bidang ini mengetahui bahwa kekerasan datang dari dorongan yang dirasakan manusia untuk saling mengontrol dan menguasai.

Mereka mengajukan pertanyaan apa yang terjadi di dalam diri manusia, yang membuatnya ingin mengendalikan orang lain? Jawaban yang mereka temukan adalah bahwa bila seseorang bertemu dengan orang lain dan terlibat percakapan, satu di antara dua hal dapat terjadi : orang itu dapat merasa kuat atau lemah sehabis pertemuan itu tergantung apa yang terjadi dalam interaksi tersebut.

Dengan alasan inilah maka manusia (kita) selalu mengambil sikap manipulatif, tak peduli apa pun situasi maupun pokok persoalannya, kita menyiapkan diri untuk mengatakan apapun yang harus kita katakan agar menang dalam pembicaraan. Kita masing-masing berusaha menemukan suatu cara untuk memegang kendali dan dengan begitu berada di posisi atas. Bila kita berhasil, bila sudut pandang kita unggul, kita tidak lagi merasa kekurangan energi melainkan menerima penguatan psikologis. Dengan kata lain, manusia (kita) berusaha saling mengecoh dan mengendalikan, bukan semata-mata karena tujuan nyata di dunia luar yang kita coba raih, melainkan karena adanya perasaan terangkat yang kita terima secara psikologis. Inilah alasan mengapa kita melihat begitu banyak konflik irasional di dunia, baik di tingkat perorangan maupun di tingkat bangsa-bangsa.

Seluruh persoalan ini kini muncul di dalam kesadaran publik. Kini kita menyadari bahwa betapa banyak di antara kita saling memanipulasi dan sebagai akibatnya kita tengah mengevaluasi kembali motivasi-motivasi kita. Kita tengah mencari cara baru untuk berinteraksi.

Contoh klasik mengenai tindak kekerasan psikologis seperti orang tua yang seringkali memarahi anaknya setiap kali si anak melakukan kesalahan, karena di mata sang orang tua kesempurnaan adalah tuntutan mutlak kepada si anak. Karena sakit hati, amarah sang anak pun meledak dan ia pun lari meninggalkan sang orang tua.

Itulah yang terjadi bila kebutuhan manusia untuk mengontrol orang lain sampai ke tingkat ekstrim. Sang orang tua (pasangan suami isteri) tadi menguasai sepenuhnya si anak. Mereka tidak pernah berhenti bersikap keras terhadap anak mereka sehingga dari sudut pandang si anak, ia tidak punya pilihan lain kecuali menyerang balik dengan garang. Itulah satu-satunya cara ia memperoleh kembali kontrol untuk dirinya sendiri. Celakanya ketika ia tumbuh, karena trauma masa kecilnya ini, ia akan beranggapan harus merebut kontrol dan menguasai orang lain dengan intensitas yang sama. Sifat-sifat khas ini akan tertanam dalam-dalam dan akan membuatnya suka mendominasi persis seperti yang dilakukan orangtuanya kepadanya, terutama bila ia dekat dengan orang yang mudah diserang, misalnya anak-anak (yang lebih kecil atau lebih muda darinya).

Sesungguhnyalah, trauma yang sama ini tak ayal lagi juga terjadi pada orang tuanya dulu. Mereka sekarang harus mendominasi sebagai akibat orang tua mereka dulu mendominasi mereka. Itulah sarana yang mengantarkan diwariskannya tindak kekerasan psikologis dari suatu generasi kepada generasi berikutnya.

Sebagaimana Wawasan Ketiga tentang melihat medan energi, dalam kasus kekerasan orang tua yang menuntut kesempurnaan terhadap anaknya di atas, akan terlihat pergerakan energi di antara anggota keluarga itu di mana si orang tua seakan-akan menghisap energi si anak ke dalam diri mereka hingga si anak seolah-olah hampir mati kehabisan energi. Hal inilah yang biasanya menyebabkan si anak berbalik menyerang (menangkis) orang tuanya guna merampas kembali energinya yang telah habis diserap oleh orang tuanya.

Baca juga: Melihat Medan Energi