Tag: wawasan keempat

Drama Pengendalian : Kasihanilah Aku (Poor Me) dan Sikap Menyendiri

Drama Pengendalian : Kasihanilah Aku (Poor Me) dan Sikap Menyendiri

Kasihanilah Aku (Poor Me) dan Sikap Menyendiri

Di sisi lain, jika seseorang menceritakan kepada Anda semua hal mengerikan yang sudah terjadi padanya sambil menyiratkan bahwa Anda bertanggung jawab, dan bahwa, jika Anda menolak untuk membantu, hal-hal mengerikan itu akan tetap berlanjut, maka orang ini berusaha untuk mengendalikan pada tingkat yang paling pasif, yang oleh Manuskrip disebut sebuah drama “kasihanilah aku” atau “diriku malang” (poor me).

Pikirkan tentang drama ini sejenak. Pernahkah Anda berada di dekat orang yang membuat Anda merasa bersalah ketika Anda kembali di hadapannya, meskipun Anda tahu tidak ada alasan untuk merasa seperti itu? Itu karena anda telah memasuki dunia drama kasihanilah aku. Segala sesuatu yang ia katakan dan lakukan menempatkan Anda di tempat di mana Anda harus bertahan melawan ide bahwa Anda sedang tidak berbuat cukup untuk orang ini. Itulah mengapa Anda merasa bersalah hanya dengan berada di dekatnya.

Yang kurang pasif dari drama “kasihanilah aku” adalah drama “sikap menyendiri”.

Bagaimana drama kasihanilah aku ini sebenarnya bekerja?

Jika Anda seorang anak, dan seseorang (ingin) menguras energi Anda dengan mengancam Anda dengan kekerasan fisik, drama menyendiri kemudian menjadi tidak bekerja. Anda tidak dapat membuat mereka untuk memberi Anda energi dengan bersikap pura-pura. Mereka tidak peduli apa yang terjadi di dalam diri Anda. Mereka menggebrak terlalu kuat. Jadi, Anda terpaksa menjadi lebih pasif dan mencoba pendekatan kasihanilah aku, memohon belas kasihan seraya menjebak mereka dalam rasa bersalah atas gangguan yang telah mereka lakukan. Jika ini tidak bekerja, kemudian, sebagai seorang anak, Anda menderita sampai Anda cukup besar untuk meledak melawan kekerasan dan memerangi agresi dengan agresi pula. Hal ini telah dicontohkan seperti anak yang pernah diceritakan pada Wawasan Keempat.

Rintangan Sebelum Dapat Terhubungkan Dengan Energi

Rintangan Sebelum Dapat Terhubungkan Dengan Energi

Rintangan Sebelum Dapat Terhubungkan Dengan Energi

Sudah diulas pada artikel sebelumnya, mengalami suatu pengalaman mistik memungkinkan kita untuk sesaat melihat besarnya energi yang bisa didapatkan seseorang (khusunya diri kita sendiri). Tapi keadaan ini seperti melompat mendahului orang lain dan sekilas melihat masa depan. Kita tidak bisa mempertahankan keadaan itu untuk waktu yang lama. Segera setelah kita mencoba untuk berbicara dengan seseorang yang pikirannya beroperasi dalam tingkat kesadaran normal, atau mencoba hidup di dunia di mana konflik masih terjadi, kita terlempar keluar dari keadaan futuristik ini dan jatuh kembali ke tingkat diri kita yang lama.

Masalah kita selanjutnya adalah untuk—secara perlahan—mendapatkan kembali apa yang sekilas kita lihat dalam pengalaman mistis itu, dan memulai kembali perkembangan menuju kesadaran tertinggi. Tetapi untuk melakukan ini, kita harus belajar untuk secara sadar mengisi diri sendiri dengan energi karena energi ini membawa peristiwa-peristiwa kebetulan, dan peristiwa-peristiwa kebetulan membantu kita mengaktualisasikan tingkat baru pada suatu basis yang permanen.

Pikirkan tentang hal ini : ketika sesuatu terjadi melampaui kesempatan untuk membawa kita maju dalam hidup kita, maka kita menjadi orang yang lebih teraktualisasikan. Kita merasa seolah-olah sedang mencapai apa, yang oleh bimbingan takdir, telah kita jadikan tujuan aktualisasi diri. Ketika ini terjadi, tingkat energi yang menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa kebetulan pertama-tama dibangun di dalam diri kita. Kita bisa tersingkir dari itu dan kehilangan energi ketika kita takut. Tetapi tingkat energi ini berfungsi sebagai batas terluar baru yang dapat diperoleh kembali dengan mudah. Kita telah menjadi pribadi baru. Kita hadir pada tingkat energi yang lebih tinggi, pada tingkat getaran yang lebih tinggi.

Dapatkah Anda melihat prosesnya sekarang?

Kita mengisi diri – tumbuh – mengisi diri – (dan) tumbuh lagi. Itu adalah cara bagaimana kita sebagai manusia melanjutkan evolusi alam semesta ke sebuah getaran yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.

Evolusi ini telah berlangsung secara tidak sadar sepanjang sejarah manusia. Itu menjelaskan mengapa peradaban telah berkembang dan mengapa manusia telah tumbuh lebih besar, hidup lebih lama, dan sebagainya. Sekarang, kita sedang membuat seluruh proses itu terjadi secara sadar. Itulah yang Manuskrip beritahukan pada kita. Tentang itulah seluruh gerakan menuju kesadaran spiritual yang meliputi seluruh dunia ini.

Jadi apa yang harus kita lakukan adalah mengisi diri sendiri dengan energi, seperti yang telah Anda baca sebelumnya, dan peristiwa-peristiwa kebetulan mulai terjadi lebih konsisten. Tetapi itu tidak semudah yang Anda pikirkan. Sebelum kita dapat terhubungkan dengan energi pada basis yang permanen, masih ada satu rintangan lagi yang harus kita lewati. Wawasan berikutnya, Wawasan Keenam, berkaitan dengan masalah ini.

Tentang apakah itu?

Kita harus menghadapi cara khas kita mengendalikan orang lain. Ingat, Wawasan Keempat mengungkapkan bahwa manusia selalu merasa kekurangan energi dan telah berusaha untuk mengendalikan satu sama lain untuk mendapatkan energi yang mengalir di antara manusia. Lalu Wawasan Kelima menunjukkan bahwa ada sumber alternatif, tapi kita tidak bisa benar-benar tetap terhubungkan dengan sumber ini sampai kita berhasil mengatasi kebiasaan kita mengendalikan atau mengontrol orang lain dan berhenti melakukannya, karena setiap kali kita jatuh kembali ke kebiasaan ini, kita akan mendapatkan diri kita terputus dari sumber energi itu.

Menyingkirkan kebiasaan ini tidaklah mudah karena terjadi tanpa disadari pada awalnya. Kunci untuk mengatasi kebiasaan ini adalah membawanya sepenuhnya ke dalam kesadaran, dan kita melakukannya dengan melihat bahwa gaya khas kita mengendalikan orang lain adalah salah satu yang kita pelajari di masa kecil untuk mendapatkan perhatian, agar energi bergerak ke arah kita, dan kita kembali terjebak di sana. Gaya ini kita ulangi lagi dan lagi. Ini biasa disebut sebagai drama pengendalian bawah sadar kita.

Disebut drama karena berupa adegan akrab, seperti adegan di film, yang skenarionya kita tulis semasa remaja. Lalu kita mengulangi adegan ini berulang-ulang dalam kehidupan kita sehari-hari tanpa menyadarinya. Semua yang kita tahu adalah bahwa jenis peristiwa yang sama terjadi pada kita berulang kali. Masalahnya adalah jika kita mengulangi satu adegan tertentu berulang-ulang, maka adegan-adegan lain dari film kehidupan nyata kita, petualangan kelas tinggi, yang ditandai oleh peristiwa kebetulan, tidak bisa bergerak maju. Kita menghentikan film bila kita mengulangi drama yang satu ini untuk memanipulasi demi energi.

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Seperti digambarkan sebelumnya bahwa manusialah yang meneruskan evolusi alam semesta menuju ke arah kompleksitas getaran yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Hal ini ada hubungannya dengan berbagai peristiwa kebetulan yang dibicarakan dalam Wawasan Pertama, dan ini juga akan cocok dengan wawasan-wawasan lainnya.

Pikirkan tentang bagaimana wawasan-wawasan itu dibagi menjadi bagian-bagian berurutan.

Wawasan Pertama terjadi ketika kita menganggap serius peristiwa-peristiwa kebetulan. Kebetulan-kebetulan ini membuat kita merasa ada sesuatu yang lebih, sesuatu yang spiritual, yang bekerja di balik semua yang kita lakukan.

Wawasan Kedua membentuk kesadaran kita sebagai sesuatu yang nyata. Kita bisa melihat bahwa kita telah terobsesi dengan kelangsungan hidup dalam dunia materi, dengan fokus pada upaya mengendalikan situasi kita di alam semesta demi keamanan, dan kita tahu keterbukaan kita sekarang mewakili semacam kesadaran akan apa yang sebenarnya terjadi.

Wawasan Ketiga memulai suatu pandangan baru tentang hidup. Ia mendefinisikan alam semesta fisik sebagai alam semesta energi murni, energi yang entah bagaimana merespon jalan pikiran kita.

Wawasan Keempat memaparkan kecenderungan manusia untuk mencuri energi dari manusia lain dengan mengendalikan mereka, mengambil alih pikiran mereka, suatu kejahatan di mana kita terlibat karena kita begitu sering merasa terputus dan kehabisan energi.

Kekurangan energi ini dapat diatasi, tentu saja, ketika kita terhubungkan dengan sumber yang lebih tinggi. Alam semesta dapat menyediakan semua yang kita butuhkan hanya jika kita bisa membuka diri terhadapnya. Itulah visi yang digambarkan oleh Wawasan Kelima.

Konsep Menyerap Energi Dan Memproyeksikannya Kembali

Konsep Menyerap Energi Dan Memproyeksikannya Kembali

Konsep Menyerap Energi Dan Memproyeksikannya Kembali

Melanjutkan pembahasan tentang cinta kasih, tentu saja Anda tidak dapat membuat diri Anda serta-merta mencintai, melainkan Andalah yang mengizinkan perasaan senang memasuki diri anda. Tetapi untuk melakukan ini, Anda harus memposisikan pikiran anda dengan mengingat bagaimana rasanya dan mencoba untuk merasakannya lagi.

Misalnya saja pada kasus menikmati pemandangan indah dengan pepohonan di kaki bukit. Secara bertahap, Anda mulai mengagumi bentuk dan kehadirannya. Apresiasi Anda tumbuh sampai Anda benar-benar merasakan emosi cinta. Perasaan ini mungkin mirip seperti perasaan ketika Anda masih kecil terhadap ibu Anda atau perasaan ketika Anda remaja kepada gadis istimewa yang menjadi obyek cinta monyet Anda. Namun meskipun Anda telah melihat pemandangan yang indah itu, perasaan kasih yang khas ini ada sebagai perasaan yang umum menyeluruh. Anda jatuh cinta atau mengasihi pada segala hal.

Bilamana hal ini mampu Anda lakukan, Anda akan menerima energi dari alam di sekitaran pemandangan. Prosesi penerimaan energi dari alam ini akan ditandai dengan medan energi Anda yang semakin membesar. Prosesi ini dapat terlihat oleh orang lain yang menginginkan untuk melihatnya, yaitu dengan memposisikan diri agak menjauh beberapa meter dan menatap ke arah Anda dengan intens (hal ini telah dijelaskan caranya pada Wawasan Keempat).

Taruhlah yang Anda jadikan obyek proyeksi adalah salah satu pohon di dekat Anda. Tahap selanjutnya, pejamkan mata dan coba untuk mencapai perasaan-perasaan intens menjadi satu rangkaian kesatuan. Cobalah pahami bahwasanya hidup Anda dan semua yang sudah Anda alami—terutama ditambah dengan pengalaman baru bersama alam pemandangan di sekeliling Anda—adalah suatu anugerah, suatu terobosan, suatu cara pandang pada suatu jalan baru. Sekarang Anda harus belajar untuk mendapatkan pengalaman itu sendiri, sedikit demi sedikit.

Pejamkan mata dan coba rasakan secara mendalam. Aliran emosi/perasaan akan datang membanjiri Anda. Tinggallah bersama banjir aliran emosi itu dan coba tingkatkan rasa sedikit demi sedikit, kemudian buka mata dan fokuskan perhatian pada pohon itu. Anda akan menerima energi dan memberikannya kepada pohon itu.

Ketika Anda menghargai atau mengapresiasi keindahan dan keunikan benda-benda, Anda menerima energi. Dan ketika Anda sampai ke tingkat di mana Anda merasakan cinta, maka Anda dapat mengirimkan kembali energi tersebut sesuai kehendak Anda. Semakin Anda memusatkan perhatian pada pohon dan mengagumi bentuk dan warnanya, semakin besar pula cinta yang Anda terima, sebuah pengalaman yang tidak biasa. Bayangkan energi Anda—yang tidak dapat Anda lihat—mengalir keluar dan mengisi pohon.

Hal ini sama halnya dengan proyeksi energi pada tanaman sebagaimana telah dibahas pada Wawasan Ketiga. Hanya yang membedakan adalah bahwa ketika itu kita belum menyadari pentingnya keberadaan perasaan cinta selama proyeksi energi berlangsung. Kita telah belajar mengalaminya tanpa menyadarinya.

Demikianlah Anda telah mengetahui bagaimana cara menyerap energi dan kemudian memproyeksikannya kembali (konsep menyerap energi dan memproyeksikannya kembali). Dengan mengingat cinta kasih yang pernah Anda rasakan, Anda dapat membuka diri.

Pemahaman Baru Tentang Kesadaran Mistis

Pemahaman Baru Tentang Kesadaran Mistis

Pemahaman Baru Tentang Kesadaran Mistis

Pemahaman kita tentang wawasan yang paling terakhir lalu adalah bahwa manusia terjebak dalam semacam kompetisi perebutan energi. Ketika kita berhasil membujuk orang lain untuk menyetujui pandangan kita, mereka akan memihak kita, dan itu berarti menarik energi mereka ke dalam diri kita sehingga kita merasa kuat. Jadi masalahnya adalah bahwa setiap orang mencoba untuk mengontrol dan memanipulasi satu sama lain demi memperoleh energi, karena kita merasa kekurangan energi.

Tapi ada solusi untuk hal yang satu itu, yaitu suatu sumber energi lain. Hal itu tersirat di dalam Wawasan Keempat. Wawasan Kelima menggambarkan pemahaman baru tentang apa yang telah lama disebut kesadaran mistis.

Selama beberapa dekade terakhir abad kedua puluh, menurut Wawasan Kelima, kesadaran ini akan dipublikasikan sebagai cara yang sebenarnya ingin dicapai, yaitu dengan cara sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh banyak praktisi yang menjalani agama secara terbatas. Untuk kebanyakan orang, kesadaran ini akan tetap menjadi konsep intelektual yang hanya akan dibicarakan dan diperdebatkan. Tapi untuk manusia-manusia tertentu yang jumlahnya semakin banyak, kesadaran ini akan menjadi pengalaman nyata karena orang-orang ini akan mengalami kilatan-kilatan atau gambaran-gambaran sekilas tentang keadaan mental selama perjalanan hidup mereka.

Menurut manuskrip, pengalaman ini adalah kunci untuk mengakhiri konflik manusia di dunia, karena selama pengalaman ini berlangsung, kita menerima energi dari sumber lain—sumber yang akhirnya akan kita pelajari untuk kita manfaatkan sesuka hati.

Melihat Medan Energi

Melihat Medan Energi

Melihat Medan Energi

Ada dua periode yang paling baik untuk dapat melihat medan energi dalam sehari, yaitu waktu matahari terbenam dan waktu matahari terbit. Selanjutnya, awalan untuk dapat melihat medan energi, kita dapat mulai dengan memandangi jari-jari tangan kita. Dengan berlatar langit biru sore atau pagi hari tersebut, coba sentuhkan pucuk jari-jari telunjuk kita satu dengan yang lain. Lalu pisahkan sedikit ujung-ujung jari kita dan pandanglah wilayah di antara dua pucuk jari itu. Apa yang terlihat? Keluarkan pandangan kita sedikit dari fokus dan gerakkan ujung jari saling mendekat lalu pisahkan mereka saling menjauhi secara perlahan-lahan. Tempatkan tatapan kita pada wilayah di antara kedua jari hingga kedua jari kita menjadi terlihat sedikit samar-samar. Dan ketika itu terjadi, akan terlihat sesuatu seperti benang-benang asap merentang di antara ujung-ujung jari. Coba mainkan sebentar.

Setelah itu coba lagi dengan menggunakan empat jari bersamaan, kemudian telapak tangan dan lengan bawah. Pada setiap gerakan akan terlihat benang-benang energi di antara bagian-bagian tubuh.

Kita juga bisa melihat medan energi orang lain. Coba tempatkan diri beberapa langkah dari orang yang ingin kita lihat medan energinya sedemikian rupa sehingga langit akan langsung berada di belakang orang itu. Lakukan seperti yang kita lakukan pada jari kita. Perihal melihat medan energi orang lain ini dapat juga dilakukan pada dua orang yang saling berdekatan (hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada Wawasan Keempat).

Selanjutnya, kita dapat melakukannya juga pada panorama atau keindahan yang ada di sekitar kita. Coba fokuskan pandangan pada sebuah pohon besar secara total, bukan hanya pada satu bagian tertentu saja melainkan pada bentuk keseluruhannya. Pohon itu akan tampak lebih terang. Bila hal tersebut sudah terjadi, berikan apresiasi lebih pada mereka sehingga keunikan dan kehadiran mereka mencuat. Lalu longgarkan fokus pandangan. Fokuskan ke arah satu sisi bagian fisik pohon—biasanya pada titik di tengah-tengah dedaunan rimbunnya—lambat laun akan tampak selintas cahaya. Coba sesuaikan fokus pandangan agar gelembung cahaya putih yang mengelilingi pohon tersebut dapat terlihat baik oleh kita. Gelembung cahaya putih itulah medan energi pohon tersebut. Bila kita tambahkan apresiasi lebih besar lagi seakan-akan kita memompanya dengan energi, medan energi pohon akan membesar dibandingkan sebelumnya.

Baca juga: