Tag: spiritual

Alasan Spiritual Mengapa Kita Dilahirkan Di Tengah Keluarga Kita

Alasan Spiritual Mengapa Kita Dilahirkan Di Tengah Keluarga Kita

Alasan Spiritual Mengapa Kita Dilahirkan Di Tengah Keluarga Kita

Proses menemukan identitas sejati rohani kita melibatkan tindakan meninjau seluruh hidup kita sebagai satu cerita atau sejarah panjang, mencoba mencari makna yang lebih tinggi. Mulailah dengan menanyakan pada diri sendiri pertanyaan ini: mengapa saya lahir keluarga khusus ini? Apa tujuan yang paling mungkin untuk itu?

Sebelumnya telah dicontohkan tentang seseorang yang memiliki ayah seorang interogator. Katakanlah bahwa orang itu adalah Anda sendiri. Apa yang ayah Anda ingin perjuangkan? Beliau benar-benar percaya bahwa hidup harus dinikmati, yaitu hidup dalam kejujuran, tetapi juga memanfaatkan apa yang hidup ini tawarkan. Beliau ingin menjalani hidup seutuhnya. Apakah beliau bisa melakukan ini? Untuk beberapa hal, YA, tapi entah bagaimana beliau tampaknya selalu memiliki nasib buruk justru ketika beliau mengira akan menikmati hidup pada tingkat paling tinggi. Apakah kita lantas mengira beliau kurang beruntung? Belum tentu. Karena bisa jadi beliau hanya belum menemukan kiat atau cara bagaimana untuk menjalankannya.

Bagaimana dengan ibu Anda? Apa yang direpresentasikan (diwakili) olehnya semasa hidup?

Hidupnya adalah gerejanya. Beliau memegang teguh prinsip-prinsip Kristen. Beliau percaya akan pelayanan masyarakat dan kepatuhan pada hukum-hukum Tuhan secara harafiah setidaknya sejauh yang gerejanya ajarkan. Apakah beliau bisa meyakinkan ayah Anda untuk melakukan hal yang sama? Tidak juga. Beliau ingin agar ayah Anda pergi ke gereja setiap minggu, dan terlibat dalam program-program kemasyarakatan. Tapi ternyata sang ayah tipe orang yang semangatnya bebas dari itu.

Jadi, pernahkah kita berpikir apakah semua itu mewaris kepada Anda?

Bukankah mereka berdua menginginkan kesetiaan Anda? Bukankah itu sebabnya mereka menjadi interogator, untuk memastikan Anda tidak berpihak pada nilai-nilai yang dianut oleh pihak lain? Bukankah beliau berdua ingin Anda berpikir bahwa cara merekalah yang terbaik?

Bagaimana menurut kita cara Anda menanggapi?

Bisa jadi Anda hanya mencoba untuk menghindari mengambil sikap. Mereka berdua memantau Anda untuk memastikan apakah Anda menunjukkan kualitas cukup baik sesuai pandangan khusus mereka. Dan karena tidak mampu menyenangkan keduanya, Anda menjadi penyendiri dan mengambil jarak.

Jadi apa arti yang ibu Anda tinggalkan untuk Anda?

Anda sedang mencari makna hidup ibu Anda bagi Anda, alasan Anda lahir bagi ibu Anda, dan apa yang Anda pelajari dari keberadaan Anda di dalam keluarga. Setiap manusia, entah sadar atau tidak, menggambarkan dengan kehidupan mereka bagaimana pola pikir mereka terhadap bagaimana manusia seharusnya hidup. Anda harus mencoba untuk menemukan apa yang ibu Anda ajarkan pada Anda dan, pada saat yang sama, bagaimana hidup ibu Anda bisa (telah) berjalan lebih baik. Apa yang akan Anda ubah tentang ibu Anda adalah bagian dari apa yang Anda sendiri sedang kerjakan.

Mengapa hal ini hanya dijelaskan sebagian saja? Bagaimana dengan ayah Anda? Pertanyaan ini adalah tugas Anda untuk mencari jawabannya. Karena bagian lainnya adalah bagaimana Anda akan memperbaiki hidup ayah Anda.

Kita bukan hanya ciptaan fisik dari orang tua kita, tapi juga ciptaan rohani. Kita dilahirkan bagi dua orang ini dan hidup mereka memiliki efek yang tidak dapat ditarik kembali pada siapa kita. Untuk menemukan diri sejati kita, kita harus bersikap dan berpikir dewasa bahwa “diri kita yang sebenarnya” dimulai dalam posisi di antara kebenaran-kebenaran mereka. Itulah mengapa kita lahir di sana: untuk mengambil perspektif lebih tinggi pada apa yang orang tua kita pertahankan. Jalan hidup kita adalah tentang menemukan suatu kebenaran yang merupakan sintesis yang lebih tinggi dari apa yang kedua orang ini percayai.

Mendapatkan Kejelasan Tentang Diri Sendiri

Mendapatkan Kejelasan Tentang Diri Sendiri

Mendapatkan Kejelasan Tentang Diri Sendiri

Langkah pertama dalam proses mendapatkan kejelasan bagi diri kita adalah untuk membawa drama pengendalian tertentu kita ke kesadaran penuh. Kita tidak akan pernah bisa mengalami kemajuan sebelum melewati/mengatasi tahapan ini.

Langkah selanjutnya adalah bahwa kita harus kembali ke masa lalu kita, kembali ke kehidupan awal keluarga kita, dan melihat bagaimana kebiasaan ini terbentuk. Melihat permulaan terbentuknya cara kita mengendalikan dalam kesadaran. Ingat, sebagian besar anggota keluarga kita memainkan dramanya masing-masing, mencoba menarik energi dari kita sebagai anak-anak. Inilah mengapa kita pertama-tama harus membentuk drama pengendalian. Kita harus memiliki strategi untuk merebut energi kita kembali. Kita selalu mengembangkan drama khas kita dalam kaitannya dengan anggota keluarga kita. Namun, setelah kita mengenali dinamika energi dalam keluarga kita, kita dapat melewati strategi kontrol dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Setiap orang harus menafsirkan kembali pengalaman di dalam keluarganya dari sudut pandang evolusioner, dari sudut pandang spiritual, dan menemukan siapa sebetulnya dirinya. Setelah kita melakukan itu, drama pengendalian kita gugur dan kehidupan sejati kita lepas landas.

Jadi, bagaimana cara kita memulainya?

Pertama-tama dengan memahami bagaimana drama pengendalian kita terbentuk. Misalnya dengan memahami siapa ayah kita. Katakanlah beliau adalah orang baik yang suka bersenang-senang dan cakap tapi beliau terlalu kritis. Kita tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar di matanya. Bagaimana beliau mengkritik kita? Beliau mengajukan pertanyaan-pertanyaan kemudian menemukan kesalahan dalam semua jawaban. Dan apa yang terjadi dengan energi kita? Kita merasa terkuras sehingga kita mencoba untuk menjaga diri dari mengatakan apapun kepadanya.

Berarti kita tidak tegas dan menjaga jarak, mencoba untuk mengatakan apa saja dengan cara yang mungkin akan mendapatkan perhatiannya, tapi tidak cukup menyatakan untuk memberikan dia sesuatu untuk dikritik. Dia adalah interogator dan kita mengelak untuk mendekatinya dengan sikap menyendiri (dingin) kita.

Kemudian Anda mengenali bahwa ternyata ibu Anda juga telah melakukan hal yang sama kepada Anda seperti ayah Anda dahulu, yaitu berperan sebagai seorang interogator. Jadi Anda telah mendapatkan dosis ganda. Maka tak heran bila ternyata Anda sekarang cenderung memilih drama menyendiri.

Namun walaupun demikian, setidaknya mereka tidak mengintimidasi Anda. Paling tidak Anda tidak pernah khawatir akan keselamatan Anda, bukan? Karena bila ini sampai terjadi, Anda akan menjadi terjebak dalam drama kasihanilah aku (poor me).

Seseorang akan menempuh apa pun yang secara ekstrim diperlukan untuk mendapatkan energi—perhatian dalam keluarganya. Dan setelah itu, strategi ini menjadi cara dominannya mengendalikan untuk mendapatkan energi dari semua orang, drama yang terus-menerus diulanginya. Hal mengenai drama yang diulang-ulang ini dan secara terus-menerus dilakukan tanpa sadar—tanpa mampu bangkit dari “tidur panjang”—akan menyebabkan “neraka” pada diri pelakunya sendiri. Ini akan diulas pada Wawasan Kesepuluh.

Demikianlah persisnya cara drama-drama pengendalian mengabadikan diri. Tapi ingat, ada kecenderungan melihat drama-drama ini pada diri orang lain dan mengira bahwa kita sendiri bebas dari drama-drama pengendalian tersebut. Kita harus melampaui ilusi ini sebelum kita bisa melangkah maju. Hampir semua orang cenderung terjebak, setidaknya untuk sementara waktu, dalam sebuah drama dan kita harus melangkah mundur dan melihat diri kita sendiri cukup lama untuk menemukan drama apa itu.

Segera setelah kita menemukan jenis drama kita, kita benar-benar bebas untuk menjadi lebih daripada peran bawah sadar yang kita mainkan. Seperti yang dikatakan sebelumnya, kita dapat menemukan makna yang lebih tinggi untuk hidup kita, alasan spiritual kita dilahirkan pada keluarga kita. Kita bisa mulai memperoleh kejelasan tentang siapa kita sebenarnya.

Rintangan Sebelum Dapat Terhubungkan Dengan Energi

Rintangan Sebelum Dapat Terhubungkan Dengan Energi

Rintangan Sebelum Dapat Terhubungkan Dengan Energi

Sudah diulas pada artikel sebelumnya, mengalami suatu pengalaman mistik memungkinkan kita untuk sesaat melihat besarnya energi yang bisa didapatkan seseorang (khusunya diri kita sendiri). Tapi keadaan ini seperti melompat mendahului orang lain dan sekilas melihat masa depan. Kita tidak bisa mempertahankan keadaan itu untuk waktu yang lama. Segera setelah kita mencoba untuk berbicara dengan seseorang yang pikirannya beroperasi dalam tingkat kesadaran normal, atau mencoba hidup di dunia di mana konflik masih terjadi, kita terlempar keluar dari keadaan futuristik ini dan jatuh kembali ke tingkat diri kita yang lama.

Masalah kita selanjutnya adalah untuk—secara perlahan—mendapatkan kembali apa yang sekilas kita lihat dalam pengalaman mistis itu, dan memulai kembali perkembangan menuju kesadaran tertinggi. Tetapi untuk melakukan ini, kita harus belajar untuk secara sadar mengisi diri sendiri dengan energi karena energi ini membawa peristiwa-peristiwa kebetulan, dan peristiwa-peristiwa kebetulan membantu kita mengaktualisasikan tingkat baru pada suatu basis yang permanen.

Pikirkan tentang hal ini : ketika sesuatu terjadi melampaui kesempatan untuk membawa kita maju dalam hidup kita, maka kita menjadi orang yang lebih teraktualisasikan. Kita merasa seolah-olah sedang mencapai apa, yang oleh bimbingan takdir, telah kita jadikan tujuan aktualisasi diri. Ketika ini terjadi, tingkat energi yang menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa kebetulan pertama-tama dibangun di dalam diri kita. Kita bisa tersingkir dari itu dan kehilangan energi ketika kita takut. Tetapi tingkat energi ini berfungsi sebagai batas terluar baru yang dapat diperoleh kembali dengan mudah. Kita telah menjadi pribadi baru. Kita hadir pada tingkat energi yang lebih tinggi, pada tingkat getaran yang lebih tinggi.

Dapatkah Anda melihat prosesnya sekarang?

Kita mengisi diri – tumbuh – mengisi diri – (dan) tumbuh lagi. Itu adalah cara bagaimana kita sebagai manusia melanjutkan evolusi alam semesta ke sebuah getaran yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.

Evolusi ini telah berlangsung secara tidak sadar sepanjang sejarah manusia. Itu menjelaskan mengapa peradaban telah berkembang dan mengapa manusia telah tumbuh lebih besar, hidup lebih lama, dan sebagainya. Sekarang, kita sedang membuat seluruh proses itu terjadi secara sadar. Itulah yang Manuskrip beritahukan pada kita. Tentang itulah seluruh gerakan menuju kesadaran spiritual yang meliputi seluruh dunia ini.

Jadi apa yang harus kita lakukan adalah mengisi diri sendiri dengan energi, seperti yang telah Anda baca sebelumnya, dan peristiwa-peristiwa kebetulan mulai terjadi lebih konsisten. Tetapi itu tidak semudah yang Anda pikirkan. Sebelum kita dapat terhubungkan dengan energi pada basis yang permanen, masih ada satu rintangan lagi yang harus kita lewati. Wawasan berikutnya, Wawasan Keenam, berkaitan dengan masalah ini.

Tentang apakah itu?

Kita harus menghadapi cara khas kita mengendalikan orang lain. Ingat, Wawasan Keempat mengungkapkan bahwa manusia selalu merasa kekurangan energi dan telah berusaha untuk mengendalikan satu sama lain untuk mendapatkan energi yang mengalir di antara manusia. Lalu Wawasan Kelima menunjukkan bahwa ada sumber alternatif, tapi kita tidak bisa benar-benar tetap terhubungkan dengan sumber ini sampai kita berhasil mengatasi kebiasaan kita mengendalikan atau mengontrol orang lain dan berhenti melakukannya, karena setiap kali kita jatuh kembali ke kebiasaan ini, kita akan mendapatkan diri kita terputus dari sumber energi itu.

Menyingkirkan kebiasaan ini tidaklah mudah karena terjadi tanpa disadari pada awalnya. Kunci untuk mengatasi kebiasaan ini adalah membawanya sepenuhnya ke dalam kesadaran, dan kita melakukannya dengan melihat bahwa gaya khas kita mengendalikan orang lain adalah salah satu yang kita pelajari di masa kecil untuk mendapatkan perhatian, agar energi bergerak ke arah kita, dan kita kembali terjebak di sana. Gaya ini kita ulangi lagi dan lagi. Ini biasa disebut sebagai drama pengendalian bawah sadar kita.

Disebut drama karena berupa adegan akrab, seperti adegan di film, yang skenarionya kita tulis semasa remaja. Lalu kita mengulangi adegan ini berulang-ulang dalam kehidupan kita sehari-hari tanpa menyadarinya. Semua yang kita tahu adalah bahwa jenis peristiwa yang sama terjadi pada kita berulang kali. Masalahnya adalah jika kita mengulangi satu adegan tertentu berulang-ulang, maka adegan-adegan lain dari film kehidupan nyata kita, petualangan kelas tinggi, yang ditandai oleh peristiwa kebetulan, tidak bisa bergerak maju. Kita menghentikan film bila kita mengulangi drama yang satu ini untuk memanipulasi demi energi.

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Seperti digambarkan sebelumnya bahwa manusialah yang meneruskan evolusi alam semesta menuju ke arah kompleksitas getaran yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Hal ini ada hubungannya dengan berbagai peristiwa kebetulan yang dibicarakan dalam Wawasan Pertama, dan ini juga akan cocok dengan wawasan-wawasan lainnya.

Pikirkan tentang bagaimana wawasan-wawasan itu dibagi menjadi bagian-bagian berurutan.

Wawasan Pertama terjadi ketika kita menganggap serius peristiwa-peristiwa kebetulan. Kebetulan-kebetulan ini membuat kita merasa ada sesuatu yang lebih, sesuatu yang spiritual, yang bekerja di balik semua yang kita lakukan.

Wawasan Kedua membentuk kesadaran kita sebagai sesuatu yang nyata. Kita bisa melihat bahwa kita telah terobsesi dengan kelangsungan hidup dalam dunia materi, dengan fokus pada upaya mengendalikan situasi kita di alam semesta demi keamanan, dan kita tahu keterbukaan kita sekarang mewakili semacam kesadaran akan apa yang sebenarnya terjadi.

Wawasan Ketiga memulai suatu pandangan baru tentang hidup. Ia mendefinisikan alam semesta fisik sebagai alam semesta energi murni, energi yang entah bagaimana merespon jalan pikiran kita.

Wawasan Keempat memaparkan kecenderungan manusia untuk mencuri energi dari manusia lain dengan mengendalikan mereka, mengambil alih pikiran mereka, suatu kejahatan di mana kita terlibat karena kita begitu sering merasa terputus dan kehabisan energi.

Kekurangan energi ini dapat diatasi, tentu saja, ketika kita terhubungkan dengan sumber yang lebih tinggi. Alam semesta dapat menyediakan semua yang kita butuhkan hanya jika kita bisa membuka diri terhadapnya. Itulah visi yang digambarkan oleh Wawasan Kelima.

Memahami Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Memahami Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Memahami Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Bagaimana agar kita benar-benar memahami kebudayaan seperti judul di atas?

Bayangkan diri Anda menjadi hidup di tahun 1000, yaitu pada Abad Pertengahan. Visualisasikan bahwa Anda menemukan diri Anda sendiri di jaman nenek moyang Anda, terlepas dari apa tingkat strata sosialnya—petani atau bangsawan?—atau pekerjaan tertentu yang Anda lakukan waktu itu. Ketika itu di dunia barat, gereja Kristen masih sangat berkuasa.

Baca juga: Meninjau Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Waktu itu, oleh para imam, dunia digambarkan secara nyata bersifat spritual di atas segalanya. Mereka menciptakan sebuah realitas yang menempatkan ide mereka tentang rencana Tuhan bagi umat manusia berada tepat di pusat kehidupan. Para rohaniawan gereja menjelaskan bahwa Allah telah menempatkan umat manusia di pusat semesta-Nya dikelilingi oleh seluruh kosmos, untuk satu-satunya tujuan: memperoleh atau kehilangan keselamatan, artinya dalam ujian ini harus secara benar memilih antara dua kekuatan yang bertentangan: kekuatan Tuhan atau godaan setan yang mengintai. Tetapi pahamilah bahwa Anda tidak sendirian menghadapi ujian ini.

Sesungguhnya, sebagai seorang individu semata Anda tidak memenuhi syarat untuk menentukan status Anda dalam hal ini. Ini adalah wewenang gereja. Mereka ada untuk menafsirkan kitab suci dan memberitahu Anda setiap langkah apakah Anda sesuai dengan Tuhan atau apakah Anda sedang ditipu oleh setan. Jika Anda mengikuti instruksi mereka, surga adalah imbalannya. Tapi jika Anda tidak memperhatikan instruksi mereka meresepkan, akan ada hukuman tertentu dan kutukan. Para imam gereja ini menganggap diri mereka sebagai satu-satunya penghubung antara Anda dan Tuhan, satu-satunya penafsir kitab suci, satu-satunya wasit keselamatan Anda.

Semua fenomena kehidupan—dari badai atau gempa bumi yang terjadi secara kebetulan sampai keberhasilan panen atau kematian orang yang dicintai—didefinisikan sebagai kehendak Tuhan atau sebagai kedengkian setan. Tak ada konsep cuaca atau kekuatan geologi atau hortikultura atau penyakit. Itu semua datang belakangan. Untuk saat itu, Anda benar-benar hanya percaya pada kaum imam; dunia yang Anda terima sebagai sesuatu yang sudah semestinya beroperasi semata-mata dengan sarana-sarana rohani.

Selanjutnya pandangan dunia Abad Pertengahan mulai berantakan pada abad ke-14 dan ke-15. Pertama, Anda melihat kejanggalan-kejanggalan tertentu pada beberapa imam-imam gereja itu sendiri: diam-diam melanggar sumpah kesucian mereka, misalnya, menerima bayaran untuk berpura-pura tidak melihat ketika pejabat pemerintah melanggar hukum Alkitabiah.

Kemudian Anda berada di tengah-tengah pemberontakan sebuah kelompok yang dipimpin oleh Martin Luther melepaskan diri sama sekali dari kekristenan di bawah kepausan. Mereka menuduh kaum imam korup seraya menuntut diakhirinya kekuasaan kaum imam atas pikiran khalayak ramai. Gereja-gereja baru dibentuk berdasarkan pada gagasan bahwa setiap orang seharusnya memiliki akses dengan Kitab Suci secara langsung dan pribadi serta menafsirkannya sesuai yang mereka inginkan, tanpa perantara.

Pemberontakan itu berhasil. Para imam gereja mulai tergeser. Konsensus jelas tentang hakikat alam semesta dan tujuan hidup umat manusia di sini, seperti yang didasarkan pada deskripsi gereja, runtuh. Akibatnya, seluruh dunia menjadi mempertanyakan tentang tujuan hidup mereka. Manusia seperti kehilangan arah.

Pada tahun 1600-an, para astronom telah membuktikan tanpa keraguan bahwa matahari dan bintang tidak berputar mengelilingi bumi sebagaimana pandangan yang dipertahankan oleh gereja. Jelas bahwa Bumi hanya satu planet kecil yang mengorbit matahari kecil/minor dalam sebuah galaksi yang berisi miliaran bintang.

Ini penting. Manusia telah kehilangan tempatnya di pusat alam semesta Tuhan. Apa akibatnya? Sekarang, ketika Anda mengamati cuaca, atau tanaman yang tumbuh, atau seseorang tiba-tiba mati, apa yang Anda rasakan adalah bingung dan gelisah. Di masa lalu, Anda mungkin telah mengatakan bahwa Allah atau setan yang bertanggung jawab. Tetapi ketika dunia abad pertengahan runtuh, kepastian itu pun ikut gugur bersamanya. Semua hal yang dulunya Anda terima begitu saja, sekarang perlu definisi baru, terutama mengenai sifat Tuhan dan hubungan Anda dengan Allah.

Baca juga: Ketika Transformasi Mencari Bentuknya

Dengan kesadaran itu, Zaman Modern dimulai. Ada semangat demokrasi tumbuh dan ketidakpercayaan massa terhadap otoritas kepausan dan kerajaan. Definisi alam semesta berdasarkan spekulasi atau iman alkitabiah tidak lagi secara otomatis diterima. Kendati kehilangan kepastian, kita tidak ingin mengambil risiko untuk tunduk kepada kelompok baru yang mengendalikan realitas kita seperti yang para rohaniwan pernah lakukan. Mandat baru untuk ilmu pengetahuan pun terbentuk.

Para pemikir zaman itu mulai memandang ke luar alam semesta yang luas tanpa batas dan berpikir bahwa kita perlu metode pembentuk kesepakatan, cara untuk secara sistematis menjelajahi dunia baru kita. Dan Anda akan menyebut cara baru menemukan realitas tersebut sebagai metode ilmiah, yang tidak lebih dari pengujian ide tentang cara kerja alam semesta, sampai pada kesimpulan tertentu, dan kemudian menawarkan kesimpulan ini kepada orang lain untuk melihat apakah mereka setuju.

Lalu kita, manusia, menyiapkan para penjelajah untuk keluar ke alam semesta baru ini, masing-masing bersenjatakan metode ilmiah dan mereka diberikan misi bersejarah : Jelajahi tempat ini, temukan cara kerjanya, dan cari tahu untuk apa kita hidup di dunia ini.

Baca juga: Visi Wawasan Ketiga: Transformasi Pemahaman Tentang Semesta Dunia Fisik

Manusia telah kehilangan kepastian tentang alam semesta yang diperintah Tuhan dan karena itu kepastian kita tentang hakikat Tuhan sendiri. Tetapi kita merasa mempunyai metode, proses pembentukan kesepakatan untuk menemukan hakikat segala sesuatu di sekitar kita, termasuk Tuhan serta tujuan sejati eksistensi umat manusia di planet ini. Jadi, kita mengirimkan para penjelajah ini untuk menemukan hakikat sejati situasi kita sendiri.

Menurut Manuskrip, pada titik ini kita memulai obsesi, dan dari obsesi inilah kita mengalami kebangkitan. Kita mengirim para penjelajah ini untuk membawa kembali penjelasan lengkap tentang eksistensi kita—membawa situasi spritual kita yang sebenarnya—tetapi  kerumitan  alam semesta menyebabkan mereka tidak mampu segera kembali.

Kebelumberhasilan tersebut mempengaruhi kebudayaan secara mendalam. Kita perlu sesuatu lain sampai pertanyaan-pertanyaan kita terjawab. Akhirnya kita sampai pada apa yang tampak sebagai pemecahan yang sangat logis. Karena penjelajah belum kembali membawa spiritual kita yang sebenarnya, kita mulai mendekatkan diri dengan dunia baru ini sementara kita menunggu. Kita belajar mengotak-atik dunia ini untuk keuntungan kita sendiri, untuk meningkatkan standar hidup, dan rasa keamanan kita di dunia. Kita bebaskan perasaan hilang arah dengan menangani sendiri persoalan yang kita hadapi dengan memusatkan perhatian atas upaya menaklukkan Bumi dan menggunakan sumber dayanya untuk memperbaiki cara hidup kita—dan hanya sekarang—ketika mendekati akhir milenium kita dapat melihat apa yang terjadi.

Bekerja untuk membangun cara hidup yang lebih menyenangkan telah membuat kita merasa lebih lengkap luar-dalam, menjadikan hidup kita tergantung pada materi. Materi telah menjadi alasan untuk hidup. Dan setahap demi setahap, secara metodologis, kita telah melupakan pertanyaan semula. Kita lupa bahwa kita masih belum tahu untuk apa kita bertahan hidup.

Yang menjadi persoalan ialah kita yang terfokus dan obsesif untuk menaklukkan alam dan membuat kita sendiri lebih nyaman ini telah menyebabkan sistem alamiah planet ini tercemar dan berada di ambang kehancuran. Kita tak bisa meneruskan cara ini.

Obsesi ini, menurut Manuskrip, sesungguhnya merupakan suatu perkembangan yang diperlukan, suatu tahap dalam evolusi manusia. Hanya saja kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mendekatkan diri dengan dunia. Kini tiba waktunya untuk sadar dan bangun dari obsesi ini dan mempertimbangkan lagi pertanyaan semula. Apa yang ada di balik kehidupan di planet ini? Mengapa kita berada di situ?

Manuskrip Celestine

Manuskrip Celestine

Manuskrip Celestine berasal dari sekitar 600 tahun SM, berisi ramalan tentang suatu transformasi massal di dalam masyarakat manusia. Di mana ada semacam kebangkitan dalam kesadaran, yang berlangsung secara perlahan. Tidak bersifat agamawi, melainkan secara spritual. Kita tengah menemukan sesuatu yang baru tentang kehidupan manusia di planet ini, tentang makna eksistensi kita. Pengetahuan ini akan mengubah hikayat manusia secara dramatis.

Baca juga: Celestine Prophecy: Sembilan Wawasan Pertama

Manuskrip Celestine meramalkan, segera setelah kita mencapai massa yang kritis ini, seluruh budaya akan mulai memandang secara sungguh-sungguh peristiwa-peristiwa kebetulan ini. Kita akan bertanya-tanya, di dalam massa, proses gaib mana yang mendasari kehidupan manusia di planet ini. Dan pertanyaan inilah, manakala diajukan pada saat bersamaan oleh cukup banyak orang, yang akan memungkinkan wawasan-wawasan lain juga muncul di dalam kesadaran—sebab  menurut Manuskrip—bila terdapat cukup banyak individu yang secara sungguh-sungguh mempertanyakan apa yang terjadi di dalam hidup ini, wawasan-wawasan lain akan dibukakan satu demi satu. Bila kita menangkap makna wawasan-wawasan yang lain, kebudayaan akan bergeser.

Hal ini tentu saja terdengar terlalu canggih untuk manuskrip yang ditulis 600 tahun SM, terutama karena manuskrip itu ditulis dalam bahasa Aramaic yang digunakan pula dalam kebanyakan Perjanjian Lama.

Namun demikian, Manuskrip Celestine sesungguhnya tidak melemahkan prinsip gereja atau agama mana pun. Bila terdapat perbedaan, Manuskrip ini justru memperjelas secara tepat apa maksud kebenaran-kebenaran spritual ini karena Manuskrip ini memberikan pencerahan dan memberikan pengetahuan spritual—di samping iman yang kita miliki—tentang peran manusia yaitu untuk berpartisipasi di dalam kosmos serta menyampaikan kebenaran yang akan membebaskan Anda dari status quo, garis-garis otoritas dunia.

Manuskrip ini terbagi ke dalam segmen-segmen atau bab, masing-masing diperuntukkan bagi suatu wawasan khusus tentang hidup. Manuskrip itu meramalkan bahwa dalam suatu periode waktu ini, manusia akan mulai memahami wawasan ini secara berurutan, yang satu mengikuti yang lain, sementara kita bergerak dari tempat kita berada sekarang ini ke arah budaya yang sepenuhnya bersifat spritual di bumi.

Wawasan-wawasan Manuskrip Celestine ini harus diperoleh satu demi satu secara berurutan. Dan yakinlah bahwa masing-masing wawasan akan menghadirkan diri kepada Anda segera setelah Anda menyelesaikan wawasan sebelumnya.

Baca juga: Makna Yang Lebih Dalam Dari Sebuah Pertemuan