Tag: memahami kebudayaan dari perspektif satu milenium penuh

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Seperti digambarkan sebelumnya bahwa manusialah yang meneruskan evolusi alam semesta menuju ke arah kompleksitas getaran yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Hal ini ada hubungannya dengan berbagai peristiwa kebetulan yang dibicarakan dalam Wawasan Pertama, dan ini juga akan cocok dengan wawasan-wawasan lainnya.

Pikirkan tentang bagaimana wawasan-wawasan itu dibagi menjadi bagian-bagian berurutan.

Wawasan Pertama terjadi ketika kita menganggap serius peristiwa-peristiwa kebetulan. Kebetulan-kebetulan ini membuat kita merasa ada sesuatu yang lebih, sesuatu yang spiritual, yang bekerja di balik semua yang kita lakukan.

Wawasan Kedua membentuk kesadaran kita sebagai sesuatu yang nyata. Kita bisa melihat bahwa kita telah terobsesi dengan kelangsungan hidup dalam dunia materi, dengan fokus pada upaya mengendalikan situasi kita di alam semesta demi keamanan, dan kita tahu keterbukaan kita sekarang mewakili semacam kesadaran akan apa yang sebenarnya terjadi.

Wawasan Ketiga memulai suatu pandangan baru tentang hidup. Ia mendefinisikan alam semesta fisik sebagai alam semesta energi murni, energi yang entah bagaimana merespon jalan pikiran kita.

Wawasan Keempat memaparkan kecenderungan manusia untuk mencuri energi dari manusia lain dengan mengendalikan mereka, mengambil alih pikiran mereka, suatu kejahatan di mana kita terlibat karena kita begitu sering merasa terputus dan kehabisan energi.

Kekurangan energi ini dapat diatasi, tentu saja, ketika kita terhubungkan dengan sumber yang lebih tinggi. Alam semesta dapat menyediakan semua yang kita butuhkan hanya jika kita bisa membuka diri terhadapnya. Itulah visi yang digambarkan oleh Wawasan Kelima.

Memahami Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Memahami Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Memahami Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Bagaimana agar kita benar-benar memahami kebudayaan seperti judul di atas?

Bayangkan diri Anda menjadi hidup di tahun 1000, yaitu pada Abad Pertengahan. Visualisasikan bahwa Anda menemukan diri Anda sendiri di jaman nenek moyang Anda, terlepas dari apa tingkat strata sosialnya—petani atau bangsawan?—atau pekerjaan tertentu yang Anda lakukan waktu itu. Ketika itu di dunia barat, gereja Kristen masih sangat berkuasa.

Baca juga: Meninjau Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Waktu itu, oleh para imam, dunia digambarkan secara nyata bersifat spritual di atas segalanya. Mereka menciptakan sebuah realitas yang menempatkan ide mereka tentang rencana Tuhan bagi umat manusia berada tepat di pusat kehidupan. Para rohaniawan gereja menjelaskan bahwa Allah telah menempatkan umat manusia di pusat semesta-Nya dikelilingi oleh seluruh kosmos, untuk satu-satunya tujuan: memperoleh atau kehilangan keselamatan, artinya dalam ujian ini harus secara benar memilih antara dua kekuatan yang bertentangan: kekuatan Tuhan atau godaan setan yang mengintai. Tetapi pahamilah bahwa Anda tidak sendirian menghadapi ujian ini.

Sesungguhnya, sebagai seorang individu semata Anda tidak memenuhi syarat untuk menentukan status Anda dalam hal ini. Ini adalah wewenang gereja. Mereka ada untuk menafsirkan kitab suci dan memberitahu Anda setiap langkah apakah Anda sesuai dengan Tuhan atau apakah Anda sedang ditipu oleh setan. Jika Anda mengikuti instruksi mereka, surga adalah imbalannya. Tapi jika Anda tidak memperhatikan instruksi mereka meresepkan, akan ada hukuman tertentu dan kutukan. Para imam gereja ini menganggap diri mereka sebagai satu-satunya penghubung antara Anda dan Tuhan, satu-satunya penafsir kitab suci, satu-satunya wasit keselamatan Anda.

Semua fenomena kehidupan—dari badai atau gempa bumi yang terjadi secara kebetulan sampai keberhasilan panen atau kematian orang yang dicintai—didefinisikan sebagai kehendak Tuhan atau sebagai kedengkian setan. Tak ada konsep cuaca atau kekuatan geologi atau hortikultura atau penyakit. Itu semua datang belakangan. Untuk saat itu, Anda benar-benar hanya percaya pada kaum imam; dunia yang Anda terima sebagai sesuatu yang sudah semestinya beroperasi semata-mata dengan sarana-sarana rohani.

Selanjutnya pandangan dunia Abad Pertengahan mulai berantakan pada abad ke-14 dan ke-15. Pertama, Anda melihat kejanggalan-kejanggalan tertentu pada beberapa imam-imam gereja itu sendiri: diam-diam melanggar sumpah kesucian mereka, misalnya, menerima bayaran untuk berpura-pura tidak melihat ketika pejabat pemerintah melanggar hukum Alkitabiah.

Kemudian Anda berada di tengah-tengah pemberontakan sebuah kelompok yang dipimpin oleh Martin Luther melepaskan diri sama sekali dari kekristenan di bawah kepausan. Mereka menuduh kaum imam korup seraya menuntut diakhirinya kekuasaan kaum imam atas pikiran khalayak ramai. Gereja-gereja baru dibentuk berdasarkan pada gagasan bahwa setiap orang seharusnya memiliki akses dengan Kitab Suci secara langsung dan pribadi serta menafsirkannya sesuai yang mereka inginkan, tanpa perantara.

Pemberontakan itu berhasil. Para imam gereja mulai tergeser. Konsensus jelas tentang hakikat alam semesta dan tujuan hidup umat manusia di sini, seperti yang didasarkan pada deskripsi gereja, runtuh. Akibatnya, seluruh dunia menjadi mempertanyakan tentang tujuan hidup mereka. Manusia seperti kehilangan arah.

Pada tahun 1600-an, para astronom telah membuktikan tanpa keraguan bahwa matahari dan bintang tidak berputar mengelilingi bumi sebagaimana pandangan yang dipertahankan oleh gereja. Jelas bahwa Bumi hanya satu planet kecil yang mengorbit matahari kecil/minor dalam sebuah galaksi yang berisi miliaran bintang.

Ini penting. Manusia telah kehilangan tempatnya di pusat alam semesta Tuhan. Apa akibatnya? Sekarang, ketika Anda mengamati cuaca, atau tanaman yang tumbuh, atau seseorang tiba-tiba mati, apa yang Anda rasakan adalah bingung dan gelisah. Di masa lalu, Anda mungkin telah mengatakan bahwa Allah atau setan yang bertanggung jawab. Tetapi ketika dunia abad pertengahan runtuh, kepastian itu pun ikut gugur bersamanya. Semua hal yang dulunya Anda terima begitu saja, sekarang perlu definisi baru, terutama mengenai sifat Tuhan dan hubungan Anda dengan Allah.

Baca juga: Ketika Transformasi Mencari Bentuknya

Dengan kesadaran itu, Zaman Modern dimulai. Ada semangat demokrasi tumbuh dan ketidakpercayaan massa terhadap otoritas kepausan dan kerajaan. Definisi alam semesta berdasarkan spekulasi atau iman alkitabiah tidak lagi secara otomatis diterima. Kendati kehilangan kepastian, kita tidak ingin mengambil risiko untuk tunduk kepada kelompok baru yang mengendalikan realitas kita seperti yang para rohaniwan pernah lakukan. Mandat baru untuk ilmu pengetahuan pun terbentuk.

Para pemikir zaman itu mulai memandang ke luar alam semesta yang luas tanpa batas dan berpikir bahwa kita perlu metode pembentuk kesepakatan, cara untuk secara sistematis menjelajahi dunia baru kita. Dan Anda akan menyebut cara baru menemukan realitas tersebut sebagai metode ilmiah, yang tidak lebih dari pengujian ide tentang cara kerja alam semesta, sampai pada kesimpulan tertentu, dan kemudian menawarkan kesimpulan ini kepada orang lain untuk melihat apakah mereka setuju.

Lalu kita, manusia, menyiapkan para penjelajah untuk keluar ke alam semesta baru ini, masing-masing bersenjatakan metode ilmiah dan mereka diberikan misi bersejarah : Jelajahi tempat ini, temukan cara kerjanya, dan cari tahu untuk apa kita hidup di dunia ini.

Baca juga: Visi Wawasan Ketiga: Transformasi Pemahaman Tentang Semesta Dunia Fisik

Manusia telah kehilangan kepastian tentang alam semesta yang diperintah Tuhan dan karena itu kepastian kita tentang hakikat Tuhan sendiri. Tetapi kita merasa mempunyai metode, proses pembentukan kesepakatan untuk menemukan hakikat segala sesuatu di sekitar kita, termasuk Tuhan serta tujuan sejati eksistensi umat manusia di planet ini. Jadi, kita mengirimkan para penjelajah ini untuk menemukan hakikat sejati situasi kita sendiri.

Menurut Manuskrip, pada titik ini kita memulai obsesi, dan dari obsesi inilah kita mengalami kebangkitan. Kita mengirim para penjelajah ini untuk membawa kembali penjelasan lengkap tentang eksistensi kita—membawa situasi spritual kita yang sebenarnya—tetapi  kerumitan  alam semesta menyebabkan mereka tidak mampu segera kembali.

Kebelumberhasilan tersebut mempengaruhi kebudayaan secara mendalam. Kita perlu sesuatu lain sampai pertanyaan-pertanyaan kita terjawab. Akhirnya kita sampai pada apa yang tampak sebagai pemecahan yang sangat logis. Karena penjelajah belum kembali membawa spiritual kita yang sebenarnya, kita mulai mendekatkan diri dengan dunia baru ini sementara kita menunggu. Kita belajar mengotak-atik dunia ini untuk keuntungan kita sendiri, untuk meningkatkan standar hidup, dan rasa keamanan kita di dunia. Kita bebaskan perasaan hilang arah dengan menangani sendiri persoalan yang kita hadapi dengan memusatkan perhatian atas upaya menaklukkan Bumi dan menggunakan sumber dayanya untuk memperbaiki cara hidup kita—dan hanya sekarang—ketika mendekati akhir milenium kita dapat melihat apa yang terjadi.

Bekerja untuk membangun cara hidup yang lebih menyenangkan telah membuat kita merasa lebih lengkap luar-dalam, menjadikan hidup kita tergantung pada materi. Materi telah menjadi alasan untuk hidup. Dan setahap demi setahap, secara metodologis, kita telah melupakan pertanyaan semula. Kita lupa bahwa kita masih belum tahu untuk apa kita bertahan hidup.

Yang menjadi persoalan ialah kita yang terfokus dan obsesif untuk menaklukkan alam dan membuat kita sendiri lebih nyaman ini telah menyebabkan sistem alamiah planet ini tercemar dan berada di ambang kehancuran. Kita tak bisa meneruskan cara ini.

Obsesi ini, menurut Manuskrip, sesungguhnya merupakan suatu perkembangan yang diperlukan, suatu tahap dalam evolusi manusia. Hanya saja kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mendekatkan diri dengan dunia. Kini tiba waktunya untuk sadar dan bangun dari obsesi ini dan mempertimbangkan lagi pertanyaan semula. Apa yang ada di balik kehidupan di planet ini? Mengapa kita berada di situ?

Celestine Prophecy: Sembilan Wawasan Pertama

Celestine Prophecy: Sembilan Wawasan Pertama

Celestine Prophecy: Sembilan Wawasan Pertama

Celestine Prophecy, yang mana semua karakter menyebutnya dengan “Manuskrip” tidak pernah dikutip secara langsung – yang merupakan hal yang baik, mengingat ditulis dalam bahasa Aram – sehingga tidak ada pernyataan resmi dari sembilan wawasan. Orang-orang yang telah membaca Manuskrip bicara tentang wawasan-wawasan, tetapi tidak pernah memberikan pernyataan secara langsung. Satu meta-wawasan adalah bahwa individu yang berbeda tertarik pada wawasan tertentu. Satu pemahaman mungkin muncul “khusus”. Jika demikian, individu tersebut mungkin datang untuk melayani perkembangan kesadaran manusia dengan mengajar atau memfasilitasi asimilasi wawasan orang-orang yang lainnya.

1. Peristiwa-peristiwa Kebetulan yang Bermakna.

Wawasan Pertama Celestine Prophecy memaparkan bahwa kita berada pada titik dalam sejarah perkembangan kesadaran manusia di mana pembangunan akan berkembang cepat. Bukti utama untuk ini adalah peningkatan jumlah peristiwa-peristiwa kebetulan yang bermakna. Orang-orang memperhatikan dalam kehidupan mereka.

Komentar :

Saya melihat ide Carl Jung tentang sinkronisitas dalam kebetulan-kebetulan yang bermakna. Adapun peningkatan jumlah, juga, jumlah peristiwa dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih besar daripada generasi sebelumnya. Saya setuju bahwa kita telah mencapai titik di mana laju pembangunan semakin meningkat, tapi saya melihat ini adalah berkaitan dengan peningkatan ketersediaan informasi.

Hal ini juga berkontribusi terhadap popularitas buku yang bersangkutan. Dalam setiap zaman, telah ada keinginan untuk mendengar bahwa peristiwa besar akan datang lewat sekarang.

Pertimbangkan apa yang kebetulan adalah: hubungan yang menurut pandangan dunia dipandang sebagai tidak berarti. Jika Anda akan mengklaim bahwa pandangan dunia kita saat ini entah bagaimana tidak lengkap, maka tempat yang jelas untuk mencari bukti pendukung adalah menemukan makna dalam hubungan ini.

Beberapa kebetulan dalam buku ini lebih baik digambarkan sebagai komunikasi dari bawah sadar. Sejak Freud, para psikolog telah mengakui bahwa pikiran-pikiran liar, lamunan, dan kenangan adalah tidak benar-benar acak.

2. Perspektif Sejarah.

Dalam Wawasan Kedua Celestine Prophecy dipaparkan bahwa pada titik ini dalam sejarah manusia dapat dipahami dengan sangat baik oleh Revisioning milenium terakhir. Pada bagian awal milenium, kesadaran manusia didominasi oleh keyakinan yang diumumkan oleh Gereja Katolik: salah satu tempat yang layak dalam masyarakat, umat manusia di pusat alam semesta, dan pertempuran antara kebaikan dan kejahatan. Keyakinan ini memberi arti bagi kehidupan. Dominasi ini ditantang selama Era Renaissance dan Reformasi. Pada saat itu, umat manusia membentuk sebuah proyek besar untuk mengeksplorasi dunia, dengan menggunakan perangkat ilmu pengetahuan, dengan harapan mendapatkan jawaban baru tentang makna kehidupan. Sambil menunggu jawabannya datang, perhatian beralih ke kenyamanan materi meningkat. Proyek yang sekarang di akhir – kenyamanan materi telah tercapai, tapi kita telah kehilangan kontak dengan sumber-sumber makna. Selain itu, jawaban yang kita inginkan sekarang muncul – tidak selalu dari ilmu pengetahuan kelembagaan, tetapi dari berbagai sumber.

Komentar :

Redfield mencampuradukkan kesadaran manusia dengan kesadaran Barat sini. Dia mengabaikan popularitas gagasan Timur di Barat selama dua abad terakhir.

Dia agak terlalu cepat menyatakan bahwa pertempuran untuk kenyamanan materi selesai. Namun, Redfield benar bahwa orang-orang di kelas terdidik kita stres sendiri atas isu-isu material yang semakin berkaitan dengan kelangsungan hidup mereka. Bahwa kita telah kehilangan kontak dengan sumber-sumber makna pada dasarnya sama seperti apa yang Moore katakan tentang Perawatan Jiwa.

3. Energi Halus.

Celestine Prophecy, dalam Wawasan Ketiga, menyebutkan bahwa ada sebuah energi, yang sebelumnya tidak terdeteksi oleh ilmu pengetahuan, yang membentuk dasar dari segala sesuatu. Persepsi manusia akan energi yang dimulai dengan peningkatan kesadaran terhadap keindahan: orang, binatang, tanaman, ekosistem yang memiliki tingkat energi yang tinggi yang muncul sangat indah. Dengan menjadi sadar akan energi itu, kita menjadi mampu melihat kapan dan bagaimana kita memberi dan menerima energi.

Komentar :

Fokus pada kecantikan dan keajaiban lagi mengingatkan kita akan Moore. Gagasan bahwa ada energi halus untuk dilihat – aura, misalnya – adalah ide yang sangat tua di Timur. Para Theosofis membawanya ke Barat di abad ke-19, dan Anda dapat melihatnya dibahas dalam literatur populer masa itu – cerita pendek Kipling “Mereka”, misalnya. Ini telah membuat muncul kembali dalam beberapa dekade terakhir – bandingkan Don Juan yang mengajar Carlos “melihat” dalam Perjalanan ke Ixtlan. Aku sendiri belum pernah melihat energi halus, tetapi kenyataan bahwa gagasan menolak untuk mati harus membuat orang bertanya-tanya.

4. Perebutan Energi.

Asumsi paling dasar yang mendasari interaksi yang paling manusia yang dijelaskan dalam Wawasan Keempat Celestine Prophecy: kita harus bersaing untuk energi ini, menariknya dari orang lain dan melindungi diri sendiri dari upaya orang lain untuk menarik dari kami. Hal ini menyebabkan beberapa interaksi kotor.

Komentar :

Tidak ada yang meragukan bahwa kita terus saling bersaing untuk perhatian, penghormatan, prestise, dll, atau bahwa hasrat untuk mendapatkan barang-barang psikologis dengan mengorbankan orang lain adalah sumber dari banyak gesekan sosial di dunia. Satu-satunya aspek yang tidak lazim dari wawasan ini adalah klaim bahwa barang-barang adalah bentuk sebenarnya berbeda dari energi yang terlihat. Sekali lagi, para Theosofis akan diakui semua ide-ide, dan vampir energi telah menjadi topik yang baik dibahas di kalangan okultisme selama beberapa dekade. Lihat, misalnya, Dion Fortune Bela Diri Psikis.

5. Kelimpahan energi.

Dalam Wawasan Kelima Celestine Prophecy dikisahkan bahwa pada kenyataannya, persaingan tidaklah diperlukan karena energi halus ada dalam kelimpahan. Secara khusus, kita bisa mendapatkan lebih dengan makan tanaman yang memiliki tingkat energi yang tinggi. (Dan kita dapat memastikan bahwa tanaman memiliki tingkat energi yang tinggi dengan membayar perhatian kepada mereka, dengan memberi mereka energi.) Berada di sebuah negara yang penuh kasih tidak hanya menghubungkan energi kita kepada objek cinta kita, tetapi kepada sumber energi yang lebih besar. Ini adalah esensi dari pengalaman mistik. Tujuan dari praktik mistik – dan praktek pelajaran dari Celestine Prophecy – adalah untuk mendapatkan dan tetap terhubung dengan energi. Selain itu, energi seseorang adalah sumber dari kebetulan yang berarti melihat dalam Wawasan Pertama. Setiap pengalaman mistik membentang potensi seseorang, menyebabkan mereka untuk eksis “pada tingkat getaran yang lebih tinggi”.

Deskripsi terbaik dari semua ini datang sedikit kemudian dalam buku ini. Pater Sanchez mengatakan, “Cinta bukan suatu konsep intelektual atau perintah moral atau apa pun. Ini adalah emosi latar belakang yang ada ketika seseorang terhubung dengan energi yang tersedia di alam semesta, yang, tentu saja, adalah energi Tuhan.” [halaman 153]

Komentar :

Gagasan tentang sumber energi di luar diri kita adalah akar dari hampir agama apapun. Kelimpahan energi (jika ada yang terbuka untuk itu) adalah mirip dengan konsep “kasih karunia” dalam Peck’s The Road Less Travelled. Bahwa gudang penyimpanan energi seseorang menyebabkan kebetulan bermakna mengingatkan saya pada gagasan Casteneda tentang “kekuatan pribadi”. Menaikkan tingkat getaran seseorang adalah ide teosofi lain – yang sejalan dengan fisika abad ke-19 (yang tampak pada semua bentuk energi sebagai getaran dalam media materi) sedikit lebih baik daripada sejalan dengan fisika saat ini.

6. Menjadi jelas.

Dalam rangka untuk berada dalam keadaan cinta dengan dunia secara teratur, kita harus melepaskan pola-pola perilaku yang kita dikembangkan untuk mengambil energi dari orang lain. Ada dua hal yang dijelaskan dalam Wawasan Keenam Celestine Prophecy yang harus kita lakukan:

Pertama, kita harus menyadari “drama kontrol” kita dan mengakhiri kebiasaan kita mengontrol. Ada empat pola kendali atau cara menyebabkan orang lain untuk memberi kita energi, dua secara aktif menuntut energi, dua secara pasif menciptakan kondisi di mana energi dikirim. Drama pengendalian “aktif” termasuk intimidasi dan interogasi – mengajukan pertanyaan dan kemudian memilih jawaban terpisah. Drama pengendalian “pasif” meliputi sikap menyendiri – menciptakan suasana misteri yang membujuk orang lain untuk mengirim energi – dan “miskin aku” – menciptakan perasaan bahwa jika orang lain tidak memberikan energi, sesuatu yang buruk akan terjadi pada pengendali.

Kedua, kita harus “mendapatkan kejelasan” dari drama pengendalian kita. Kita harus memahami drama pengendalian orangtua kita dan bagaimana ini membentuk diri kita. Maka kita harus belajar apa arti kehidupan orang tua kita bagi kita, dan bagaimana ini bekerja sendiri menentukan pekerjaan pengembangan diri kita. Hal yang akan berubah pada kita tentang orang tua kita – secara individu maupun bersama – adalah apa yang kita butuhkan untuk bekerja di dalam hidup kita sendiri.

Komentar :

“Menjadi jelas” adalah istilah yang digunakan dalam Dianetics.

Hampir semua sekolah mengajarkan bahwa psikoterapi untuk tumbuh, pertama-tama, kita harus belajar meninggalkan pola-pola yang terbentuk di masa kecil kita dalam menanggapi pola orangtua kita. Wawasan Keenam menerjemahkan ide ini menjadi terminologi Redfield. Aku tidak menjalankan ke dalam tipologi tertentu (yaitu drama pengendalian empat) sebelumnya.

7. Menggunakan suara hati (intuisi).

Wawasan Ketujuh Celestine Prophecy menjelaskan bahwa segera setelah kita berhubungan dengan energi, bebas dari drama pengendalian kita, dan sadar akan pertanyaan yang relevan untuk saat ini, intuisi kita memasok jawaban-jawaban yang kita butuhkan. Setelah kita sadar jawaban ini, kita hanya perlu mengamati peristiwa-peristiwa kebetulan yang bermakna untuk menunjukkan kepada kita bagaimana harus bertindak pada mereka.

Komentar :

Bagaimana menyatukan intuisi (atau “kebijaksanaan batin”, begitu beberapa buku menyebutnya) dengan kecerdasan rasional adalah salah satu tantangan besar era ini, menurut pendapat saya. Sebuah buku besar mengatakan sesuatu tentang hal itu. Dalam Tujuh Hukum Rohani Sukses, Chopra menulis “Dalam kesediaan saya untuk menerima ketidakpastian, solusi akan muncul secara spontan keluar dari masalah, keluar dari kebingungan, gangguan, dan kekacauan.” Ada cukup kesepakatan umum tentang bagaimana mengakses intuisi, dan Redfield mendeskripsikannya sebaik Anda akan menemukannya. Ada ketidaksepakatan yang patut dipertimbangkan tentang apa yang harus dilakukan dengan jawaban intuitif setelah Anda menemukan mereka. Jika Anda tidak melakukan pekerjaan yang cukup baik untuk mendapatkan yang jelas, jawaban intuitif Anda kemungkinan akan destruktif – sehingga beberapa jenis pengujian diperlukan. Redfield melakukannya (tes) dengan mencari pendukung kebetulan.

8. Berhubungan dengan orang lain.

Wawasan Kedelapan Celestine Prophecy ini datang dalam beberapa bagian.

  • Anak-anak dapat dibesarkan tanpa drama pengendalian jika mereka memiliki konstan, akses penuh untuk seorang dewasa yang bisa memberikan energi yang mereka butuhkan.
  • Pembangunan dapat diblokir oleh sebuah “kecanduan pada orang lain”. Energi yang halus memiliki sisi laki-laki dan perempuan. Jika Anda dapat mengakses yang satu dan orang lain yang lainnya, maka untuk waktu yang singkat pasangan bisa diisi dengan energi. Tetapi fokus pada orang lain akhirnya memotong masing-masing dari energi universal. Keduanya mulai bersaing memperebutkan energi, memulai ulang drama pengendalian. Ini adalah fenomena falling-in-love/falling-out-of-love.
  • Setiap orang yang melintasi jejak kita memiliki pesan untuk kita. Kita harus memberikan mereka energi dan membantu mereka mendapatkan yang jelas sehingga mereka dapat secara akurat menyampaikan pesan.
  • Drama pengendalian oleh orang lain akan berakhir jika kita mengenalinya dan menolak untuk memainkan peran di dalamnya.

9. Evolusi sadar.

Wawasan Kesembilan Celestine Prophecy ini adalah visi budaya di milenium berikutnya.

Manusia secara sadar berpartisipasi dalam evolusi mereka dengan hidup menurut intuisi mereka, yang memandu mereka sedemikian rupa untuk meningkatkan energi mereka. Populasi menurun begitu banyak sehingga sebagian besar dunia dapat diizinkan untuk kembali ke padang gurun, menciptakan pertumbuhan hutan tua penuh energi. Sarana kelangsungan hidup otomatis dan tersedia untuk semua orang. Rasa tujuan adalah dipuaskan dengan “getaran evolusi kita sendiri”. Orang akan mengkonsumsi lebih sedikit dan bekerja kurang sehingga mereka dapat bekerja pada evolusi mereka. (Redfield adalah ambigu tentang hal ini: konsumsi lebih rendah mungkin tidak diperlukan karena orang akan membayar Anda untuk wawasan rohani Anda “Ketika orang datang ke dalam kehidupan kita pada waktu yang tepat untuk memberi kita jawaban yang kita butuhkan, kita harus memberikan mereka uang.”. [halaman 226])

Tujuan dari evolusi ini adalah untuk mencapai tingkat getaran yang membuat kita tidak terlihat oleh orang lain, bahkan mungkin tidak penting. Yesus adalah yang pertama untuk melakukan ini, dan individu-individu sporadis akan terus melakukannya. (Mentor tokoh utama melakukannya dalam kesimpulan buku.) Tujuan utamanya adalah untuk kelompok besar untuk “menyeberang” bersama dalam “pengangkatan umum”. Bangsa Maya diduga telah melakukan ini.

Komentar :

Redfield membuat tujuan Peck tentang “tumbuh ke arah Ketuhanan” sangat eksplisit dan literal di sini. Visi secara bersamaan ekologi, teknologi, dan spiritual. Saya tidak heran bahwa orang telah tertarik.

Ide menciptakan kembali tubuh Anda pada “tingkat getaran yang lebih tinggi” sehingga dapat terwujud dan tidak akan kembali setidaknya ke alkemis. Itu muncul dalam berbagai tradisi misteri Barat.

Prediksi bahwa kita akan pergi berkeliling menyerahkan uang kepada siapa pun yang memberi kita wawasan rohani tampaknya aneh bagi saya. Untuk satu hal, itu akan memaksa kita untuk mengukur wawasan spiritual kita, yang sedikit sulit untuk digambarkan. (Apakah ini sebuah wawasan $ 10 atau wawasan $ 100? Apakah pantat Anda keluar untuk memberitahu seseorang rahasia hidup dan mereka memberi Anda dolar untuk itu?) Banyak orang berfantasi bahwa mereka dapat melepaskan diri dari ekonomi dunia dan mendapatkan bayaran untuk “menjadi rohaniah”. Saya ragu ini akan menjadi sehat bahkan jika Anda bisa melakukannya. Jika orang tidak bisa mencari cara untuk membatasi kebutuhan materi mereka dan menyediakannya secara lebih sederhana, mereka semua tidak dapat maju. Memberi mereka sejumlah besar uang dalam pertukaran untuk wawasan mereka seharusnya tidak perlu.

Sumber : Internet Gurus

(www dot gurus dot org/dougdeb/Courses/bestsellers/Celestine/Insights dot htm)