Tag: medan energi

Konsep Menyerap Energi Dan Memproyeksikannya Kembali

Konsep Menyerap Energi Dan Memproyeksikannya Kembali

Konsep Menyerap Energi Dan Memproyeksikannya Kembali

Melanjutkan pembahasan tentang cinta kasih, tentu saja Anda tidak dapat membuat diri Anda serta-merta mencintai, melainkan Andalah yang mengizinkan perasaan senang memasuki diri anda. Tetapi untuk melakukan ini, Anda harus memposisikan pikiran anda dengan mengingat bagaimana rasanya dan mencoba untuk merasakannya lagi.

Misalnya saja pada kasus menikmati pemandangan indah dengan pepohonan di kaki bukit. Secara bertahap, Anda mulai mengagumi bentuk dan kehadirannya. Apresiasi Anda tumbuh sampai Anda benar-benar merasakan emosi cinta. Perasaan ini mungkin mirip seperti perasaan ketika Anda masih kecil terhadap ibu Anda atau perasaan ketika Anda remaja kepada gadis istimewa yang menjadi obyek cinta monyet Anda. Namun meskipun Anda telah melihat pemandangan yang indah itu, perasaan kasih yang khas ini ada sebagai perasaan yang umum menyeluruh. Anda jatuh cinta atau mengasihi pada segala hal.

Bilamana hal ini mampu Anda lakukan, Anda akan menerima energi dari alam di sekitaran pemandangan. Prosesi penerimaan energi dari alam ini akan ditandai dengan medan energi Anda yang semakin membesar. Prosesi ini dapat terlihat oleh orang lain yang menginginkan untuk melihatnya, yaitu dengan memposisikan diri agak menjauh beberapa meter dan menatap ke arah Anda dengan intens (hal ini telah dijelaskan caranya pada Wawasan Keempat).

Taruhlah yang Anda jadikan obyek proyeksi adalah salah satu pohon di dekat Anda. Tahap selanjutnya, pejamkan mata dan coba untuk mencapai perasaan-perasaan intens menjadi satu rangkaian kesatuan. Cobalah pahami bahwasanya hidup Anda dan semua yang sudah Anda alami—terutama ditambah dengan pengalaman baru bersama alam pemandangan di sekeliling Anda—adalah suatu anugerah, suatu terobosan, suatu cara pandang pada suatu jalan baru. Sekarang Anda harus belajar untuk mendapatkan pengalaman itu sendiri, sedikit demi sedikit.

Pejamkan mata dan coba rasakan secara mendalam. Aliran emosi/perasaan akan datang membanjiri Anda. Tinggallah bersama banjir aliran emosi itu dan coba tingkatkan rasa sedikit demi sedikit, kemudian buka mata dan fokuskan perhatian pada pohon itu. Anda akan menerima energi dan memberikannya kepada pohon itu.

Ketika Anda menghargai atau mengapresiasi keindahan dan keunikan benda-benda, Anda menerima energi. Dan ketika Anda sampai ke tingkat di mana Anda merasakan cinta, maka Anda dapat mengirimkan kembali energi tersebut sesuai kehendak Anda. Semakin Anda memusatkan perhatian pada pohon dan mengagumi bentuk dan warnanya, semakin besar pula cinta yang Anda terima, sebuah pengalaman yang tidak biasa. Bayangkan energi Anda—yang tidak dapat Anda lihat—mengalir keluar dan mengisi pohon.

Hal ini sama halnya dengan proyeksi energi pada tanaman sebagaimana telah dibahas pada Wawasan Ketiga. Hanya yang membedakan adalah bahwa ketika itu kita belum menyadari pentingnya keberadaan perasaan cinta selama proyeksi energi berlangsung. Kita telah belajar mengalaminya tanpa menyadarinya.

Demikianlah Anda telah mengetahui bagaimana cara menyerap energi dan kemudian memproyeksikannya kembali (konsep menyerap energi dan memproyeksikannya kembali). Dengan mengingat cinta kasih yang pernah Anda rasakan, Anda dapat membuka diri.

Perasaan Terhubungkan Dengan Energi

Perasaan Terhubungkan Dengan Energi

Perasaan Terhubungkan Dengan Energi

Segala sesuatu di sekitar kita memiliki energi. Tetapi masing-masing memiliki jenisnya sendiri-sendiri. Itulah mengapa beberapa tempat tertentu dapat meningkatkan energi lebih dari yang lainnya tergantung pada bagaimana kecocokan situasi Anda dengan bentuk energi yang ada di sana.

Bagaimana kita melakukannya?

Anda harus terbuka, menghubungkan diri, menggunakan indera apresiasi Anda terhadap lingkungan di sekeliling Anda, seperti pada cara Anda melihat medan energi. Tetapi Anda harus mengambil satu langkah lebih jauh sehingga dapat merasakan sensasi seperti terpenuhi. Anda akan merasakan perasaan seperti ringan, aman, dan terhubungkan.

Seberapa terhubungkankah?

Ini agak sulit dijelaskan memang. Seolah-olah seluruh ruang di sekeliling Anda menjadi bagian dari diri Anda. Terhanyut larut dalam perasaan cinta kasih atau senang. Anda akan merasakan cinta kasih terhadap segalanya, terhadap lingkungan di sekeliling Anda dan segala isinya. Cinta kasih yang begitu saja terjadi.

Terhubungkan dengan energi terasa seperti kegembiraan atau kegairahan, kemudian euforia bahagia lahir-batin yang melimpah, dan kemudian cinta kasih. Menemukan cukup energi untuk mempertahankan keadaan hati dalam cinta pastilah membantu dunia, tetapi dampak paling langsungnya adalah membantu kita sendiri. Ini adalah hal yang paling hedonistik yang bisa kita lakukan.

Namun demikian, patut untuk diketahui di sini bahwa peran cinta kasih pernah telah disalahpahami untuk waktu yang lama. Cinta bukanlah sesuatu yang harus kita lakukan untuk menjadi baik atau untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Cinta kasih bukan berasal dari tanggung jawab moral yang abstrak, bukan pula sesuatu yang harus kita lakukan karena kita harus meninggalkan hedonisme kita.

Lain pula halnya dengan pengalaman mistis, mungkin Anda telah pula mengalaminya bahkan jauh sebelum Anda membaca artikel-artikel tentang Manuskrip ini. Ketika seseorang telah mengalami pengalaman mistis, akan jauh lebih mudah baginya untuk kembali ke keadaan ini dan meningkatkan tingkat energinya sendiri. Orang lain juga dapat terhubungkan tetapi memerlukan waktu lebih lama. Sebuah memori yang kuat akan pengalaman itu, diduga, memfasilitasi terjadinya pengulangan itu. Setelah itu, orang perlahan-lahan membangun kembali pengalaman mistisnya.

Bilamana hal terhubungkan dengan energi itu terjadi, medan energi orang itu akan terlihat bertambah besar ke arah luar dan sedikit berubah warnanya, biasanya dari putih kusam menuju hijau dan biru. Tapi yang paling penting adalah bahwa energinya mengembang.

Misalnya selama perjumpaan mistis pada artikel sebelumnya, energi Anda memancar keluar ke seluruh alam semesta. Pada dasarnya Anda terhubungkan dan menarik energi dari seluruh kosmos dan pada gilirannya energi Anda menggelembung mencakup segala benda, segala tempat. Anda akan merasa seolah-olah seluruh alam semesta adalah tubuh Anda dan Anda hanyalah kepala, atau mungkin lebih tepatnya, mata. Ya, dan pada saat itu, medan energi Anda dan medan energi alam semesta adalah sama. Alam semesta adalah tubuh Anda.

Konsep Dinamika Energi Mengontrol Dan Mendominasi

Konsep Dinamika Energi Mengontrol Dan Mendominasi

Konsep Dinamika Energi Mengontrol Dan Mendominasi

Wawasan Ketiga adalah wawasan yang menakjubkan. Di mana dalam wawasan tersebut dijelaskan bahwa siapapun dapat benar-benar melihat medan-medan energi untuk kemudian diproyeksikan kepada tanaman dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Ini mempengaruhi potensi gizi mereka juga.

Tetapi wawasan utama sebenarnya dari Wawasan Ketiga lebih luas dari itu. Wawasan Ketiga mengatakan bahwa alam semesta secara keseluruhan terdiri dari energi ini dan kita bukan hanya dapat mempengaruhi tanaman tapi kita juga dapat mengontrol hal-hal lainnya hanya dengan energi yang kita miliki, termasuk mempengaruhi orang lain dengan energi kita dengan berusaha mengunggulinya bahkan sampai ke titik menghancurkan kepercayaan (diri) lawan bicara.

Baca juga:

Gerakan energi ini, jika kita amati secara sistematis, adalah cara untuk memahami apa yang manusia terima ketika saling bersaing dan berdebat atau bahkan ketika manusia saling menyakiti satu sama lain. Ketika kita mengendalikan manusia lain, kita menerima energi mereka. Kita mengisi diri kita dengan pengorbanan orang lain dan pemenuhan diri itulah yang memotivasi kita.

Kita manusia secara tidak sadar memiliki kecenderungan untuk mengontrol dan mendominasi orang lain. Kita ingin merebut energi yang ada pada orang lain. Energi itu, entah bagaimana, akan membangun kita, membuat kita merasa lebih baik.

Agar dapat mengontrol dan menang atas orang lain terkadang manipulasi atas perspektif lawan bicara pun dilakukan, misalnya dengan mengatakan bahwa si lawan bicara sedang dalam bahaya dan bahwa dia harus bergabung dengan kita karena kita dapat membantunya mengatasi bahaya atau masalah yang sedang menimpa dirinya, kemudian mengemukakan argumen-argumen yang menguatkan pernyataan kita pada si lawan bicara sehingga si lawan bicara tersebut menjadi benar-benar ketagihan. Hal ini menyebabkan energi si lawan bicara mengalir hampir seluruhnya ke dalam diri kita.

Jika Anda telah mengetahui bahwa diri Anda menang—meyakinkan lawan bicara Anda bahwa Anda benar—maka Anda akan melihat sesosok pecundang, energi mengalir kepada pemenang. Anda akan melihat lawan bicara Anda merasa terkuras, lemah, dan agak kalut pikirannya, sebagaimana contoh anak dan orang tua pada artikel sebelumnya.

Baca juga: Dinamika Energi Dalam Hubungan Orang Tua Dan Anak

Dinamika Energi Dalam Hubungan Orang Tua Dan Anak

Dinamika Energi Dalam Hubungan Orang Tua Dan Anak

Dinamika Energi Dalam Hubungan Orang Tua Dan Anak

Studi di bidang konflik telah mengamati masalah mengapa manusia saling memperlakukan dengan kasar. Para ahli di bidang ini mengetahui bahwa kekerasan datang dari dorongan yang dirasakan manusia untuk saling mengontrol dan menguasai.

Mereka mengajukan pertanyaan apa yang terjadi di dalam diri manusia, yang membuatnya ingin mengendalikan orang lain? Jawaban yang mereka temukan adalah bahwa bila seseorang bertemu dengan orang lain dan terlibat percakapan, satu di antara dua hal dapat terjadi : orang itu dapat merasa kuat atau lemah sehabis pertemuan itu tergantung apa yang terjadi dalam interaksi tersebut.

Dengan alasan inilah maka manusia (kita) selalu mengambil sikap manipulatif, tak peduli apa pun situasi maupun pokok persoalannya, kita menyiapkan diri untuk mengatakan apapun yang harus kita katakan agar menang dalam pembicaraan. Kita masing-masing berusaha menemukan suatu cara untuk memegang kendali dan dengan begitu berada di posisi atas. Bila kita berhasil, bila sudut pandang kita unggul, kita tidak lagi merasa kekurangan energi melainkan menerima penguatan psikologis. Dengan kata lain, manusia (kita) berusaha saling mengecoh dan mengendalikan, bukan semata-mata karena tujuan nyata di dunia luar yang kita coba raih, melainkan karena adanya perasaan terangkat yang kita terima secara psikologis. Inilah alasan mengapa kita melihat begitu banyak konflik irasional di dunia, baik di tingkat perorangan maupun di tingkat bangsa-bangsa.

Seluruh persoalan ini kini muncul di dalam kesadaran publik. Kini kita menyadari bahwa betapa banyak di antara kita saling memanipulasi dan sebagai akibatnya kita tengah mengevaluasi kembali motivasi-motivasi kita. Kita tengah mencari cara baru untuk berinteraksi.

Contoh klasik mengenai tindak kekerasan psikologis seperti orang tua yang seringkali memarahi anaknya setiap kali si anak melakukan kesalahan, karena di mata sang orang tua kesempurnaan adalah tuntutan mutlak kepada si anak. Karena sakit hati, amarah sang anak pun meledak dan ia pun lari meninggalkan sang orang tua.

Itulah yang terjadi bila kebutuhan manusia untuk mengontrol orang lain sampai ke tingkat ekstrim. Sang orang tua (pasangan suami isteri) tadi menguasai sepenuhnya si anak. Mereka tidak pernah berhenti bersikap keras terhadap anak mereka sehingga dari sudut pandang si anak, ia tidak punya pilihan lain kecuali menyerang balik dengan garang. Itulah satu-satunya cara ia memperoleh kembali kontrol untuk dirinya sendiri. Celakanya ketika ia tumbuh, karena trauma masa kecilnya ini, ia akan beranggapan harus merebut kontrol dan menguasai orang lain dengan intensitas yang sama. Sifat-sifat khas ini akan tertanam dalam-dalam dan akan membuatnya suka mendominasi persis seperti yang dilakukan orangtuanya kepadanya, terutama bila ia dekat dengan orang yang mudah diserang, misalnya anak-anak (yang lebih kecil atau lebih muda darinya).

Sesungguhnyalah, trauma yang sama ini tak ayal lagi juga terjadi pada orang tuanya dulu. Mereka sekarang harus mendominasi sebagai akibat orang tua mereka dulu mendominasi mereka. Itulah sarana yang mengantarkan diwariskannya tindak kekerasan psikologis dari suatu generasi kepada generasi berikutnya.

Sebagaimana Wawasan Ketiga tentang melihat medan energi, dalam kasus kekerasan orang tua yang menuntut kesempurnaan terhadap anaknya di atas, akan terlihat pergerakan energi di antara anggota keluarga itu di mana si orang tua seakan-akan menghisap energi si anak ke dalam diri mereka hingga si anak seolah-olah hampir mati kehabisan energi. Hal inilah yang biasanya menyebabkan si anak berbalik menyerang (menangkis) orang tuanya guna merampas kembali energinya yang telah habis diserap oleh orang tuanya.

Baca juga: Melihat Medan Energi

Dinamika Medan Energi

Dinamika Medan Energi

Dinamika Medan Energi

Seperti telah dijelaskan pada Wawasan Ketiga bahwa kita dapat melihat medan energi pada dua orang yang saling berdekatan, termasuk pada dua orang yang sedang bertengkar. Coba tempatkan diri beberapa langkah dari kedua orang tersebut dan lakukan seperti yang kita lakukan pada jari kita. Akan tampak seakan-akan medan energi kedua orang tersebut tumbuh menjadi lebih padat seolah-olah terimbas oleh getaran dari dalam. Ketika mereka sedang bertengkar akan tampak medan energi mereka sedang bercampur. Bila seorang di antaranya mengajukan argumentasi, medan energinya membuat gerakan yang seolah menghisap medan energi lawan bicaranya dengan cara seperti menyedot dari bejana kosong. Tetapi manakala lawan bicaranya menangkis, energi tadi bergerak kembali ke arah dirinya.

Baca juga: Melihat Medan Energi

Dalam dinamika medan energi, memenangkan satu gagasan berarti merebut dan menarik sebagian medan energi lawan bicaranya ke dalam dirinya. Wawasan Keempat berbicara mengenai bagaimana manusia bersaing dan memperebutkan energi. Di situ dikatakan bahwa akhirnya manusia akan melihat alam semesta terdiri dari satu energi dinamis, energi yang menopang kita dan menanggapi harapan-harapan kita. Namun kita juga akan melihat bahwa kita telah terputus dari sumber energi yang lebih besar, bahwa kita telah melepaskan diri, dan dengan begitu merasa lemah, tidak aman, dan kekurangan.

Baca juga: Visi Wawasan Ketiga: Transformasi Pemahaman Tentang Semesta Dunia Fisik

Menghadapi defisit ini, manusia senantiasa berupaya meningkatkan energi pribadi mereka dengan satu-satunya cara yang diketahuinya : berusaha secara psikologis mencurinya dari orang lain—suatu persaingan di luar kesadaran—yang mendasari semua konflik manusia di dunia.

Manfaat Pencerapan Energi

Manfaat Pencerapan Energi

Manfaat Pencerapan Energi

Kita harus sadar bahwa perhatian atau pencerapan pada medan-medan energi bukanlah hanya sekedar untuk menimbulkan sensasi seni di luar realitas, melainkan juga untuk membuat hal-hal seputar diri kita menjadi lebih kokoh dan nyata daripada sebelumnya. Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan ialah melihat keindahan dan mengembangkannya.

Manfaat pencerapan energi antara lain :

  1. Membangunkan reseptor-reseptor malas yang tertidur pada orang-orang buta warna.
  2. Meningkatkan efisiensi organ tubuh dan reaksinya terhadap lingkungan tertentu, misalnya meningkatkan konsentrasi sehingga kita dapat berpikir dengan lebih jernih dan lebih cepat.

Wawasan Ketiga bicara lebih terperinci tentang keindahan. Persepsi keindahan dilukiskan sebagai persepsi yang mengantar manusia akhirnya belajar mengamati medan-medan energi. Setelah ini terjadi, menurut Manuskrip, maka pemahaman kita tentang alam semesta segera akan mengalami transformasi. Misalnya, kita akan mulai mengkonsumsi lebih banyak makanan yang masih banyak mengandung energi; dan kita akan sadar bahwa tempat-tempat tertentu menyinarkan lebih banyak energi daripada tempat lain, sedangkan radiasi tertinggi datang dari lingkungan-lingkungan alamiah tua, terutama hutan. Energi dari tempat-tempat tersebut dapat membuat kita membubung tinggi bagai layang-layang. Dan sebaliknya, dapat menimbulkan efek, seperti merasa murung, bila meninggalkan tempat tersebut kalau saja kita tidak menyalakan kembali energi kita sendiri.

Baca juga: Persepsi Atas Energi: Apresiasi Terhadap Keindahan

Melihat Medan Energi

Melihat Medan Energi

Melihat Medan Energi

Ada dua periode yang paling baik untuk dapat melihat medan energi dalam sehari, yaitu waktu matahari terbenam dan waktu matahari terbit. Selanjutnya, awalan untuk dapat melihat medan energi, kita dapat mulai dengan memandangi jari-jari tangan kita. Dengan berlatar langit biru sore atau pagi hari tersebut, coba sentuhkan pucuk jari-jari telunjuk kita satu dengan yang lain. Lalu pisahkan sedikit ujung-ujung jari kita dan pandanglah wilayah di antara dua pucuk jari itu. Apa yang terlihat? Keluarkan pandangan kita sedikit dari fokus dan gerakkan ujung jari saling mendekat lalu pisahkan mereka saling menjauhi secara perlahan-lahan. Tempatkan tatapan kita pada wilayah di antara kedua jari hingga kedua jari kita menjadi terlihat sedikit samar-samar. Dan ketika itu terjadi, akan terlihat sesuatu seperti benang-benang asap merentang di antara ujung-ujung jari. Coba mainkan sebentar.

Setelah itu coba lagi dengan menggunakan empat jari bersamaan, kemudian telapak tangan dan lengan bawah. Pada setiap gerakan akan terlihat benang-benang energi di antara bagian-bagian tubuh.

Kita juga bisa melihat medan energi orang lain. Coba tempatkan diri beberapa langkah dari orang yang ingin kita lihat medan energinya sedemikian rupa sehingga langit akan langsung berada di belakang orang itu. Lakukan seperti yang kita lakukan pada jari kita. Perihal melihat medan energi orang lain ini dapat juga dilakukan pada dua orang yang saling berdekatan (hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada Wawasan Keempat).

Selanjutnya, kita dapat melakukannya juga pada panorama atau keindahan yang ada di sekitar kita. Coba fokuskan pandangan pada sebuah pohon besar secara total, bukan hanya pada satu bagian tertentu saja melainkan pada bentuk keseluruhannya. Pohon itu akan tampak lebih terang. Bila hal tersebut sudah terjadi, berikan apresiasi lebih pada mereka sehingga keunikan dan kehadiran mereka mencuat. Lalu longgarkan fokus pandangan. Fokuskan ke arah satu sisi bagian fisik pohon—biasanya pada titik di tengah-tengah dedaunan rimbunnya—lambat laun akan tampak selintas cahaya. Coba sesuaikan fokus pandangan agar gelembung cahaya putih yang mengelilingi pohon tersebut dapat terlihat baik oleh kita. Gelembung cahaya putih itulah medan energi pohon tersebut. Bila kita tambahkan apresiasi lebih besar lagi seakan-akan kita memompanya dengan energi, medan energi pohon akan membesar dibandingkan sebelumnya.

Baca juga:

Persepsi Atas Energi: Apresiasi Yang Lebih Mendalam Terhadap Keindahan

Persepsi Atas Energi: Apresiasi Yang Lebih Mendalam Terhadap Keindahan

Persepsi Atas Energi: Apresiasi Yang Lebih Mendalam Terhadap Keindahan

Persepsi Atas Energi: Apresiasi Yang Lebih Mendalam Terhadap KeindahanManuskrip mengatakan bahwa persepsi manusia atas energi murni ini untuk pertama kali diawali dengan meningkatnya kepekaan terhadap keindahan. Apresiasi terhadap keindahan merupakan semacam barometer yang menunjukkan kepada kita seberapa dekat kita sebenarnya dengan pencerapan energi (proses bagaimana manusia menangkap atau menyerap energi yang ada di sekelilingnya melalui indera yang dimilikinya). Segera setelah kita mengamati energi ini, kita menyadari energi berada dalam satu kesatuan dengan keindahan.

Baca juga:

Energi dapat dilihat dengan mata telanjang. Tetapi hal pertama yang mesti dikembangkan ialah apresiasi yang lebih mendalam terhadap keindahan. Bagaimana caranya, bukankah keindahan itu relatif sifatnya?

Cobalah untuk berpikir seperti ini : benda-benda yang kita persepsikan indah mungkin berbeda, tetapi ciri khas aktual yang kita akui ada pada benda-benda indah tersebut adalah sama. Bila sesuatu tampak indah di mata kita, ia lebih menunjukkan kehadiran, ketajaman bentuk, dan kecerahan warna. Ia mencuat, bersinar, dan tampak hampir seperti pelangi berwarna-warni dibandingkan dengan kepudaran benda-benda lain yang kurang menarik. Warna-warna dan bentuk-bentuk tersebut tampak seperti telah mengalami pemuliaan.

Tingkat berikutnya ialah melihat suatu medan energi melayang-layang di sekitar semua benda.

Baca juga: Melihat Medan Energi