Tag: konflik

Hubungan Antara Kejelasan Tentang Identitas Diri Dan Keterhubungan Dengan Energi

Hubungan Antara Kejelasan Tentang Identitas Diri Dan Keterhubungan Dengan Energi

Hubungan Antara Kejelasan Tentang Identitas Diri Dan Keterhubungan Dengan Energi

Sekarang ini kita sampai pada titik di mana kita secara sadar mencoba untuk membangun energi dan membereskan drama pengendalian kita.

Orang-orang tertentu dapat mengetahui jenis drama pengendalian orang lain (kita). Mereka telah melatih dan mengembangkan naluri mereka untuk itu. Mereka mempunyai tugas membantu kita mengendalikan drama pengendalian kita untuk kemudian membantu kita menemukan jati diri kita yang sebenarnya.

Bagaimana orang-orang ini membantu kita?

Hanya ada satu cara. Kita dibantu kembali ke masa lalu, ke pengalaman keluarga, ke masa dan tempat ketika kita sebagai seorang anak, dan meninjau kembali apa yang pernah terjadi. Segera setelah kita menyadari drama pengendalian kita, maka kita dapat fokus pada kebenaran yang lebih tinggi pada keluarga kita, ibarat prospek yang menjanjikan, jauh dari konflik perebutan energi. Setelah kita menemukannya, kebenaran ini bisa mengisi kehidupan kita dengan energi, karena kebenaran ini memberitahu kita siapa kita sebenarnya, jalan mana yang kita tempuh, dan apa yang akan kita lakukan.

Dalam menemukan kebenaran (tersebut), Anda akan dibimbing oleh intuisi Anda. Anda akan dibimbing kepada orang-orang yang tepat untuk diajak berbicara. Anda akan mengerti tentang hal ini setelah Anda mendapatkan kejelasan tentang siapa diri Anda dan memahami Wawasan Ketujuh. Anda tidak akan pernah bingung dan panik lagi, karena bila Anda telah memahami wawasan tersebut Anda bisa tetap begitu tenang dalam menghadapi segala situasi.

Bagaimana cara kerjanya?

Jangan campur adukkan ketenangan dengan kecerobohan. Air muka damai adalah ukuran seberapa baik kita terhubungkan dengan energi. Kita bertahan dalam keterhubungan karena itu adalah hal terbaik untuk kita lakukan, tanpa memandang keadaan sekeliling.

Memang tidak mudah berlaku demikian karena masih banyak dari kita mengalami kesulitan untuk tetap terhubung dengan energi. Namun demikian percayalah, bertahan dalam keterhubungan akan lebih mudah bagi Anda segera setelah Anda sudah tahu benar siapa diri Anda. Setelah Anda sudah memahami drama pengendalian orang tua Anda, kini Anda harus melihat ke masa lalu bagaimana persaingan energi yang ada dalam keluarga Anda dan mencari alasan sebenarnya kenapa Anda ada di sana.

Pemahaman Baru Tentang Kesadaran Mistis

Pemahaman Baru Tentang Kesadaran Mistis

Pemahaman Baru Tentang Kesadaran Mistis

Pemahaman kita tentang wawasan yang paling terakhir lalu adalah bahwa manusia terjebak dalam semacam kompetisi perebutan energi. Ketika kita berhasil membujuk orang lain untuk menyetujui pandangan kita, mereka akan memihak kita, dan itu berarti menarik energi mereka ke dalam diri kita sehingga kita merasa kuat. Jadi masalahnya adalah bahwa setiap orang mencoba untuk mengontrol dan memanipulasi satu sama lain demi memperoleh energi, karena kita merasa kekurangan energi.

Tapi ada solusi untuk hal yang satu itu, yaitu suatu sumber energi lain. Hal itu tersirat di dalam Wawasan Keempat. Wawasan Kelima menggambarkan pemahaman baru tentang apa yang telah lama disebut kesadaran mistis.

Selama beberapa dekade terakhir abad kedua puluh, menurut Wawasan Kelima, kesadaran ini akan dipublikasikan sebagai cara yang sebenarnya ingin dicapai, yaitu dengan cara sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh banyak praktisi yang menjalani agama secara terbatas. Untuk kebanyakan orang, kesadaran ini akan tetap menjadi konsep intelektual yang hanya akan dibicarakan dan diperdebatkan. Tapi untuk manusia-manusia tertentu yang jumlahnya semakin banyak, kesadaran ini akan menjadi pengalaman nyata karena orang-orang ini akan mengalami kilatan-kilatan atau gambaran-gambaran sekilas tentang keadaan mental selama perjalanan hidup mereka.

Menurut manuskrip, pengalaman ini adalah kunci untuk mengakhiri konflik manusia di dunia, karena selama pengalaman ini berlangsung, kita menerima energi dari sumber lain—sumber yang akhirnya akan kita pelajari untuk kita manfaatkan sesuka hati.

Pemahaman Tentang Wawasan Keempat

Pemahaman Tentang Wawasan Keempat

Pemahaman Tentang Wawasan Keempat

Pemahaman Tentang Wawasan Keempat adalah tentang melihat dunia manusia sebagai arena kompetisi besar untuk memperebutkan energi demikian kekuasaan.

Wawasan Ketiga telah menunjukkan bahwa dunia fisik sebenarnya adalah sebuah sistem energi yang besar. Dan sekarang Wawasan Keempat menegaskan bahwa untuk waktu yang lama kita manusia secara tidak sadar bersaing memperebutkan bagian dari energi, bagian yang mengalir di antara manusia. Inilah yang menjadi sumber konflik manusia pada setiap tingkatan : dari konflik kecil dalam keluarga dan lingkungan pekerjaan sampai pada perang antarbangsa. Ini adalah hasil dari perasaan tidak aman dan lemah dan keharusan untuk mencuri energi orang lain agar bisa merasakan kenyamananan.

Memang benar bahwasanya beberapa peperangan harus terjadi dan itu tidak sepenuhnya salah. Namun satu-satunya alasan bahwa konflik apapun tidak dapat segera diselesaikan adalah karena satu pihak berpegang pada posisi irasional, demi tujuan energi.

Secara singkat, Wawasan Keempat adalah pemahaman tentang melihat dunia manusia sebagai arena kompetisi besar untuk memperebutkan energi dan dengan demikian kekuasaan. Namun sekali manusia memahami perjuangan mereka, menurut wawasan ini, selanjutnya kita akan segera mulai mengatasi konflik ini. Kita akan mulai membebaskan diri dari kompetisi atas energi manusia belaka … karena kita akhirnya akan dapat menerima energi kita dari sumber lain.

Konsep “menerima energi kita dari sumber lain” akan dibahas lebih lanjut pada Wawasan Kelima.

Dinamika Energi Dalam Hubungan Orang Tua Dan Anak

Dinamika Energi Dalam Hubungan Orang Tua Dan Anak

Dinamika Energi Dalam Hubungan Orang Tua Dan Anak

Studi di bidang konflik telah mengamati masalah mengapa manusia saling memperlakukan dengan kasar. Para ahli di bidang ini mengetahui bahwa kekerasan datang dari dorongan yang dirasakan manusia untuk saling mengontrol dan menguasai.

Mereka mengajukan pertanyaan apa yang terjadi di dalam diri manusia, yang membuatnya ingin mengendalikan orang lain? Jawaban yang mereka temukan adalah bahwa bila seseorang bertemu dengan orang lain dan terlibat percakapan, satu di antara dua hal dapat terjadi : orang itu dapat merasa kuat atau lemah sehabis pertemuan itu tergantung apa yang terjadi dalam interaksi tersebut.

Dengan alasan inilah maka manusia (kita) selalu mengambil sikap manipulatif, tak peduli apa pun situasi maupun pokok persoalannya, kita menyiapkan diri untuk mengatakan apapun yang harus kita katakan agar menang dalam pembicaraan. Kita masing-masing berusaha menemukan suatu cara untuk memegang kendali dan dengan begitu berada di posisi atas. Bila kita berhasil, bila sudut pandang kita unggul, kita tidak lagi merasa kekurangan energi melainkan menerima penguatan psikologis. Dengan kata lain, manusia (kita) berusaha saling mengecoh dan mengendalikan, bukan semata-mata karena tujuan nyata di dunia luar yang kita coba raih, melainkan karena adanya perasaan terangkat yang kita terima secara psikologis. Inilah alasan mengapa kita melihat begitu banyak konflik irasional di dunia, baik di tingkat perorangan maupun di tingkat bangsa-bangsa.

Seluruh persoalan ini kini muncul di dalam kesadaran publik. Kini kita menyadari bahwa betapa banyak di antara kita saling memanipulasi dan sebagai akibatnya kita tengah mengevaluasi kembali motivasi-motivasi kita. Kita tengah mencari cara baru untuk berinteraksi.

Contoh klasik mengenai tindak kekerasan psikologis seperti orang tua yang seringkali memarahi anaknya setiap kali si anak melakukan kesalahan, karena di mata sang orang tua kesempurnaan adalah tuntutan mutlak kepada si anak. Karena sakit hati, amarah sang anak pun meledak dan ia pun lari meninggalkan sang orang tua.

Itulah yang terjadi bila kebutuhan manusia untuk mengontrol orang lain sampai ke tingkat ekstrim. Sang orang tua (pasangan suami isteri) tadi menguasai sepenuhnya si anak. Mereka tidak pernah berhenti bersikap keras terhadap anak mereka sehingga dari sudut pandang si anak, ia tidak punya pilihan lain kecuali menyerang balik dengan garang. Itulah satu-satunya cara ia memperoleh kembali kontrol untuk dirinya sendiri. Celakanya ketika ia tumbuh, karena trauma masa kecilnya ini, ia akan beranggapan harus merebut kontrol dan menguasai orang lain dengan intensitas yang sama. Sifat-sifat khas ini akan tertanam dalam-dalam dan akan membuatnya suka mendominasi persis seperti yang dilakukan orangtuanya kepadanya, terutama bila ia dekat dengan orang yang mudah diserang, misalnya anak-anak (yang lebih kecil atau lebih muda darinya).

Sesungguhnyalah, trauma yang sama ini tak ayal lagi juga terjadi pada orang tuanya dulu. Mereka sekarang harus mendominasi sebagai akibat orang tua mereka dulu mendominasi mereka. Itulah sarana yang mengantarkan diwariskannya tindak kekerasan psikologis dari suatu generasi kepada generasi berikutnya.

Sebagaimana Wawasan Ketiga tentang melihat medan energi, dalam kasus kekerasan orang tua yang menuntut kesempurnaan terhadap anaknya di atas, akan terlihat pergerakan energi di antara anggota keluarga itu di mana si orang tua seakan-akan menghisap energi si anak ke dalam diri mereka hingga si anak seolah-olah hampir mati kehabisan energi. Hal inilah yang biasanya menyebabkan si anak berbalik menyerang (menangkis) orang tuanya guna merampas kembali energinya yang telah habis diserap oleh orang tuanya.

Baca juga: Melihat Medan Energi

Dinamika Medan Energi

Dinamika Medan Energi

Dinamika Medan Energi

Seperti telah dijelaskan pada Wawasan Ketiga bahwa kita dapat melihat medan energi pada dua orang yang saling berdekatan, termasuk pada dua orang yang sedang bertengkar. Coba tempatkan diri beberapa langkah dari kedua orang tersebut dan lakukan seperti yang kita lakukan pada jari kita. Akan tampak seakan-akan medan energi kedua orang tersebut tumbuh menjadi lebih padat seolah-olah terimbas oleh getaran dari dalam. Ketika mereka sedang bertengkar akan tampak medan energi mereka sedang bercampur. Bila seorang di antaranya mengajukan argumentasi, medan energinya membuat gerakan yang seolah menghisap medan energi lawan bicaranya dengan cara seperti menyedot dari bejana kosong. Tetapi manakala lawan bicaranya menangkis, energi tadi bergerak kembali ke arah dirinya.

Baca juga: Melihat Medan Energi

Dalam dinamika medan energi, memenangkan satu gagasan berarti merebut dan menarik sebagian medan energi lawan bicaranya ke dalam dirinya. Wawasan Keempat berbicara mengenai bagaimana manusia bersaing dan memperebutkan energi. Di situ dikatakan bahwa akhirnya manusia akan melihat alam semesta terdiri dari satu energi dinamis, energi yang menopang kita dan menanggapi harapan-harapan kita. Namun kita juga akan melihat bahwa kita telah terputus dari sumber energi yang lebih besar, bahwa kita telah melepaskan diri, dan dengan begitu merasa lemah, tidak aman, dan kekurangan.

Baca juga: Visi Wawasan Ketiga: Transformasi Pemahaman Tentang Semesta Dunia Fisik

Menghadapi defisit ini, manusia senantiasa berupaya meningkatkan energi pribadi mereka dengan satu-satunya cara yang diketahuinya : berusaha secara psikologis mencurinya dari orang lain—suatu persaingan di luar kesadaran—yang mendasari semua konflik manusia di dunia.