Tag: kesadaran

Mendapatkan Kejelasan Tentang Diri Sendiri

Mendapatkan Kejelasan Tentang Diri Sendiri

Mendapatkan Kejelasan Tentang Diri Sendiri

Langkah pertama dalam proses mendapatkan kejelasan bagi diri kita adalah untuk membawa drama pengendalian tertentu kita ke kesadaran penuh. Kita tidak akan pernah bisa mengalami kemajuan sebelum melewati/mengatasi tahapan ini.

Langkah selanjutnya adalah bahwa kita harus kembali ke masa lalu kita, kembali ke kehidupan awal keluarga kita, dan melihat bagaimana kebiasaan ini terbentuk. Melihat permulaan terbentuknya cara kita mengendalikan dalam kesadaran. Ingat, sebagian besar anggota keluarga kita memainkan dramanya masing-masing, mencoba menarik energi dari kita sebagai anak-anak. Inilah mengapa kita pertama-tama harus membentuk drama pengendalian. Kita harus memiliki strategi untuk merebut energi kita kembali. Kita selalu mengembangkan drama khas kita dalam kaitannya dengan anggota keluarga kita. Namun, setelah kita mengenali dinamika energi dalam keluarga kita, kita dapat melewati strategi kontrol dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Setiap orang harus menafsirkan kembali pengalaman di dalam keluarganya dari sudut pandang evolusioner, dari sudut pandang spiritual, dan menemukan siapa sebetulnya dirinya. Setelah kita melakukan itu, drama pengendalian kita gugur dan kehidupan sejati kita lepas landas.

Jadi, bagaimana cara kita memulainya?

Pertama-tama dengan memahami bagaimana drama pengendalian kita terbentuk. Misalnya dengan memahami siapa ayah kita. Katakanlah beliau adalah orang baik yang suka bersenang-senang dan cakap tapi beliau terlalu kritis. Kita tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar di matanya. Bagaimana beliau mengkritik kita? Beliau mengajukan pertanyaan-pertanyaan kemudian menemukan kesalahan dalam semua jawaban. Dan apa yang terjadi dengan energi kita? Kita merasa terkuras sehingga kita mencoba untuk menjaga diri dari mengatakan apapun kepadanya.

Berarti kita tidak tegas dan menjaga jarak, mencoba untuk mengatakan apa saja dengan cara yang mungkin akan mendapatkan perhatiannya, tapi tidak cukup menyatakan untuk memberikan dia sesuatu untuk dikritik. Dia adalah interogator dan kita mengelak untuk mendekatinya dengan sikap menyendiri (dingin) kita.

Kemudian Anda mengenali bahwa ternyata ibu Anda juga telah melakukan hal yang sama kepada Anda seperti ayah Anda dahulu, yaitu berperan sebagai seorang interogator. Jadi Anda telah mendapatkan dosis ganda. Maka tak heran bila ternyata Anda sekarang cenderung memilih drama menyendiri.

Namun walaupun demikian, setidaknya mereka tidak mengintimidasi Anda. Paling tidak Anda tidak pernah khawatir akan keselamatan Anda, bukan? Karena bila ini sampai terjadi, Anda akan menjadi terjebak dalam drama kasihanilah aku (poor me).

Seseorang akan menempuh apa pun yang secara ekstrim diperlukan untuk mendapatkan energi—perhatian dalam keluarganya. Dan setelah itu, strategi ini menjadi cara dominannya mengendalikan untuk mendapatkan energi dari semua orang, drama yang terus-menerus diulanginya. Hal mengenai drama yang diulang-ulang ini dan secara terus-menerus dilakukan tanpa sadar—tanpa mampu bangkit dari “tidur panjang”—akan menyebabkan “neraka” pada diri pelakunya sendiri. Ini akan diulas pada Wawasan Kesepuluh.

Demikianlah persisnya cara drama-drama pengendalian mengabadikan diri. Tapi ingat, ada kecenderungan melihat drama-drama ini pada diri orang lain dan mengira bahwa kita sendiri bebas dari drama-drama pengendalian tersebut. Kita harus melampaui ilusi ini sebelum kita bisa melangkah maju. Hampir semua orang cenderung terjebak, setidaknya untuk sementara waktu, dalam sebuah drama dan kita harus melangkah mundur dan melihat diri kita sendiri cukup lama untuk menemukan drama apa itu.

Segera setelah kita menemukan jenis drama kita, kita benar-benar bebas untuk menjadi lebih daripada peran bawah sadar yang kita mainkan. Seperti yang dikatakan sebelumnya, kita dapat menemukan makna yang lebih tinggi untuk hidup kita, alasan spiritual kita dilahirkan pada keluarga kita. Kita bisa mulai memperoleh kejelasan tentang siapa kita sebenarnya.

Rintangan Sebelum Dapat Terhubungkan Dengan Energi

Rintangan Sebelum Dapat Terhubungkan Dengan Energi

Rintangan Sebelum Dapat Terhubungkan Dengan Energi

Sudah diulas pada artikel sebelumnya, mengalami suatu pengalaman mistik memungkinkan kita untuk sesaat melihat besarnya energi yang bisa didapatkan seseorang (khusunya diri kita sendiri). Tapi keadaan ini seperti melompat mendahului orang lain dan sekilas melihat masa depan. Kita tidak bisa mempertahankan keadaan itu untuk waktu yang lama. Segera setelah kita mencoba untuk berbicara dengan seseorang yang pikirannya beroperasi dalam tingkat kesadaran normal, atau mencoba hidup di dunia di mana konflik masih terjadi, kita terlempar keluar dari keadaan futuristik ini dan jatuh kembali ke tingkat diri kita yang lama.

Masalah kita selanjutnya adalah untuk—secara perlahan—mendapatkan kembali apa yang sekilas kita lihat dalam pengalaman mistis itu, dan memulai kembali perkembangan menuju kesadaran tertinggi. Tetapi untuk melakukan ini, kita harus belajar untuk secara sadar mengisi diri sendiri dengan energi karena energi ini membawa peristiwa-peristiwa kebetulan, dan peristiwa-peristiwa kebetulan membantu kita mengaktualisasikan tingkat baru pada suatu basis yang permanen.

Pikirkan tentang hal ini : ketika sesuatu terjadi melampaui kesempatan untuk membawa kita maju dalam hidup kita, maka kita menjadi orang yang lebih teraktualisasikan. Kita merasa seolah-olah sedang mencapai apa, yang oleh bimbingan takdir, telah kita jadikan tujuan aktualisasi diri. Ketika ini terjadi, tingkat energi yang menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa kebetulan pertama-tama dibangun di dalam diri kita. Kita bisa tersingkir dari itu dan kehilangan energi ketika kita takut. Tetapi tingkat energi ini berfungsi sebagai batas terluar baru yang dapat diperoleh kembali dengan mudah. Kita telah menjadi pribadi baru. Kita hadir pada tingkat energi yang lebih tinggi, pada tingkat getaran yang lebih tinggi.

Dapatkah Anda melihat prosesnya sekarang?

Kita mengisi diri – tumbuh – mengisi diri – (dan) tumbuh lagi. Itu adalah cara bagaimana kita sebagai manusia melanjutkan evolusi alam semesta ke sebuah getaran yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.

Evolusi ini telah berlangsung secara tidak sadar sepanjang sejarah manusia. Itu menjelaskan mengapa peradaban telah berkembang dan mengapa manusia telah tumbuh lebih besar, hidup lebih lama, dan sebagainya. Sekarang, kita sedang membuat seluruh proses itu terjadi secara sadar. Itulah yang Manuskrip beritahukan pada kita. Tentang itulah seluruh gerakan menuju kesadaran spiritual yang meliputi seluruh dunia ini.

Jadi apa yang harus kita lakukan adalah mengisi diri sendiri dengan energi, seperti yang telah Anda baca sebelumnya, dan peristiwa-peristiwa kebetulan mulai terjadi lebih konsisten. Tetapi itu tidak semudah yang Anda pikirkan. Sebelum kita dapat terhubungkan dengan energi pada basis yang permanen, masih ada satu rintangan lagi yang harus kita lewati. Wawasan berikutnya, Wawasan Keenam, berkaitan dengan masalah ini.

Tentang apakah itu?

Kita harus menghadapi cara khas kita mengendalikan orang lain. Ingat, Wawasan Keempat mengungkapkan bahwa manusia selalu merasa kekurangan energi dan telah berusaha untuk mengendalikan satu sama lain untuk mendapatkan energi yang mengalir di antara manusia. Lalu Wawasan Kelima menunjukkan bahwa ada sumber alternatif, tapi kita tidak bisa benar-benar tetap terhubungkan dengan sumber ini sampai kita berhasil mengatasi kebiasaan kita mengendalikan atau mengontrol orang lain dan berhenti melakukannya, karena setiap kali kita jatuh kembali ke kebiasaan ini, kita akan mendapatkan diri kita terputus dari sumber energi itu.

Menyingkirkan kebiasaan ini tidaklah mudah karena terjadi tanpa disadari pada awalnya. Kunci untuk mengatasi kebiasaan ini adalah membawanya sepenuhnya ke dalam kesadaran, dan kita melakukannya dengan melihat bahwa gaya khas kita mengendalikan orang lain adalah salah satu yang kita pelajari di masa kecil untuk mendapatkan perhatian, agar energi bergerak ke arah kita, dan kita kembali terjebak di sana. Gaya ini kita ulangi lagi dan lagi. Ini biasa disebut sebagai drama pengendalian bawah sadar kita.

Disebut drama karena berupa adegan akrab, seperti adegan di film, yang skenarionya kita tulis semasa remaja. Lalu kita mengulangi adegan ini berulang-ulang dalam kehidupan kita sehari-hari tanpa menyadarinya. Semua yang kita tahu adalah bahwa jenis peristiwa yang sama terjadi pada kita berulang kali. Masalahnya adalah jika kita mengulangi satu adegan tertentu berulang-ulang, maka adegan-adegan lain dari film kehidupan nyata kita, petualangan kelas tinggi, yang ditandai oleh peristiwa kebetulan, tidak bisa bergerak maju. Kita menghentikan film bila kita mengulangi drama yang satu ini untuk memanipulasi demi energi.

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Seperti digambarkan sebelumnya bahwa manusialah yang meneruskan evolusi alam semesta menuju ke arah kompleksitas getaran yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Hal ini ada hubungannya dengan berbagai peristiwa kebetulan yang dibicarakan dalam Wawasan Pertama, dan ini juga akan cocok dengan wawasan-wawasan lainnya.

Pikirkan tentang bagaimana wawasan-wawasan itu dibagi menjadi bagian-bagian berurutan.

Wawasan Pertama terjadi ketika kita menganggap serius peristiwa-peristiwa kebetulan. Kebetulan-kebetulan ini membuat kita merasa ada sesuatu yang lebih, sesuatu yang spiritual, yang bekerja di balik semua yang kita lakukan.

Wawasan Kedua membentuk kesadaran kita sebagai sesuatu yang nyata. Kita bisa melihat bahwa kita telah terobsesi dengan kelangsungan hidup dalam dunia materi, dengan fokus pada upaya mengendalikan situasi kita di alam semesta demi keamanan, dan kita tahu keterbukaan kita sekarang mewakili semacam kesadaran akan apa yang sebenarnya terjadi.

Wawasan Ketiga memulai suatu pandangan baru tentang hidup. Ia mendefinisikan alam semesta fisik sebagai alam semesta energi murni, energi yang entah bagaimana merespon jalan pikiran kita.

Wawasan Keempat memaparkan kecenderungan manusia untuk mencuri energi dari manusia lain dengan mengendalikan mereka, mengambil alih pikiran mereka, suatu kejahatan di mana kita terlibat karena kita begitu sering merasa terputus dan kehabisan energi.

Kekurangan energi ini dapat diatasi, tentu saja, ketika kita terhubungkan dengan sumber yang lebih tinggi. Alam semesta dapat menyediakan semua yang kita butuhkan hanya jika kita bisa membuka diri terhadapnya. Itulah visi yang digambarkan oleh Wawasan Kelima.

Pemahaman Baru Tentang Kesadaran Mistis

Pemahaman Baru Tentang Kesadaran Mistis

Pemahaman Baru Tentang Kesadaran Mistis

Pemahaman kita tentang wawasan yang paling terakhir lalu adalah bahwa manusia terjebak dalam semacam kompetisi perebutan energi. Ketika kita berhasil membujuk orang lain untuk menyetujui pandangan kita, mereka akan memihak kita, dan itu berarti menarik energi mereka ke dalam diri kita sehingga kita merasa kuat. Jadi masalahnya adalah bahwa setiap orang mencoba untuk mengontrol dan memanipulasi satu sama lain demi memperoleh energi, karena kita merasa kekurangan energi.

Tapi ada solusi untuk hal yang satu itu, yaitu suatu sumber energi lain. Hal itu tersirat di dalam Wawasan Keempat. Wawasan Kelima menggambarkan pemahaman baru tentang apa yang telah lama disebut kesadaran mistis.

Selama beberapa dekade terakhir abad kedua puluh, menurut Wawasan Kelima, kesadaran ini akan dipublikasikan sebagai cara yang sebenarnya ingin dicapai, yaitu dengan cara sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh banyak praktisi yang menjalani agama secara terbatas. Untuk kebanyakan orang, kesadaran ini akan tetap menjadi konsep intelektual yang hanya akan dibicarakan dan diperdebatkan. Tapi untuk manusia-manusia tertentu yang jumlahnya semakin banyak, kesadaran ini akan menjadi pengalaman nyata karena orang-orang ini akan mengalami kilatan-kilatan atau gambaran-gambaran sekilas tentang keadaan mental selama perjalanan hidup mereka.

Menurut manuskrip, pengalaman ini adalah kunci untuk mengakhiri konflik manusia di dunia, karena selama pengalaman ini berlangsung, kita menerima energi dari sumber lain—sumber yang akhirnya akan kita pelajari untuk kita manfaatkan sesuka hati.

Konsep Menghisap Dan Memberikan Energi Secara Sukarela

Konsep Menghisap Dan Memberikan Energi Secara Sukarela

Konsep Menghisap Dan Memberikan Energi Secara Sukarela

Apakah tindakan mengontrol dan mendominasi orang lain itu jahat?

Sebetulnya tidak juga. Orang itu mungkin hanya tidak sepenuhnya sadar akan apa yang telah ia lakukan. Dia mungkin hanya berpikir bahwa dia harus mengendalikan situasi. Dan tidak diragukan lagi, dia telah belajar lama di masa lalu bahwa ia bisa mengendalikan dengan mengikuti strategi tertentu. Dia pertama-tama berpura-pura menjadi teman Anda, kemudian ia menemukan sesuatu yang salah dengan apa yang Anda lakukan, dalam kasus di atas ia berhasil meyakinkan bahwa Anda dalam bahaya. Akibatnya, dia secara halus melemahkan rasa percaya diri Anda di depan mata Anda sendiri sampai Anda mulai merasa dekat dengannya. Segera setelah itu terjadi, ia menguasai Anda.

Ini hanya salah satu di antara banyak strategi yang digunakan orang untuk menipu orang lain dan menghisap energi dari mereka. Anda akan belajar tentang cara-cara lainnya di dalam Wawasan Keenam.

Kebanyakan hal ini dilakukan tanpa disadari, melakukan apa yang membuat dia merasa paling kuat. Semua ini masih di luar kesadaran sebagian besar orang. Yang kita tahu adalah bahwa kita merasa lemah dan ketika kita mengendalikan orang lain kita merasa menjadi lebih baik. Apa yang tidak kita sadari adalah bahwa perasaan menjadi lebih baik ini menyebabkan orang lain rugi. Energi mereka telah kita curi. Dan kebanyakan orang menjalani seluruh hidup mereka dalam perburuan secara konstan untuk mengejar energi orang lain.

Meskipun demikian, terkadang hal serupa bekerja secara berbeda. Kadang kala kita bertemu seseorang yang setidaknya untuk sementara waktu secara sukarela akan mengirimkan energi mereka pada kita. Biasanya hal ini ditandai dengan perasaan nyaman yang kita alami saat orang itu mengirimkan energinya pada kita. Seolah-olah, seluruh pengalaman dan konsep kita tampak jelas bagi kita dan bisa mengekspresikan diri dengan mudah.

Apa artinya?

Terkadang seseorang secara sukarela akan menginginkan kita untuk mendefinisikan situasi yang sedang mereka hadapi, sambil dengan tulus memberikan kita energi mereka secara langsung. Itu membuat kita merasa diberi kuasa. Tetapi karunia ini biasanya tidak berlangsung lama. Kebanyakan orang-orang tersebut merasa tidak cukup kuat untuk terus-menerus memberikan energi mereka. Itulah sebabnya kebanyakan hubungan pada akhirnya berubah haluan menjadi perebutan kekuasaan. Manusia menggabungkan energi dan kemudian saling berebut agar dapat saling mengendalikan. Dan pihak yang kalah selalu menjadi korban.

Konsep Memberikan Energi Secara Sukarela ini berhubungan erat dengan Wawasan Ketujuh dan akan dibahas lebih lanjut dalam Wawasan Kedelapan.

Dinamika Energi Dalam Hubungan Orang Tua Dan Anak

Dinamika Energi Dalam Hubungan Orang Tua Dan Anak

Dinamika Energi Dalam Hubungan Orang Tua Dan Anak

Studi di bidang konflik telah mengamati masalah mengapa manusia saling memperlakukan dengan kasar. Para ahli di bidang ini mengetahui bahwa kekerasan datang dari dorongan yang dirasakan manusia untuk saling mengontrol dan menguasai.

Mereka mengajukan pertanyaan apa yang terjadi di dalam diri manusia, yang membuatnya ingin mengendalikan orang lain? Jawaban yang mereka temukan adalah bahwa bila seseorang bertemu dengan orang lain dan terlibat percakapan, satu di antara dua hal dapat terjadi : orang itu dapat merasa kuat atau lemah sehabis pertemuan itu tergantung apa yang terjadi dalam interaksi tersebut.

Dengan alasan inilah maka manusia (kita) selalu mengambil sikap manipulatif, tak peduli apa pun situasi maupun pokok persoalannya, kita menyiapkan diri untuk mengatakan apapun yang harus kita katakan agar menang dalam pembicaraan. Kita masing-masing berusaha menemukan suatu cara untuk memegang kendali dan dengan begitu berada di posisi atas. Bila kita berhasil, bila sudut pandang kita unggul, kita tidak lagi merasa kekurangan energi melainkan menerima penguatan psikologis. Dengan kata lain, manusia (kita) berusaha saling mengecoh dan mengendalikan, bukan semata-mata karena tujuan nyata di dunia luar yang kita coba raih, melainkan karena adanya perasaan terangkat yang kita terima secara psikologis. Inilah alasan mengapa kita melihat begitu banyak konflik irasional di dunia, baik di tingkat perorangan maupun di tingkat bangsa-bangsa.

Seluruh persoalan ini kini muncul di dalam kesadaran publik. Kini kita menyadari bahwa betapa banyak di antara kita saling memanipulasi dan sebagai akibatnya kita tengah mengevaluasi kembali motivasi-motivasi kita. Kita tengah mencari cara baru untuk berinteraksi.

Contoh klasik mengenai tindak kekerasan psikologis seperti orang tua yang seringkali memarahi anaknya setiap kali si anak melakukan kesalahan, karena di mata sang orang tua kesempurnaan adalah tuntutan mutlak kepada si anak. Karena sakit hati, amarah sang anak pun meledak dan ia pun lari meninggalkan sang orang tua.

Itulah yang terjadi bila kebutuhan manusia untuk mengontrol orang lain sampai ke tingkat ekstrim. Sang orang tua (pasangan suami isteri) tadi menguasai sepenuhnya si anak. Mereka tidak pernah berhenti bersikap keras terhadap anak mereka sehingga dari sudut pandang si anak, ia tidak punya pilihan lain kecuali menyerang balik dengan garang. Itulah satu-satunya cara ia memperoleh kembali kontrol untuk dirinya sendiri. Celakanya ketika ia tumbuh, karena trauma masa kecilnya ini, ia akan beranggapan harus merebut kontrol dan menguasai orang lain dengan intensitas yang sama. Sifat-sifat khas ini akan tertanam dalam-dalam dan akan membuatnya suka mendominasi persis seperti yang dilakukan orangtuanya kepadanya, terutama bila ia dekat dengan orang yang mudah diserang, misalnya anak-anak (yang lebih kecil atau lebih muda darinya).

Sesungguhnyalah, trauma yang sama ini tak ayal lagi juga terjadi pada orang tuanya dulu. Mereka sekarang harus mendominasi sebagai akibat orang tua mereka dulu mendominasi mereka. Itulah sarana yang mengantarkan diwariskannya tindak kekerasan psikologis dari suatu generasi kepada generasi berikutnya.

Sebagaimana Wawasan Ketiga tentang melihat medan energi, dalam kasus kekerasan orang tua yang menuntut kesempurnaan terhadap anaknya di atas, akan terlihat pergerakan energi di antara anggota keluarga itu di mana si orang tua seakan-akan menghisap energi si anak ke dalam diri mereka hingga si anak seolah-olah hampir mati kehabisan energi. Hal inilah yang biasanya menyebabkan si anak berbalik menyerang (menangkis) orang tuanya guna merampas kembali energinya yang telah habis diserap oleh orang tuanya.

Baca juga: Melihat Medan Energi

Memahami Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Memahami Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Memahami Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Bagaimana agar kita benar-benar memahami kebudayaan seperti judul di atas?

Bayangkan diri Anda menjadi hidup di tahun 1000, yaitu pada Abad Pertengahan. Visualisasikan bahwa Anda menemukan diri Anda sendiri di jaman nenek moyang Anda, terlepas dari apa tingkat strata sosialnya—petani atau bangsawan?—atau pekerjaan tertentu yang Anda lakukan waktu itu. Ketika itu di dunia barat, gereja Kristen masih sangat berkuasa.

Baca juga: Meninjau Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Waktu itu, oleh para imam, dunia digambarkan secara nyata bersifat spritual di atas segalanya. Mereka menciptakan sebuah realitas yang menempatkan ide mereka tentang rencana Tuhan bagi umat manusia berada tepat di pusat kehidupan. Para rohaniawan gereja menjelaskan bahwa Allah telah menempatkan umat manusia di pusat semesta-Nya dikelilingi oleh seluruh kosmos, untuk satu-satunya tujuan: memperoleh atau kehilangan keselamatan, artinya dalam ujian ini harus secara benar memilih antara dua kekuatan yang bertentangan: kekuatan Tuhan atau godaan setan yang mengintai. Tetapi pahamilah bahwa Anda tidak sendirian menghadapi ujian ini.

Sesungguhnya, sebagai seorang individu semata Anda tidak memenuhi syarat untuk menentukan status Anda dalam hal ini. Ini adalah wewenang gereja. Mereka ada untuk menafsirkan kitab suci dan memberitahu Anda setiap langkah apakah Anda sesuai dengan Tuhan atau apakah Anda sedang ditipu oleh setan. Jika Anda mengikuti instruksi mereka, surga adalah imbalannya. Tapi jika Anda tidak memperhatikan instruksi mereka meresepkan, akan ada hukuman tertentu dan kutukan. Para imam gereja ini menganggap diri mereka sebagai satu-satunya penghubung antara Anda dan Tuhan, satu-satunya penafsir kitab suci, satu-satunya wasit keselamatan Anda.

Semua fenomena kehidupan—dari badai atau gempa bumi yang terjadi secara kebetulan sampai keberhasilan panen atau kematian orang yang dicintai—didefinisikan sebagai kehendak Tuhan atau sebagai kedengkian setan. Tak ada konsep cuaca atau kekuatan geologi atau hortikultura atau penyakit. Itu semua datang belakangan. Untuk saat itu, Anda benar-benar hanya percaya pada kaum imam; dunia yang Anda terima sebagai sesuatu yang sudah semestinya beroperasi semata-mata dengan sarana-sarana rohani.

Selanjutnya pandangan dunia Abad Pertengahan mulai berantakan pada abad ke-14 dan ke-15. Pertama, Anda melihat kejanggalan-kejanggalan tertentu pada beberapa imam-imam gereja itu sendiri: diam-diam melanggar sumpah kesucian mereka, misalnya, menerima bayaran untuk berpura-pura tidak melihat ketika pejabat pemerintah melanggar hukum Alkitabiah.

Kemudian Anda berada di tengah-tengah pemberontakan sebuah kelompok yang dipimpin oleh Martin Luther melepaskan diri sama sekali dari kekristenan di bawah kepausan. Mereka menuduh kaum imam korup seraya menuntut diakhirinya kekuasaan kaum imam atas pikiran khalayak ramai. Gereja-gereja baru dibentuk berdasarkan pada gagasan bahwa setiap orang seharusnya memiliki akses dengan Kitab Suci secara langsung dan pribadi serta menafsirkannya sesuai yang mereka inginkan, tanpa perantara.

Pemberontakan itu berhasil. Para imam gereja mulai tergeser. Konsensus jelas tentang hakikat alam semesta dan tujuan hidup umat manusia di sini, seperti yang didasarkan pada deskripsi gereja, runtuh. Akibatnya, seluruh dunia menjadi mempertanyakan tentang tujuan hidup mereka. Manusia seperti kehilangan arah.

Pada tahun 1600-an, para astronom telah membuktikan tanpa keraguan bahwa matahari dan bintang tidak berputar mengelilingi bumi sebagaimana pandangan yang dipertahankan oleh gereja. Jelas bahwa Bumi hanya satu planet kecil yang mengorbit matahari kecil/minor dalam sebuah galaksi yang berisi miliaran bintang.

Ini penting. Manusia telah kehilangan tempatnya di pusat alam semesta Tuhan. Apa akibatnya? Sekarang, ketika Anda mengamati cuaca, atau tanaman yang tumbuh, atau seseorang tiba-tiba mati, apa yang Anda rasakan adalah bingung dan gelisah. Di masa lalu, Anda mungkin telah mengatakan bahwa Allah atau setan yang bertanggung jawab. Tetapi ketika dunia abad pertengahan runtuh, kepastian itu pun ikut gugur bersamanya. Semua hal yang dulunya Anda terima begitu saja, sekarang perlu definisi baru, terutama mengenai sifat Tuhan dan hubungan Anda dengan Allah.

Baca juga: Ketika Transformasi Mencari Bentuknya

Dengan kesadaran itu, Zaman Modern dimulai. Ada semangat demokrasi tumbuh dan ketidakpercayaan massa terhadap otoritas kepausan dan kerajaan. Definisi alam semesta berdasarkan spekulasi atau iman alkitabiah tidak lagi secara otomatis diterima. Kendati kehilangan kepastian, kita tidak ingin mengambil risiko untuk tunduk kepada kelompok baru yang mengendalikan realitas kita seperti yang para rohaniwan pernah lakukan. Mandat baru untuk ilmu pengetahuan pun terbentuk.

Para pemikir zaman itu mulai memandang ke luar alam semesta yang luas tanpa batas dan berpikir bahwa kita perlu metode pembentuk kesepakatan, cara untuk secara sistematis menjelajahi dunia baru kita. Dan Anda akan menyebut cara baru menemukan realitas tersebut sebagai metode ilmiah, yang tidak lebih dari pengujian ide tentang cara kerja alam semesta, sampai pada kesimpulan tertentu, dan kemudian menawarkan kesimpulan ini kepada orang lain untuk melihat apakah mereka setuju.

Lalu kita, manusia, menyiapkan para penjelajah untuk keluar ke alam semesta baru ini, masing-masing bersenjatakan metode ilmiah dan mereka diberikan misi bersejarah : Jelajahi tempat ini, temukan cara kerjanya, dan cari tahu untuk apa kita hidup di dunia ini.

Baca juga: Visi Wawasan Ketiga: Transformasi Pemahaman Tentang Semesta Dunia Fisik

Manusia telah kehilangan kepastian tentang alam semesta yang diperintah Tuhan dan karena itu kepastian kita tentang hakikat Tuhan sendiri. Tetapi kita merasa mempunyai metode, proses pembentukan kesepakatan untuk menemukan hakikat segala sesuatu di sekitar kita, termasuk Tuhan serta tujuan sejati eksistensi umat manusia di planet ini. Jadi, kita mengirimkan para penjelajah ini untuk menemukan hakikat sejati situasi kita sendiri.

Menurut Manuskrip, pada titik ini kita memulai obsesi, dan dari obsesi inilah kita mengalami kebangkitan. Kita mengirim para penjelajah ini untuk membawa kembali penjelasan lengkap tentang eksistensi kita—membawa situasi spritual kita yang sebenarnya—tetapi  kerumitan  alam semesta menyebabkan mereka tidak mampu segera kembali.

Kebelumberhasilan tersebut mempengaruhi kebudayaan secara mendalam. Kita perlu sesuatu lain sampai pertanyaan-pertanyaan kita terjawab. Akhirnya kita sampai pada apa yang tampak sebagai pemecahan yang sangat logis. Karena penjelajah belum kembali membawa spiritual kita yang sebenarnya, kita mulai mendekatkan diri dengan dunia baru ini sementara kita menunggu. Kita belajar mengotak-atik dunia ini untuk keuntungan kita sendiri, untuk meningkatkan standar hidup, dan rasa keamanan kita di dunia. Kita bebaskan perasaan hilang arah dengan menangani sendiri persoalan yang kita hadapi dengan memusatkan perhatian atas upaya menaklukkan Bumi dan menggunakan sumber dayanya untuk memperbaiki cara hidup kita—dan hanya sekarang—ketika mendekati akhir milenium kita dapat melihat apa yang terjadi.

Bekerja untuk membangun cara hidup yang lebih menyenangkan telah membuat kita merasa lebih lengkap luar-dalam, menjadikan hidup kita tergantung pada materi. Materi telah menjadi alasan untuk hidup. Dan setahap demi setahap, secara metodologis, kita telah melupakan pertanyaan semula. Kita lupa bahwa kita masih belum tahu untuk apa kita bertahan hidup.

Yang menjadi persoalan ialah kita yang terfokus dan obsesif untuk menaklukkan alam dan membuat kita sendiri lebih nyaman ini telah menyebabkan sistem alamiah planet ini tercemar dan berada di ambang kehancuran. Kita tak bisa meneruskan cara ini.

Obsesi ini, menurut Manuskrip, sesungguhnya merupakan suatu perkembangan yang diperlukan, suatu tahap dalam evolusi manusia. Hanya saja kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mendekatkan diri dengan dunia. Kini tiba waktunya untuk sadar dan bangun dari obsesi ini dan mempertimbangkan lagi pertanyaan semula. Apa yang ada di balik kehidupan di planet ini? Mengapa kita berada di situ?

Meninjau Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Meninjau Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Meninjau Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Wawasan Kedua menempatkan kesadaran kita yang sekarang ini ke dalam perspektif historis yang lebih panjang. Wawasan ini menunjukkan bagaimana meninjau kebudayaan bukan semata-mata dari perspektif masa hidup kita sendiri melainkan dari perspektif satu milenium yang utuh. Ia membukakan mata kita tentang apa yang menjadi obsesi bagi kita dan dengan begitu mengangkat kita di atasnya, dan kita baru saja mengalaminya. Kini masa hidup kita berada di dalam suatu kekinian yang panjang. Bila kita mengamati dunia manusia sekarang ini, kita seyogyanya dapat melihat dengan jelas sifat obsesif ini, keasyikan intens dengan kemajuan ekonomi.

Lebih jelasnya begini : bila dekade sembilan puluhan telah lewat, kita tidak hanya akan menyelesaikan abad ke-20 melainkan periode seribu tahun pula. Kita akan merampungkan seluruh milenium kedua. Sebelum kita memahami di mana kita berada dan apa yang akan terjadi berikutnya, kita harus memahami apa yang sebetulnya telah terjadi selama periode seribu tahun ini.

Tepatnya dalam Wawasan Kedua dipaparkan bahwa pada penutupan milenium kedua, kita akan dapat melihat periode sejarah secara keseluruhan dan kita akan mengenali obsesi khusus yang berkembang selama separuh akhir milenium ini, mengenai apa yang disebut Abad Modern. Kesadaran kita mengenai peristiwa-peristiwa serba kebetulan dewasa ini mewakili semacam kebangkitan dari obsesi ini.

Baca juga:

Untuk memahami sejarah dalam konteks meninjau kebudayaan, kita harus menangkap bagaimana perkembangan pandangan keseharian kita tentang dunia, bagaimana pandangan itu tercipta oleh realita orang-orang yang telah hidup sebelum masa hidup kita. Dibutuhkan seribu tahun untuk mengembangkan cara modern memandang berbagai hal, dan untuk memahami di mana kita berada hari ini. Kita harus membawa diri kembali ke tahun 1000 dan kemudian bergerak maju melewati seluruh milenium ini, seolah kita seorang sendiri betul-betul mengarungi masa hidup kita melintasi seluruh periode itu di dalam hidup yang sekali saja ini.

Wawasan Kedua: Memahami Ramalan Manuskrip Celestine Dalam Konteks Sejarah Yang Lebih Panjang

Wawasan Kedua: Memahami Ramalan Manuskrip Celestine Dalam Konteks Sejarah Yang Lebih Panjang

Wawasan Kedua: Memahami Ramalan Manuskrip Celestine Dalam Konteks Sejarah Yang Lebih Panjang

Orang-orang masa kini cenderung untuk berpikir tentang hal-hal yang praktis dan mengesampingkan seluruh ide bahwa peristiwa-peristiwa kebetulan yang misterius dapat mengubah hidup seseorang dan bahwa suatu proses yang lain tengah berlangsung. Itulah sebabnya WAWASAN KEDUA diperlukan agar kita bisa mengetahui latar belakang historis kepada kesadaran kita sehingga hal-hal tersebut akan tampak lebih sahih.

Baca juga: Wawasan Pertama: Kesadaran Tentang Peristiwa Kebetulan vs Kebiasaan Cara Berpikir

Wawasan Kedua berisikan tafsir yang lebih tepat atas sejarah yang belum lama terjadi, interpretasi yang lebih jauh menjelaskan mengenai transformasi.

Sejarah terbiasa diajarkan untuk semata-mata memusatkan perhatian kepada pencapaian di bidang teknologi dan orang-orang besar yang menghasilkan kemajuan ini. Tetapi hal-hal tersebut sebenarnya tidaklah penting karena apa yang lebih penting ialah pandangan hidup setiap periode sejarah, apa yang dirasakan dan dipikirkan orang-orang.

Sejarah dianggap menyediakan suatu pengetahuan mengenai konteks yang lebih panjang di mana hidup kita berlangsung. Sejarah bukanlah sekadar evolusi teknologi; ia adalah evolusi pikiran. Dengan memahami realitas orang-orang yang hidup sebelum kita, kita tahu mengapa kita memandang dunia dengan cara yang kita lakukan sekarang dan apa sumbangan kita terhadap perkembangan yang akan datang. Bisa dibilang kita dapat menunjukkan tempat kita di dalam perkembangan peradaban yang lebih lama, dan itu memberi kita suatu orientasi ke mana kita akan pergi.

Efek Wawasan Kedua justru menyediakan perspektif historis semacam ini, setidaknya dari sudut pandang pikiran barat, perspektif yang lebih jelas tentang dunia manusia. Wawasan Kedua menempatkan ramalan-ramalan Manuskrip itu di dalam konteks yang lebih panjang, yang membuat ramalan-ramalan itu bukan hanya masuk akal melainkan juga tak terelakkan.

Wawasan Pertama: Kesadaran Tentang Peristiwa Kebetulan vs Kebiasaan Cara Berpikir

Wawasan Pertama: Kesadaran Tentang Peristiwa Kebetulan vs Kebiasaan Cara Berpikir

Wawasan Pertama: Kesadaran Tentang Peristiwa Kebetulan vs Kebiasaan Cara Berpikir

Apa yang dikatakan dalam Wawasan Pertama ini bukanlah hal yang baru karena di sepanjang sejarah, manusia telah menyadari berbagai peristiwa kebetulan yang tidak bisa dijelaskan itu dan ini telah menjadi persepsi di balik upaya raksasa filsafat dan agama. Transformasi itu kini tengah berlangsung berkat sejumlah individu-individu yang menjalani kesadaran ini pada saat yang bersamaan.

Pengalaman adalah bukti. Bila kita benar-benar merenungkan bagaimana perasaan batin kita, bagaimana hidup kita menapak maju pada titik ini di dalam sejarah, kita dapat melihat bahwa ide-ide di dalam Manuskrip masuk akal dan benar adanya. Bukankah semuanya masuk akal adanya? Setiap kegelisahan yang ada, apakah kegelisahan itu berasal dari wawasan sederhana bahwa dalam hidup ini terdapat lebih banyak lagi daripada yang kita ketahui, daripada yang kita alami? Hal ini pastilah memerlukan waktu.

Wawasan Pertama merupakan kesadaran tentang peristiwa-peristiwa kebetulan yang misterius yang mengubah hidup seseorang, perasaan bahwa suatu proses yang lain tengah berlangsung. Yang perlu kita lakukan ialah mengamati setiap peristiwa dengan teliti.

Tidak sesuai dengan akal sehat di jaman modern ini, bukan? Akankah Anda merasa lebih baik bila mengesampingkan seluruh ide itu dan kembali berpikir tentang hal-hal yang praktis? Nah, itu adalah kecenderungan hampir setiap orang masa kini. Bahkan meskipun kadang-kadang kita mempunyai wawasan yang jernih bahwa sesuatu yang lebih sedang bergulir di dalam hidup, kebiasaan cara berpikir ialah menganggap ide semacam itu tak terselami dan kemudian mengibaskan sama sekali kesadaran tersebut.

Itulah sebabnya Wawasan Kedua mutlak diperlukan. Segera setelah kita melihat latar belakang historis kesadaran kita, wawasan tersebut tampak lebih sahih.

Baca juga: