Tag: alam semesta

Rintangan Sebelum Dapat Terhubungkan Dengan Energi

Rintangan Sebelum Dapat Terhubungkan Dengan Energi

Rintangan Sebelum Dapat Terhubungkan Dengan Energi

Sudah diulas pada artikel sebelumnya, mengalami suatu pengalaman mistik memungkinkan kita untuk sesaat melihat besarnya energi yang bisa didapatkan seseorang (khusunya diri kita sendiri). Tapi keadaan ini seperti melompat mendahului orang lain dan sekilas melihat masa depan. Kita tidak bisa mempertahankan keadaan itu untuk waktu yang lama. Segera setelah kita mencoba untuk berbicara dengan seseorang yang pikirannya beroperasi dalam tingkat kesadaran normal, atau mencoba hidup di dunia di mana konflik masih terjadi, kita terlempar keluar dari keadaan futuristik ini dan jatuh kembali ke tingkat diri kita yang lama.

Masalah kita selanjutnya adalah untuk—secara perlahan—mendapatkan kembali apa yang sekilas kita lihat dalam pengalaman mistis itu, dan memulai kembali perkembangan menuju kesadaran tertinggi. Tetapi untuk melakukan ini, kita harus belajar untuk secara sadar mengisi diri sendiri dengan energi karena energi ini membawa peristiwa-peristiwa kebetulan, dan peristiwa-peristiwa kebetulan membantu kita mengaktualisasikan tingkat baru pada suatu basis yang permanen.

Pikirkan tentang hal ini : ketika sesuatu terjadi melampaui kesempatan untuk membawa kita maju dalam hidup kita, maka kita menjadi orang yang lebih teraktualisasikan. Kita merasa seolah-olah sedang mencapai apa, yang oleh bimbingan takdir, telah kita jadikan tujuan aktualisasi diri. Ketika ini terjadi, tingkat energi yang menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa kebetulan pertama-tama dibangun di dalam diri kita. Kita bisa tersingkir dari itu dan kehilangan energi ketika kita takut. Tetapi tingkat energi ini berfungsi sebagai batas terluar baru yang dapat diperoleh kembali dengan mudah. Kita telah menjadi pribadi baru. Kita hadir pada tingkat energi yang lebih tinggi, pada tingkat getaran yang lebih tinggi.

Dapatkah Anda melihat prosesnya sekarang?

Kita mengisi diri – tumbuh – mengisi diri – (dan) tumbuh lagi. Itu adalah cara bagaimana kita sebagai manusia melanjutkan evolusi alam semesta ke sebuah getaran yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.

Evolusi ini telah berlangsung secara tidak sadar sepanjang sejarah manusia. Itu menjelaskan mengapa peradaban telah berkembang dan mengapa manusia telah tumbuh lebih besar, hidup lebih lama, dan sebagainya. Sekarang, kita sedang membuat seluruh proses itu terjadi secara sadar. Itulah yang Manuskrip beritahukan pada kita. Tentang itulah seluruh gerakan menuju kesadaran spiritual yang meliputi seluruh dunia ini.

Jadi apa yang harus kita lakukan adalah mengisi diri sendiri dengan energi, seperti yang telah Anda baca sebelumnya, dan peristiwa-peristiwa kebetulan mulai terjadi lebih konsisten. Tetapi itu tidak semudah yang Anda pikirkan. Sebelum kita dapat terhubungkan dengan energi pada basis yang permanen, masih ada satu rintangan lagi yang harus kita lewati. Wawasan berikutnya, Wawasan Keenam, berkaitan dengan masalah ini.

Tentang apakah itu?

Kita harus menghadapi cara khas kita mengendalikan orang lain. Ingat, Wawasan Keempat mengungkapkan bahwa manusia selalu merasa kekurangan energi dan telah berusaha untuk mengendalikan satu sama lain untuk mendapatkan energi yang mengalir di antara manusia. Lalu Wawasan Kelima menunjukkan bahwa ada sumber alternatif, tapi kita tidak bisa benar-benar tetap terhubungkan dengan sumber ini sampai kita berhasil mengatasi kebiasaan kita mengendalikan atau mengontrol orang lain dan berhenti melakukannya, karena setiap kali kita jatuh kembali ke kebiasaan ini, kita akan mendapatkan diri kita terputus dari sumber energi itu.

Menyingkirkan kebiasaan ini tidaklah mudah karena terjadi tanpa disadari pada awalnya. Kunci untuk mengatasi kebiasaan ini adalah membawanya sepenuhnya ke dalam kesadaran, dan kita melakukannya dengan melihat bahwa gaya khas kita mengendalikan orang lain adalah salah satu yang kita pelajari di masa kecil untuk mendapatkan perhatian, agar energi bergerak ke arah kita, dan kita kembali terjebak di sana. Gaya ini kita ulangi lagi dan lagi. Ini biasa disebut sebagai drama pengendalian bawah sadar kita.

Disebut drama karena berupa adegan akrab, seperti adegan di film, yang skenarionya kita tulis semasa remaja. Lalu kita mengulangi adegan ini berulang-ulang dalam kehidupan kita sehari-hari tanpa menyadarinya. Semua yang kita tahu adalah bahwa jenis peristiwa yang sama terjadi pada kita berulang kali. Masalahnya adalah jika kita mengulangi satu adegan tertentu berulang-ulang, maka adegan-adegan lain dari film kehidupan nyata kita, petualangan kelas tinggi, yang ditandai oleh peristiwa kebetulan, tidak bisa bergerak maju. Kita menghentikan film bila kita mengulangi drama yang satu ini untuk memanipulasi demi energi.

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Pemahaman Tentang Visi Wawasan Kelima

Seperti digambarkan sebelumnya bahwa manusialah yang meneruskan evolusi alam semesta menuju ke arah kompleksitas getaran yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Hal ini ada hubungannya dengan berbagai peristiwa kebetulan yang dibicarakan dalam Wawasan Pertama, dan ini juga akan cocok dengan wawasan-wawasan lainnya.

Pikirkan tentang bagaimana wawasan-wawasan itu dibagi menjadi bagian-bagian berurutan.

Wawasan Pertama terjadi ketika kita menganggap serius peristiwa-peristiwa kebetulan. Kebetulan-kebetulan ini membuat kita merasa ada sesuatu yang lebih, sesuatu yang spiritual, yang bekerja di balik semua yang kita lakukan.

Wawasan Kedua membentuk kesadaran kita sebagai sesuatu yang nyata. Kita bisa melihat bahwa kita telah terobsesi dengan kelangsungan hidup dalam dunia materi, dengan fokus pada upaya mengendalikan situasi kita di alam semesta demi keamanan, dan kita tahu keterbukaan kita sekarang mewakili semacam kesadaran akan apa yang sebenarnya terjadi.

Wawasan Ketiga memulai suatu pandangan baru tentang hidup. Ia mendefinisikan alam semesta fisik sebagai alam semesta energi murni, energi yang entah bagaimana merespon jalan pikiran kita.

Wawasan Keempat memaparkan kecenderungan manusia untuk mencuri energi dari manusia lain dengan mengendalikan mereka, mengambil alih pikiran mereka, suatu kejahatan di mana kita terlibat karena kita begitu sering merasa terputus dan kehabisan energi.

Kekurangan energi ini dapat diatasi, tentu saja, ketika kita terhubungkan dengan sumber yang lebih tinggi. Alam semesta dapat menyediakan semua yang kita butuhkan hanya jika kita bisa membuka diri terhadapnya. Itulah visi yang digambarkan oleh Wawasan Kelima.

Perasaan Terhubungkan Dengan Energi

Perasaan Terhubungkan Dengan Energi

Perasaan Terhubungkan Dengan Energi

Segala sesuatu di sekitar kita memiliki energi. Tetapi masing-masing memiliki jenisnya sendiri-sendiri. Itulah mengapa beberapa tempat tertentu dapat meningkatkan energi lebih dari yang lainnya tergantung pada bagaimana kecocokan situasi Anda dengan bentuk energi yang ada di sana.

Bagaimana kita melakukannya?

Anda harus terbuka, menghubungkan diri, menggunakan indera apresiasi Anda terhadap lingkungan di sekeliling Anda, seperti pada cara Anda melihat medan energi. Tetapi Anda harus mengambil satu langkah lebih jauh sehingga dapat merasakan sensasi seperti terpenuhi. Anda akan merasakan perasaan seperti ringan, aman, dan terhubungkan.

Seberapa terhubungkankah?

Ini agak sulit dijelaskan memang. Seolah-olah seluruh ruang di sekeliling Anda menjadi bagian dari diri Anda. Terhanyut larut dalam perasaan cinta kasih atau senang. Anda akan merasakan cinta kasih terhadap segalanya, terhadap lingkungan di sekeliling Anda dan segala isinya. Cinta kasih yang begitu saja terjadi.

Terhubungkan dengan energi terasa seperti kegembiraan atau kegairahan, kemudian euforia bahagia lahir-batin yang melimpah, dan kemudian cinta kasih. Menemukan cukup energi untuk mempertahankan keadaan hati dalam cinta pastilah membantu dunia, tetapi dampak paling langsungnya adalah membantu kita sendiri. Ini adalah hal yang paling hedonistik yang bisa kita lakukan.

Namun demikian, patut untuk diketahui di sini bahwa peran cinta kasih pernah telah disalahpahami untuk waktu yang lama. Cinta bukanlah sesuatu yang harus kita lakukan untuk menjadi baik atau untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Cinta kasih bukan berasal dari tanggung jawab moral yang abstrak, bukan pula sesuatu yang harus kita lakukan karena kita harus meninggalkan hedonisme kita.

Lain pula halnya dengan pengalaman mistis, mungkin Anda telah pula mengalaminya bahkan jauh sebelum Anda membaca artikel-artikel tentang Manuskrip ini. Ketika seseorang telah mengalami pengalaman mistis, akan jauh lebih mudah baginya untuk kembali ke keadaan ini dan meningkatkan tingkat energinya sendiri. Orang lain juga dapat terhubungkan tetapi memerlukan waktu lebih lama. Sebuah memori yang kuat akan pengalaman itu, diduga, memfasilitasi terjadinya pengulangan itu. Setelah itu, orang perlahan-lahan membangun kembali pengalaman mistisnya.

Bilamana hal terhubungkan dengan energi itu terjadi, medan energi orang itu akan terlihat bertambah besar ke arah luar dan sedikit berubah warnanya, biasanya dari putih kusam menuju hijau dan biru. Tapi yang paling penting adalah bahwa energinya mengembang.

Misalnya selama perjumpaan mistis pada artikel sebelumnya, energi Anda memancar keluar ke seluruh alam semesta. Pada dasarnya Anda terhubungkan dan menarik energi dari seluruh kosmos dan pada gilirannya energi Anda menggelembung mencakup segala benda, segala tempat. Anda akan merasa seolah-olah seluruh alam semesta adalah tubuh Anda dan Anda hanyalah kepala, atau mungkin lebih tepatnya, mata. Ya, dan pada saat itu, medan energi Anda dan medan energi alam semesta adalah sama. Alam semesta adalah tubuh Anda.

Gambaran Tentang Suatu Pengalaman Mistis

Gambaran Tentang Suatu Pengalaman Mistis

Gambaran Tentang Suatu Pengalaman Mistis

Pemandangan indah senantiasa menghangatkan tubuh dan memenuhiku dengan luapan emosi bahagia rohani dan jasmani serta riak tawa. “Aku ingin tinggal di sini selamanya”. Di tengah hari nan cemerlang di bawah sinar matahari dan langit biru. Saat duduk di sana, ke-aku-anku menjadi terkesan dengan kedekatan perbukitan ungu di kejauhan—atau lebih tepatnya—perasaan bahwa mereka dekat dariku.

Persepsi yang sama berlaku pula pada sejumlah kecil gumpalan awan putih yang melayang di atas kepala. Aku merasa seolah-olah bisa menjangkau dan menyentuh mereka dengan tanganku. Saat aku mengulurkan tangan ke langit, aku melihat suatu perasaan yang berbeda. Lenganku telah meluncur ke atas dengan kemudahan yang luar biasa. Dari posisiku duduk bersila, aku berdiri dengan mudah tanpa memerlukan bantuan apa pun. Perasaanku betul-betul ringan.

Melihat gunung di kejauhan, aku melihat bahwa bulan siang hari telah keluar dan hendak tenggelam. Bentuknya seperempat penuh dan menggantung di cakrawala seperti mangkok terbalik. Seketika itu juga aku mengerti mengapa bulan memiliki bentuk seperti itu.

Matahari, jutaan mil tepat di atasku, bersinar hanya pada bagian atas bulan yang akan tenggelam itu. Aku bisa melihat garis pembatas yang jelas antara matahari dan permukaan bulan. Dan ini, entah bagaimana, memperluas kesadaranku ke luar lebih jauh. Aku bisa membayangkan bulan telah tenggelam di bawah cakrawala dan bentuk tercermin secara tepat akan hadir bagi mereka yang tinggal lebih jauh ke barat dan masih bisa melihatnya. Lalu aku membayangkan bagaimana bentuknya akan terlihat ketika ia berputar tepat di bawahku, di sisi lain dari planet ini. Bagi orang-orang di sana, maka akan tampak penuh karena matahari di atas kepalaku akan bersinar melewati Bumi dan menerpa bulan secara langsung.

Gambaran ini membangkitkan sensasi yang sulit untuk dideskripsikan. Dan punggungku  terasa lebih tegak lagi ketika aku membayangkan ruang di sisi lain bola bumi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tahu bahwa kebulatan bumi bukan sebagai konsep intelektual tetapi sebagai sensasi yang sebenarnya. Pada satu sisi, kesadaran ini menggairahkanku tetapi di lain hal tampaknya benar-benar lumrah dan alami. Apa yang ingin kulakukan hanyalah membenamkan diri dalam perasaan tergantung, mengambang di tengah ruang yang ada di segala arah.

Alih-alih dengan kakiku hendak mendorong diri jauh dari Bumi melawan gravitasi Bumi saat aku berdiri di sana, sekarang aku merasa seolah-olah aku ditahan oleh suatu daya apung dari dalam, seolah-olah aku diisi seperti balon dengan helium secukupnya untuk membawaku melayang-layang dan hampir tidak menyentuh tanah dengan kakiku. Ini mirip dengan berada di kondisi atletik sempurna, sama seperti setelah satu tahun latihan intens, hanya jauh lebih terkoordinasi dan ringan.

Aku duduk kembali di atas batu, dan sekali lagi, segalanya tampak dekat: tonjolan kasar yang aku duduki, pohon-pohon tinggi di lereng bawah dan pegunungan lainnya di cakrawala. Dan seperti yang aku saksikan dahan-dahan pohon bergoyang lembut tertiup angin, aku mengalami bukan hanya persepsi (pencerapan) visual dari peristiwa itu, namun juga sensasi fisik, seakan-akan dahan-dahan yang bergerak dalam hembusan angin adalah rambut-rambut di tubuhku.

Aku menyadari segalanya, entah bagaimana, menjadi bagian dari diriku. Saat aku duduk di puncak gunung menatap ke segenap arah pemandangan, rasanya persis seperti jika apa, yang selalu kukenal sebagai tubuh fisikku, kini hanyalah kepala dari tubuh yang jauh lebih besar yang terdiri dari segala hal lain yang aku bisa lihat. Aku mengalami hal bahwa rasanya seluruh alam semesta menatap ke luar dirinya sendiri melalui mataku.

Persepsi ini menyebabkan kilatan memori. Pikiranku berlari mundur melintasi waktu, melewati awal perjalananku ke Peru, melewati masa kecil dan kelahiranku. Hadir keinsyafan bahwa hidupku sesungguhnya tidak berawal pada waktu aku lahir di planet ini. Hidupku sudah dimulai jauh lebih awal dengan pembentukan sisa lain diriku, tubuhku yang sesungguhnya, alam semesta sendiri itu. Ilmu evolusi selalu membosankan, tapi sekarang, karena pikiranku terus berlomba mundur dalam waktu, semua hal yang telah kubaca mengenai evolusi mulai datang kembali padaku.

Semua pengetahuan tampak bergabung dengan kenangan yang sebenarnya. Entah bagaimana aku mengingat apa yang telah terjadi, dan ingatanku memungkinkan untuk melihat evolusi dengan cara baru.

Aku melihat materi pertama meledak menjadi alam semesta, dan aku menyadari, sebagaimana Wawasan Ketiga telah jelaskan, bahwa materi itu tidak benar-benar padat. Materi hanyalah energi yang bergetar pada tingkatan tertentu, dan pada awalnya, materi hanya ada dalam bentuk getaran yang paling sederhana : elemen yang kita sebut hidrogen. Itulah semuanya yang ada di alam semesta, hanya hidrogen.

Aku mengamati atom-atom hidrogen mulai tertarik satu sama lain, seolah-olah unsur dominan, dorongan energi ini memulai gerakan ke dalam suatu keadaan yang lebih kompleks. Dan ketika kantong-kantong hidrogen ini mencapai kepadatan yang cukup, energi mulai memanas dan terbakar untuk menjadi apa yang kita sebut sebagai bintang, dan dalam hal ini pembakaran hidrogen melebur menjadi satu dan melompat ke dalam getaran berikutnya yang lebih tinggi, elemen yang kita sebut helium.

Saat terus mengamati, bintang-bintang pertama ini menua dan akhirnya meledakkan diri dan memuntahkan hidrogen yang tersisa dan helium yang baru tercipta ke alam semesta. Dan seluruh proses mulai lagi. Hidrogen dan helium berkumpul bersama sampai suhu menjadi cukup panas untuk untuk membentuk bintang baru dan yang pada gilirannya meleburnya helium menjadi satu, menciptakan elemen lithium, yang bergetar di tingkatan selanjutnya yang lebih tinggi.

Dan begitu seterusnya … setiap generasi bintang-bintang menciptakan masalah yang tidak ada sebelumnya, sampai spektrum materi yang luas—bahan kimiawi dasar—elemen telah terbentuk dan tersebar ke mana-mana. Materi telah berkembang dari elemen hidrogen, getaran materi yang paling sederhana, sampai karbon, yang bergetar pada kecepatan yang sangat tinggi. Kini panggung telah terbentuk untuk langkah berikutnya dalam evolusi.

Ketika matahari kita terbentuk, kantong-kantong materi jatuh ke dalam orbit di sekitarnya, dan salah satunya, Bumi, mengandung semua elemen yang baru tercipta, termasuk karbon. Bumi mendingin, gas-gas yang pernah terkurung di dalam massa cair bermigrasi ke permukaan dan bergabung bersama air membentuk uap, dan hujan besar datang membentuk lautan di kerak yang semula tandus. Kemudian ketika air menutupi sebagian besar permukaan bumi, langit menjadi terang dan matahari bersinar cemerlang, memandikan dunia baru dengan cahaya, panas, dan radiasi.

Dan di lembah-lembah dangkal dan cekungan-cekungan, di tengah badai petir hebat yang secara berkala menyapu planet ini, materi melompat melewati tingkat getaran karbon menuju sebuah keadaan yang bahkan lebih kompleks : kepada getaran diwakili oleh asam amino. Tetapi untuk pertama kalinya, tingkat getaran baru ini tidak stabil dalam dan dari dirinya. Materi harus terus menyerap materi-materi lain ke dalam dirinya untuk mempertahankan getarannya. Ia harus makan. Kehidupan, arah baru dari evolusi, telah muncul.

Masih terbatas pada kehidupan hanya di dalam air, aku melihat kehidupan ini dibagi menjadi dua bentuk yang berbeda. Satu bentuk—yang kita sebut sebagai tumbuhan—hidup di dalam materi anorganik, dan mengubah elemen-elemen ini menjadi makanan dengan memanfaatkan karbon dioksida dari atmosfer awal. Sebagai produk sampingannya, tanaman melepaskan oksigen bebas ke dunia untuk pertama kalinya. Tumbuhan hidup menyebar dengan cepat melalui lautan dan akhirnya ke daratan juga.

Bentuk yang lain—adalah apa yang kita sebut sebagai hewan—hanya menyerap kehidupan organik untuk mempertahankan getaran mereka. Ketika kuamati, binatang mengisi lautan dan memenuhinya dalam abad besar perikanan, dan, setelah tanaman telah melepaskan cukup oksigen ke dalam atmosfer, mulailah perjalanan mereka menuju daratan.

Aku melihat kelompok amfibi—setengah ikan, sesuatu setengah-baru—meninggalkan air untuk pertama kalinya dan menggunakan paru-paru untuk menghirup udara segar. Kemudian materi melompat maju lagi menjadi reptil dan memenuhi bumi dalam periode besar dinosaurus. Kemudian mamalia berdarah panas datang dan juga memenuhi bumi, dan aku menyadari bahwa setiap spesies yang muncul mewakili kehidupan—materi—bergerak ke tingkatan getaran berikutnya yang lebih tinggi. Akhirnya, perkembangan berakhir. Di puncaknya berdirilah manusia. Visi itu berakhir sudah.

Dalam sekejap telah kusaksikan seluruh cerita evolusi, kisah tentang materi yang muncul menjadi ada dan kemudian berkembang, seolah-olah di bawah bimbingan rencana tertentu ke arah getaran-getaran yang semakin tinggi hingga akhirnya menciptakan kondisi yang tepat bagi kemunculan manusia … bagi kemunculan kita, sebagai individu. Manusia meneruskan evolusi alam semesta ke arah kerumitan getaran yang lebih tinggi dan lebih tinggi.

Saat aku duduk di gunung itu, aku hampir bisa memahami bagaimana evolusi ini berlanjut lebih jauh ke dalam kehidupan manusia. Evolusi lanjutan ini entah bagaimana terkait dengan pengalaman kejadian-kejadian kebetulan dalam hidup. Sesuatu tentang peristiwa-peristiwa ini membawa kita maju dalam hidup kita dan menciptakan sebuah getaran yang lebih tinggi yang juga mendorong evolusi itu maju. Namun betapa pun kerasnya aku mencoba, aku tak bisa tetap tidak bisa mengerti sepenuhnya.

Untuk waktu yang lama aku duduk di tebing batu, benar-benar terserap oleh kedamaian dan keutuhan. Aku masih terhanyut dengan pemandangan di sekelilingku sehingga aku merasa seolah-olah sedang berjalan di samping tubuhku sendiri, dan bahkan seolah-olah tengah menjelajahi bagian-bagian tubuhku sendiri. Perasaan itu menyenangkan.

Agak sulit memang untuk menjelaskannya karena perasaan keterkaitan yang membahagiakan dengan segala sesuatu, dan semacam rasa aman dan keyakinan total. Tidak akan ada lagi rasa lelah.

Itulah suatu pengalaman mistik. Banyak orang melaporkan bahwa mereka mengalami hal serupa dalam hutan dekat puncak itu. Suatu pengalaman yang telah dijelaskan oleh para mistikus dari setiap agama. Apakah Anda pernah membaca hal-hal tentang pengalaman seperti itu?

Dinamika Medan Energi

Dinamika Medan Energi

Dinamika Medan Energi

Seperti telah dijelaskan pada Wawasan Ketiga bahwa kita dapat melihat medan energi pada dua orang yang saling berdekatan, termasuk pada dua orang yang sedang bertengkar. Coba tempatkan diri beberapa langkah dari kedua orang tersebut dan lakukan seperti yang kita lakukan pada jari kita. Akan tampak seakan-akan medan energi kedua orang tersebut tumbuh menjadi lebih padat seolah-olah terimbas oleh getaran dari dalam. Ketika mereka sedang bertengkar akan tampak medan energi mereka sedang bercampur. Bila seorang di antaranya mengajukan argumentasi, medan energinya membuat gerakan yang seolah menghisap medan energi lawan bicaranya dengan cara seperti menyedot dari bejana kosong. Tetapi manakala lawan bicaranya menangkis, energi tadi bergerak kembali ke arah dirinya.

Baca juga: Melihat Medan Energi

Dalam dinamika medan energi, memenangkan satu gagasan berarti merebut dan menarik sebagian medan energi lawan bicaranya ke dalam dirinya. Wawasan Keempat berbicara mengenai bagaimana manusia bersaing dan memperebutkan energi. Di situ dikatakan bahwa akhirnya manusia akan melihat alam semesta terdiri dari satu energi dinamis, energi yang menopang kita dan menanggapi harapan-harapan kita. Namun kita juga akan melihat bahwa kita telah terputus dari sumber energi yang lebih besar, bahwa kita telah melepaskan diri, dan dengan begitu merasa lemah, tidak aman, dan kekurangan.

Baca juga: Visi Wawasan Ketiga: Transformasi Pemahaman Tentang Semesta Dunia Fisik

Menghadapi defisit ini, manusia senantiasa berupaya meningkatkan energi pribadi mereka dengan satu-satunya cara yang diketahuinya : berusaha secara psikologis mencurinya dari orang lain—suatu persaingan di luar kesadaran—yang mendasari semua konflik manusia di dunia.

Manfaat Pencerapan Energi

Manfaat Pencerapan Energi

Manfaat Pencerapan Energi

Kita harus sadar bahwa perhatian atau pencerapan pada medan-medan energi bukanlah hanya sekedar untuk menimbulkan sensasi seni di luar realitas, melainkan juga untuk membuat hal-hal seputar diri kita menjadi lebih kokoh dan nyata daripada sebelumnya. Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan ialah melihat keindahan dan mengembangkannya.

Manfaat pencerapan energi antara lain :

  1. Membangunkan reseptor-reseptor malas yang tertidur pada orang-orang buta warna.
  2. Meningkatkan efisiensi organ tubuh dan reaksinya terhadap lingkungan tertentu, misalnya meningkatkan konsentrasi sehingga kita dapat berpikir dengan lebih jernih dan lebih cepat.

Wawasan Ketiga bicara lebih terperinci tentang keindahan. Persepsi keindahan dilukiskan sebagai persepsi yang mengantar manusia akhirnya belajar mengamati medan-medan energi. Setelah ini terjadi, menurut Manuskrip, maka pemahaman kita tentang alam semesta segera akan mengalami transformasi. Misalnya, kita akan mulai mengkonsumsi lebih banyak makanan yang masih banyak mengandung energi; dan kita akan sadar bahwa tempat-tempat tertentu menyinarkan lebih banyak energi daripada tempat lain, sedangkan radiasi tertinggi datang dari lingkungan-lingkungan alamiah tua, terutama hutan. Energi dari tempat-tempat tersebut dapat membuat kita membubung tinggi bagai layang-layang. Dan sebaliknya, dapat menimbulkan efek, seperti merasa murung, bila meninggalkan tempat tersebut kalau saja kita tidak menyalakan kembali energi kita sendiri.

Baca juga: Persepsi Atas Energi: Apresiasi Terhadap Keindahan

Visi Wawasan Ketiga: Transformasi Pemahaman Tentang Semesta Dunia Fisik

Visi Wawasan Ketiga: Transformasi Pemahaman Tentang Semesta Dunia Fisik

Visi Wawasan Ketiga: Transformasi Pemahaman Tentang Semesta Dunia Fisik

VISI WAWASAN KETIGA menggambarkan pemahaman baru atas dunia fisik, pemahaman yang sudah mengalami transformasi mengenai alam semesta. Ia mengatakan manusia akan belajar menyerap apa yang dulu merupakan energi yang tak terlihat, menganggap energi tersebut nyata. Wawasan Ketiga meramalkan bahwa manusia akan menemukan energi baru yang membentuk dasar semua benda dan dipancarkan dari semua benda itu, termasuk dirinya sendiri.

Namun untuk memahaminya lebih lanjut, sebelumnya kita mesti memahami Wawasan Kedua.

Baca juga: Kategori Wawasan Kedua

Setelah runtuhnya pandangan abad pertengahan tentang dunia, kita tiba-tiba menjadi sadar bahwa kita telah hidup di dalam sebuah alam semesta yang sama sekali tidak kita kenali. Dalam upaya memahami hakikat alam semesta ini, kita harus memisahkan fakta dari tahayul. Pada kenyataannya, sikap skeptisisme ilmiah para ilmuwan menuntut bukti kokoh untuk setiap pernyataan tentang bagaimana dunia bekerja. Sebelum kita mempercayai sesuatu, kita menginginkan bukti yang dapat dilihat dan dipegang dengan tangan. Setiap ide yang tidak dapat dibuktikan secara fisik, ditolak secara sistematis.

Sikap ini memberi pemahaman yang baik kepada kita sehubungan dengan gejala alam yang jelas terlihat, dengan objek-objek seperti batu, tubuh, dan pohon, objek yang dapat dipersepsikan oleh siapa pun tak peduli betapa skeptisnya mereka. Dengan cepat kita keluar dan menamai setiap bagian dari dunia fisik, sambil mencoba menemukan mengapa alam semesta beroperasi dengan cara seperti yang terjadi. Akhirnya kita menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam terjadi sesuai dengan hukum alam, bahwa masing-masing kejadian mempunyai penyebab jasmaniah yang langsung dan dapat dipahami. Gagasan yang ingin disampaikan ialah menciptakan suatu pemahaman atas alam semesta yang membuat dunia tampak aman dan bisa dikelola, dan sikap skeptis membuat kita tetap terfokus kepada problema konkrit yang akan membuat eksistensi kita tampak lebih aman.

Dengan sikap ini pula, ilmu secara sistematis menyingkirkan apa yang tidak pasti dan yang esoteris dari dunia. Para ilmuwan menyimpulkan, mengikuti gagasan Isaac Newton, bahwa alam semesta selalu beroperasi dengan cara yang dapat diramalkan, seperti sebuah mesin raksasa, sebab untuk jangka waktu lama cuma itu yang bisa dibuktikan. Peristiwa-peristiwa yang terjadi secara bersamaan dengan peristiwa-peristiwa lain namun tidak mempunyai hubungan kausal, dikatakan terjadi hanya secara kebetulan.

Kemudian dua penemuan besar paling berpengaruh kembali membuka mata dunia tentang misteri alam semesta, yaitu penemuan mekanika kuantum dan penemuan relativitas Albert Einstein.

Seluruh karya hidup Einstein adalah untuk menunjukkan bahwa apa yang kita persepsikan sebagai benda keras kebanyakan merupakan ruang kosong dengan suatu pola energi yang melintasinya. Ini mencakup diri kita.

Fisika kuantum menunjukkan bahwa bila kita mengamati pola-pola energi ini pada tingkat yang makin kecil, dapat dilihat akibat yang mengejutkan. Berbagai percobaan telah mengungkapkan bahwa bila kita memisahkan aspek-aspek kecil ini, yang disebut sebagai partikel elementer, dan kita coba mengamati bagaimana mereka beroperasi, kegiatan observasi itu sendiri mengubah hasilnya—seolah partikel-partikel elementer itu terpengaruh oleh apa yang diharapkan oleh orang yang melakukan eksperimen. Hal ini benar, bahkan meskipun partikel-partikel itu harus tampak di tempat-tempat mereka tak mungkin berada, mengingat adanya hukum-hukum alam semesta yang kita kenal : dua tempat pada saat yang sama, maju atau mundur dalam waktu yang sama, atau hal-hal lainnya yang semacam itu.

Dengan kata lain, bahan dasar alam semesta pada intinya tampak seperti semacam energi murni yang dapat dibentuk sesuai dengan maksud dan harapan manusia melalui suatu cara yang menantang model lama alam semesta yang mekanistik—seakan-akan harapan kita sendiri keluar ke dalam dunia dan mempengaruhi sistem-sistem energi lain.

Memahami Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Memahami Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Memahami Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Bagaimana agar kita benar-benar memahami kebudayaan seperti judul di atas?

Bayangkan diri Anda menjadi hidup di tahun 1000, yaitu pada Abad Pertengahan. Visualisasikan bahwa Anda menemukan diri Anda sendiri di jaman nenek moyang Anda, terlepas dari apa tingkat strata sosialnya—petani atau bangsawan?—atau pekerjaan tertentu yang Anda lakukan waktu itu. Ketika itu di dunia barat, gereja Kristen masih sangat berkuasa.

Baca juga: Meninjau Kebudayaan Dari Perspektif Satu Milenium Penuh

Waktu itu, oleh para imam, dunia digambarkan secara nyata bersifat spritual di atas segalanya. Mereka menciptakan sebuah realitas yang menempatkan ide mereka tentang rencana Tuhan bagi umat manusia berada tepat di pusat kehidupan. Para rohaniawan gereja menjelaskan bahwa Allah telah menempatkan umat manusia di pusat semesta-Nya dikelilingi oleh seluruh kosmos, untuk satu-satunya tujuan: memperoleh atau kehilangan keselamatan, artinya dalam ujian ini harus secara benar memilih antara dua kekuatan yang bertentangan: kekuatan Tuhan atau godaan setan yang mengintai. Tetapi pahamilah bahwa Anda tidak sendirian menghadapi ujian ini.

Sesungguhnya, sebagai seorang individu semata Anda tidak memenuhi syarat untuk menentukan status Anda dalam hal ini. Ini adalah wewenang gereja. Mereka ada untuk menafsirkan kitab suci dan memberitahu Anda setiap langkah apakah Anda sesuai dengan Tuhan atau apakah Anda sedang ditipu oleh setan. Jika Anda mengikuti instruksi mereka, surga adalah imbalannya. Tapi jika Anda tidak memperhatikan instruksi mereka meresepkan, akan ada hukuman tertentu dan kutukan. Para imam gereja ini menganggap diri mereka sebagai satu-satunya penghubung antara Anda dan Tuhan, satu-satunya penafsir kitab suci, satu-satunya wasit keselamatan Anda.

Semua fenomena kehidupan—dari badai atau gempa bumi yang terjadi secara kebetulan sampai keberhasilan panen atau kematian orang yang dicintai—didefinisikan sebagai kehendak Tuhan atau sebagai kedengkian setan. Tak ada konsep cuaca atau kekuatan geologi atau hortikultura atau penyakit. Itu semua datang belakangan. Untuk saat itu, Anda benar-benar hanya percaya pada kaum imam; dunia yang Anda terima sebagai sesuatu yang sudah semestinya beroperasi semata-mata dengan sarana-sarana rohani.

Selanjutnya pandangan dunia Abad Pertengahan mulai berantakan pada abad ke-14 dan ke-15. Pertama, Anda melihat kejanggalan-kejanggalan tertentu pada beberapa imam-imam gereja itu sendiri: diam-diam melanggar sumpah kesucian mereka, misalnya, menerima bayaran untuk berpura-pura tidak melihat ketika pejabat pemerintah melanggar hukum Alkitabiah.

Kemudian Anda berada di tengah-tengah pemberontakan sebuah kelompok yang dipimpin oleh Martin Luther melepaskan diri sama sekali dari kekristenan di bawah kepausan. Mereka menuduh kaum imam korup seraya menuntut diakhirinya kekuasaan kaum imam atas pikiran khalayak ramai. Gereja-gereja baru dibentuk berdasarkan pada gagasan bahwa setiap orang seharusnya memiliki akses dengan Kitab Suci secara langsung dan pribadi serta menafsirkannya sesuai yang mereka inginkan, tanpa perantara.

Pemberontakan itu berhasil. Para imam gereja mulai tergeser. Konsensus jelas tentang hakikat alam semesta dan tujuan hidup umat manusia di sini, seperti yang didasarkan pada deskripsi gereja, runtuh. Akibatnya, seluruh dunia menjadi mempertanyakan tentang tujuan hidup mereka. Manusia seperti kehilangan arah.

Pada tahun 1600-an, para astronom telah membuktikan tanpa keraguan bahwa matahari dan bintang tidak berputar mengelilingi bumi sebagaimana pandangan yang dipertahankan oleh gereja. Jelas bahwa Bumi hanya satu planet kecil yang mengorbit matahari kecil/minor dalam sebuah galaksi yang berisi miliaran bintang.

Ini penting. Manusia telah kehilangan tempatnya di pusat alam semesta Tuhan. Apa akibatnya? Sekarang, ketika Anda mengamati cuaca, atau tanaman yang tumbuh, atau seseorang tiba-tiba mati, apa yang Anda rasakan adalah bingung dan gelisah. Di masa lalu, Anda mungkin telah mengatakan bahwa Allah atau setan yang bertanggung jawab. Tetapi ketika dunia abad pertengahan runtuh, kepastian itu pun ikut gugur bersamanya. Semua hal yang dulunya Anda terima begitu saja, sekarang perlu definisi baru, terutama mengenai sifat Tuhan dan hubungan Anda dengan Allah.

Baca juga: Ketika Transformasi Mencari Bentuknya

Dengan kesadaran itu, Zaman Modern dimulai. Ada semangat demokrasi tumbuh dan ketidakpercayaan massa terhadap otoritas kepausan dan kerajaan. Definisi alam semesta berdasarkan spekulasi atau iman alkitabiah tidak lagi secara otomatis diterima. Kendati kehilangan kepastian, kita tidak ingin mengambil risiko untuk tunduk kepada kelompok baru yang mengendalikan realitas kita seperti yang para rohaniwan pernah lakukan. Mandat baru untuk ilmu pengetahuan pun terbentuk.

Para pemikir zaman itu mulai memandang ke luar alam semesta yang luas tanpa batas dan berpikir bahwa kita perlu metode pembentuk kesepakatan, cara untuk secara sistematis menjelajahi dunia baru kita. Dan Anda akan menyebut cara baru menemukan realitas tersebut sebagai metode ilmiah, yang tidak lebih dari pengujian ide tentang cara kerja alam semesta, sampai pada kesimpulan tertentu, dan kemudian menawarkan kesimpulan ini kepada orang lain untuk melihat apakah mereka setuju.

Lalu kita, manusia, menyiapkan para penjelajah untuk keluar ke alam semesta baru ini, masing-masing bersenjatakan metode ilmiah dan mereka diberikan misi bersejarah : Jelajahi tempat ini, temukan cara kerjanya, dan cari tahu untuk apa kita hidup di dunia ini.

Baca juga: Visi Wawasan Ketiga: Transformasi Pemahaman Tentang Semesta Dunia Fisik

Manusia telah kehilangan kepastian tentang alam semesta yang diperintah Tuhan dan karena itu kepastian kita tentang hakikat Tuhan sendiri. Tetapi kita merasa mempunyai metode, proses pembentukan kesepakatan untuk menemukan hakikat segala sesuatu di sekitar kita, termasuk Tuhan serta tujuan sejati eksistensi umat manusia di planet ini. Jadi, kita mengirimkan para penjelajah ini untuk menemukan hakikat sejati situasi kita sendiri.

Menurut Manuskrip, pada titik ini kita memulai obsesi, dan dari obsesi inilah kita mengalami kebangkitan. Kita mengirim para penjelajah ini untuk membawa kembali penjelasan lengkap tentang eksistensi kita—membawa situasi spritual kita yang sebenarnya—tetapi  kerumitan  alam semesta menyebabkan mereka tidak mampu segera kembali.

Kebelumberhasilan tersebut mempengaruhi kebudayaan secara mendalam. Kita perlu sesuatu lain sampai pertanyaan-pertanyaan kita terjawab. Akhirnya kita sampai pada apa yang tampak sebagai pemecahan yang sangat logis. Karena penjelajah belum kembali membawa spiritual kita yang sebenarnya, kita mulai mendekatkan diri dengan dunia baru ini sementara kita menunggu. Kita belajar mengotak-atik dunia ini untuk keuntungan kita sendiri, untuk meningkatkan standar hidup, dan rasa keamanan kita di dunia. Kita bebaskan perasaan hilang arah dengan menangani sendiri persoalan yang kita hadapi dengan memusatkan perhatian atas upaya menaklukkan Bumi dan menggunakan sumber dayanya untuk memperbaiki cara hidup kita—dan hanya sekarang—ketika mendekati akhir milenium kita dapat melihat apa yang terjadi.

Bekerja untuk membangun cara hidup yang lebih menyenangkan telah membuat kita merasa lebih lengkap luar-dalam, menjadikan hidup kita tergantung pada materi. Materi telah menjadi alasan untuk hidup. Dan setahap demi setahap, secara metodologis, kita telah melupakan pertanyaan semula. Kita lupa bahwa kita masih belum tahu untuk apa kita bertahan hidup.

Yang menjadi persoalan ialah kita yang terfokus dan obsesif untuk menaklukkan alam dan membuat kita sendiri lebih nyaman ini telah menyebabkan sistem alamiah planet ini tercemar dan berada di ambang kehancuran. Kita tak bisa meneruskan cara ini.

Obsesi ini, menurut Manuskrip, sesungguhnya merupakan suatu perkembangan yang diperlukan, suatu tahap dalam evolusi manusia. Hanya saja kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mendekatkan diri dengan dunia. Kini tiba waktunya untuk sadar dan bangun dari obsesi ini dan mempertimbangkan lagi pertanyaan semula. Apa yang ada di balik kehidupan di planet ini? Mengapa kita berada di situ?

Intuisi Tentang Peristiwa-Peristiwa Kebetulan

Intuisi Tentang Peristiwa-Peristiwa Kebetulan

Walaupun agak sulit dan rumit untuk dijelaskan namun secara sederhana, Wawasan Pertama dirumuskan demikian: Wawasan Pertama terjadi bila kita sadar akan peristiwa-peristiwa kebetulan di dalam hidup kita”.

Pernahkah Anda punya firasat atau intuisi mengenai sesuatu yang ingin Anda lakukan? Arah yang ingin Anda tempuh dalam hidup? Dan terheran-heran bagaimana mungkin itu terjadi? Kemudian, setelah agak lupa tentangnya dan pikiran terpusat ke hal-hal lain, Anda tiba-tiba saja bertemu seseorang atau membaca sesuatu atau pergi ke tempat yang justru menuntun Anda ke arah kesempatan yang pernah Anda impikan?

Misalnya, Anda tengah memikirkan tentang seseorang. Seseorang itu kerap muncul di pikiran Anda walaupun Anda sudah atau sedang mengerjakan sesuatu—termasuk bila hendak mengenyahkan orang itu dari benak Anda—tetap saja orang selalu yang muncul. Kemudian tiba-tiba Anda mendapat tugas ke luar kota dari kantor tepat di kota di mana orang itu tinggal. Lalu Anda bertanya-tanya kenapa sepertinya sangat kebetulan sekali semua ini bisa terjadi? Setelah tiba di kota yang dimaksud, akhirnya Anda memutuskan untuk mencoba menelpon orang itu. Namun tidak disangka-sangka respon orang itu sangat di luar perkiraan karena rupanya orang itu pun berpikiran sama seperti Anda tentang Anda. Mungkinkah ini suatu kebetulan semata yang tanpa arti? Atau inilah yang dinamakan suatu peristiwa kebetulan yang bermakna?

Baca juga: Celestine Prophecy: Sembilan Wawasan Pertama

Pertemuan yang terjadi secara kebetulan sering mempunyai arti yang lebih dalam. Ini bisa terjadi begitu kita bersiaga dan terhubung dengan energi. Dijelaskan dalam Manuskrip bahwa peristiwa-peristiwa kebetulan tersebut terjadi lebih kerap lagi dan, ketika terjadi, kita merasa hal itu melampaui apa yang bisa diharapkan oleh suatu kebetulan murni. Kebetulan-kebetulan itu serasa telah dibimbing oleh kekuatan yang tidak bisa dijelaskan. Pengalaman ini menumbuhkan perasaan akan misteri dan kegembiraan, dan sebagai akibatnya kita merasa lebih hidup. Inilah pengalaman yang telah kita cerap selintas dan bahwa kini kita mencoba mewujudkannya sepanjang waktu. Setiap hari bertambah banyak orang yang yakin bahwa gerakan misterius ini nyata dan mengandung arti dan bahwa di balik kehidupan sehari-hari berlangsung sesuatu yang lain. Kesadaran inilah WAWASAN PERTAMA.

Baca juga: Makna Yang Lebih Dalam Dari Sebuah Pertemuan

Pada Wawasan Ketiga nanti akan dijelaskan pula bahwa bila seseorang dapat terhubung dan membangun cukup energi, maka peristiwa-peristiwa kebetulan mulai terjadi secara konsisten sehingga seakan-akan alam semesta dapat dibentuk sesuai dengan maksud dan harapan kita (manusia).

Baca juga: Visi Wawasan Ketiga: Transformasi Pemahaman Tentang Semesta Dunia Fisik