Mendapatkan Kejelasan Tentang Diri Sendiri

Mendapatkan Kejelasan Tentang Diri Sendiri

Mendapatkan Kejelasan Tentang Diri Sendiri

Langkah pertama dalam proses mendapatkan kejelasan bagi diri kita adalah untuk membawa drama pengendalian tertentu kita ke kesadaran penuh. Kita tidak akan pernah bisa mengalami kemajuan sebelum melewati/mengatasi tahapan ini.

Langkah selanjutnya adalah bahwa kita harus kembali ke masa lalu kita, kembali ke kehidupan awal keluarga kita, dan melihat bagaimana kebiasaan ini terbentuk. Melihat permulaan terbentuknya cara kita mengendalikan dalam kesadaran. Ingat, sebagian besar anggota keluarga kita memainkan dramanya masing-masing, mencoba menarik energi dari kita sebagai anak-anak. Inilah mengapa kita pertama-tama harus membentuk drama pengendalian. Kita harus memiliki strategi untuk merebut energi kita kembali. Kita selalu mengembangkan drama khas kita dalam kaitannya dengan anggota keluarga kita. Namun, setelah kita mengenali dinamika energi dalam keluarga kita, kita dapat melewati strategi kontrol dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Setiap orang harus menafsirkan kembali pengalaman di dalam keluarganya dari sudut pandang evolusioner, dari sudut pandang spiritual, dan menemukan siapa sebetulnya dirinya. Setelah kita melakukan itu, drama pengendalian kita gugur dan kehidupan sejati kita lepas landas.

Jadi, bagaimana cara kita memulainya?

Pertama-tama dengan memahami bagaimana drama pengendalian kita terbentuk. Misalnya dengan memahami siapa ayah kita. Katakanlah beliau adalah orang baik yang suka bersenang-senang dan cakap tapi beliau terlalu kritis. Kita tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar di matanya. Bagaimana beliau mengkritik kita? Beliau mengajukan pertanyaan-pertanyaan kemudian menemukan kesalahan dalam semua jawaban. Dan apa yang terjadi dengan energi kita? Kita merasa terkuras sehingga kita mencoba untuk menjaga diri dari mengatakan apapun kepadanya.

Berarti kita tidak tegas dan menjaga jarak, mencoba untuk mengatakan apa saja dengan cara yang mungkin akan mendapatkan perhatiannya, tapi tidak cukup menyatakan untuk memberikan dia sesuatu untuk dikritik. Dia adalah interogator dan kita mengelak untuk mendekatinya dengan sikap menyendiri (dingin) kita.

Kemudian Anda mengenali bahwa ternyata ibu Anda juga telah melakukan hal yang sama kepada Anda seperti ayah Anda dahulu, yaitu berperan sebagai seorang interogator. Jadi Anda telah mendapatkan dosis ganda. Maka tak heran bila ternyata Anda sekarang cenderung memilih drama menyendiri.

Namun walaupun demikian, setidaknya mereka tidak mengintimidasi Anda. Paling tidak Anda tidak pernah khawatir akan keselamatan Anda, bukan? Karena bila ini sampai terjadi, Anda akan menjadi terjebak dalam drama kasihanilah aku (poor me).

Seseorang akan menempuh apa pun yang secara ekstrim diperlukan untuk mendapatkan energi—perhatian dalam keluarganya. Dan setelah itu, strategi ini menjadi cara dominannya mengendalikan untuk mendapatkan energi dari semua orang, drama yang terus-menerus diulanginya. Hal mengenai drama yang diulang-ulang ini dan secara terus-menerus dilakukan tanpa sadar—tanpa mampu bangkit dari “tidur panjang”—akan menyebabkan “neraka” pada diri pelakunya sendiri. Ini akan diulas pada Wawasan Kesepuluh.

Demikianlah persisnya cara drama-drama pengendalian mengabadikan diri. Tapi ingat, ada kecenderungan melihat drama-drama ini pada diri orang lain dan mengira bahwa kita sendiri bebas dari drama-drama pengendalian tersebut. Kita harus melampaui ilusi ini sebelum kita bisa melangkah maju. Hampir semua orang cenderung terjebak, setidaknya untuk sementara waktu, dalam sebuah drama dan kita harus melangkah mundur dan melihat diri kita sendiri cukup lama untuk menemukan drama apa itu.

Segera setelah kita menemukan jenis drama kita, kita benar-benar bebas untuk menjadi lebih daripada peran bawah sadar yang kita mainkan. Seperti yang dikatakan sebelumnya, kita dapat menemukan makna yang lebih tinggi untuk hidup kita, alasan spiritual kita dilahirkan pada keluarga kita. Kita bisa mulai memperoleh kejelasan tentang siapa kita sebenarnya.

2 Replies to “Mendapatkan Kejelasan Tentang Diri Sendiri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *