Gambaran Tentang Suatu Pengalaman Mistis

Gambaran Tentang Suatu Pengalaman Mistis

Gambaran Tentang Suatu Pengalaman Mistis

Pemandangan indah senantiasa menghangatkan tubuh dan memenuhiku dengan luapan emosi bahagia rohani dan jasmani serta riak tawa. “Aku ingin tinggal di sini selamanya”. Di tengah hari nan cemerlang di bawah sinar matahari dan langit biru. Saat duduk di sana, ke-aku-anku menjadi terkesan dengan kedekatan perbukitan ungu di kejauhan—atau lebih tepatnya—perasaan bahwa mereka dekat dariku.

Persepsi yang sama berlaku pula pada sejumlah kecil gumpalan awan putih yang melayang di atas kepala. Aku merasa seolah-olah bisa menjangkau dan menyentuh mereka dengan tanganku. Saat aku mengulurkan tangan ke langit, aku melihat suatu perasaan yang berbeda. Lenganku telah meluncur ke atas dengan kemudahan yang luar biasa. Dari posisiku duduk bersila, aku berdiri dengan mudah tanpa memerlukan bantuan apa pun. Perasaanku betul-betul ringan.

Melihat gunung di kejauhan, aku melihat bahwa bulan siang hari telah keluar dan hendak tenggelam. Bentuknya seperempat penuh dan menggantung di cakrawala seperti mangkok terbalik. Seketika itu juga aku mengerti mengapa bulan memiliki bentuk seperti itu.

Matahari, jutaan mil tepat di atasku, bersinar hanya pada bagian atas bulan yang akan tenggelam itu. Aku bisa melihat garis pembatas yang jelas antara matahari dan permukaan bulan. Dan ini, entah bagaimana, memperluas kesadaranku ke luar lebih jauh. Aku bisa membayangkan bulan telah tenggelam di bawah cakrawala dan bentuk tercermin secara tepat akan hadir bagi mereka yang tinggal lebih jauh ke barat dan masih bisa melihatnya. Lalu aku membayangkan bagaimana bentuknya akan terlihat ketika ia berputar tepat di bawahku, di sisi lain dari planet ini. Bagi orang-orang di sana, maka akan tampak penuh karena matahari di atas kepalaku akan bersinar melewati Bumi dan menerpa bulan secara langsung.

Gambaran ini membangkitkan sensasi yang sulit untuk dideskripsikan. Dan punggungku  terasa lebih tegak lagi ketika aku membayangkan ruang di sisi lain bola bumi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tahu bahwa kebulatan bumi bukan sebagai konsep intelektual tetapi sebagai sensasi yang sebenarnya. Pada satu sisi, kesadaran ini menggairahkanku tetapi di lain hal tampaknya benar-benar lumrah dan alami. Apa yang ingin kulakukan hanyalah membenamkan diri dalam perasaan tergantung, mengambang di tengah ruang yang ada di segala arah.

Alih-alih dengan kakiku hendak mendorong diri jauh dari Bumi melawan gravitasi Bumi saat aku berdiri di sana, sekarang aku merasa seolah-olah aku ditahan oleh suatu daya apung dari dalam, seolah-olah aku diisi seperti balon dengan helium secukupnya untuk membawaku melayang-layang dan hampir tidak menyentuh tanah dengan kakiku. Ini mirip dengan berada di kondisi atletik sempurna, sama seperti setelah satu tahun latihan intens, hanya jauh lebih terkoordinasi dan ringan.

Aku duduk kembali di atas batu, dan sekali lagi, segalanya tampak dekat: tonjolan kasar yang aku duduki, pohon-pohon tinggi di lereng bawah dan pegunungan lainnya di cakrawala. Dan seperti yang aku saksikan dahan-dahan pohon bergoyang lembut tertiup angin, aku mengalami bukan hanya persepsi (pencerapan) visual dari peristiwa itu, namun juga sensasi fisik, seakan-akan dahan-dahan yang bergerak dalam hembusan angin adalah rambut-rambut di tubuhku.

Aku menyadari segalanya, entah bagaimana, menjadi bagian dari diriku. Saat aku duduk di puncak gunung menatap ke segenap arah pemandangan, rasanya persis seperti jika apa, yang selalu kukenal sebagai tubuh fisikku, kini hanyalah kepala dari tubuh yang jauh lebih besar yang terdiri dari segala hal lain yang aku bisa lihat. Aku mengalami hal bahwa rasanya seluruh alam semesta menatap ke luar dirinya sendiri melalui mataku.

Persepsi ini menyebabkan kilatan memori. Pikiranku berlari mundur melintasi waktu, melewati awal perjalananku ke Peru, melewati masa kecil dan kelahiranku. Hadir keinsyafan bahwa hidupku sesungguhnya tidak berawal pada waktu aku lahir di planet ini. Hidupku sudah dimulai jauh lebih awal dengan pembentukan sisa lain diriku, tubuhku yang sesungguhnya, alam semesta sendiri itu. Ilmu evolusi selalu membosankan, tapi sekarang, karena pikiranku terus berlomba mundur dalam waktu, semua hal yang telah kubaca mengenai evolusi mulai datang kembali padaku.

Semua pengetahuan tampak bergabung dengan kenangan yang sebenarnya. Entah bagaimana aku mengingat apa yang telah terjadi, dan ingatanku memungkinkan untuk melihat evolusi dengan cara baru.

Aku melihat materi pertama meledak menjadi alam semesta, dan aku menyadari, sebagaimana Wawasan Ketiga telah jelaskan, bahwa materi itu tidak benar-benar padat. Materi hanyalah energi yang bergetar pada tingkatan tertentu, dan pada awalnya, materi hanya ada dalam bentuk getaran yang paling sederhana : elemen yang kita sebut hidrogen. Itulah semuanya yang ada di alam semesta, hanya hidrogen.

Aku mengamati atom-atom hidrogen mulai tertarik satu sama lain, seolah-olah unsur dominan, dorongan energi ini memulai gerakan ke dalam suatu keadaan yang lebih kompleks. Dan ketika kantong-kantong hidrogen ini mencapai kepadatan yang cukup, energi mulai memanas dan terbakar untuk menjadi apa yang kita sebut sebagai bintang, dan dalam hal ini pembakaran hidrogen melebur menjadi satu dan melompat ke dalam getaran berikutnya yang lebih tinggi, elemen yang kita sebut helium.

Saat terus mengamati, bintang-bintang pertama ini menua dan akhirnya meledakkan diri dan memuntahkan hidrogen yang tersisa dan helium yang baru tercipta ke alam semesta. Dan seluruh proses mulai lagi. Hidrogen dan helium berkumpul bersama sampai suhu menjadi cukup panas untuk untuk membentuk bintang baru dan yang pada gilirannya meleburnya helium menjadi satu, menciptakan elemen lithium, yang bergetar di tingkatan selanjutnya yang lebih tinggi.

Dan begitu seterusnya … setiap generasi bintang-bintang menciptakan masalah yang tidak ada sebelumnya, sampai spektrum materi yang luas—bahan kimiawi dasar—elemen telah terbentuk dan tersebar ke mana-mana. Materi telah berkembang dari elemen hidrogen, getaran materi yang paling sederhana, sampai karbon, yang bergetar pada kecepatan yang sangat tinggi. Kini panggung telah terbentuk untuk langkah berikutnya dalam evolusi.

Ketika matahari kita terbentuk, kantong-kantong materi jatuh ke dalam orbit di sekitarnya, dan salah satunya, Bumi, mengandung semua elemen yang baru tercipta, termasuk karbon. Bumi mendingin, gas-gas yang pernah terkurung di dalam massa cair bermigrasi ke permukaan dan bergabung bersama air membentuk uap, dan hujan besar datang membentuk lautan di kerak yang semula tandus. Kemudian ketika air menutupi sebagian besar permukaan bumi, langit menjadi terang dan matahari bersinar cemerlang, memandikan dunia baru dengan cahaya, panas, dan radiasi.

Dan di lembah-lembah dangkal dan cekungan-cekungan, di tengah badai petir hebat yang secara berkala menyapu planet ini, materi melompat melewati tingkat getaran karbon menuju sebuah keadaan yang bahkan lebih kompleks : kepada getaran diwakili oleh asam amino. Tetapi untuk pertama kalinya, tingkat getaran baru ini tidak stabil dalam dan dari dirinya. Materi harus terus menyerap materi-materi lain ke dalam dirinya untuk mempertahankan getarannya. Ia harus makan. Kehidupan, arah baru dari evolusi, telah muncul.

Masih terbatas pada kehidupan hanya di dalam air, aku melihat kehidupan ini dibagi menjadi dua bentuk yang berbeda. Satu bentuk—yang kita sebut sebagai tumbuhan—hidup di dalam materi anorganik, dan mengubah elemen-elemen ini menjadi makanan dengan memanfaatkan karbon dioksida dari atmosfer awal. Sebagai produk sampingannya, tanaman melepaskan oksigen bebas ke dunia untuk pertama kalinya. Tumbuhan hidup menyebar dengan cepat melalui lautan dan akhirnya ke daratan juga.

Bentuk yang lain—adalah apa yang kita sebut sebagai hewan—hanya menyerap kehidupan organik untuk mempertahankan getaran mereka. Ketika kuamati, binatang mengisi lautan dan memenuhinya dalam abad besar perikanan, dan, setelah tanaman telah melepaskan cukup oksigen ke dalam atmosfer, mulailah perjalanan mereka menuju daratan.

Aku melihat kelompok amfibi—setengah ikan, sesuatu setengah-baru—meninggalkan air untuk pertama kalinya dan menggunakan paru-paru untuk menghirup udara segar. Kemudian materi melompat maju lagi menjadi reptil dan memenuhi bumi dalam periode besar dinosaurus. Kemudian mamalia berdarah panas datang dan juga memenuhi bumi, dan aku menyadari bahwa setiap spesies yang muncul mewakili kehidupan—materi—bergerak ke tingkatan getaran berikutnya yang lebih tinggi. Akhirnya, perkembangan berakhir. Di puncaknya berdirilah manusia. Visi itu berakhir sudah.

Dalam sekejap telah kusaksikan seluruh cerita evolusi, kisah tentang materi yang muncul menjadi ada dan kemudian berkembang, seolah-olah di bawah bimbingan rencana tertentu ke arah getaran-getaran yang semakin tinggi hingga akhirnya menciptakan kondisi yang tepat bagi kemunculan manusia … bagi kemunculan kita, sebagai individu. Manusia meneruskan evolusi alam semesta ke arah kerumitan getaran yang lebih tinggi dan lebih tinggi.

Saat aku duduk di gunung itu, aku hampir bisa memahami bagaimana evolusi ini berlanjut lebih jauh ke dalam kehidupan manusia. Evolusi lanjutan ini entah bagaimana terkait dengan pengalaman kejadian-kejadian kebetulan dalam hidup. Sesuatu tentang peristiwa-peristiwa ini membawa kita maju dalam hidup kita dan menciptakan sebuah getaran yang lebih tinggi yang juga mendorong evolusi itu maju. Namun betapa pun kerasnya aku mencoba, aku tak bisa tetap tidak bisa mengerti sepenuhnya.

Untuk waktu yang lama aku duduk di tebing batu, benar-benar terserap oleh kedamaian dan keutuhan. Aku masih terhanyut dengan pemandangan di sekelilingku sehingga aku merasa seolah-olah sedang berjalan di samping tubuhku sendiri, dan bahkan seolah-olah tengah menjelajahi bagian-bagian tubuhku sendiri. Perasaan itu menyenangkan.

Agak sulit memang untuk menjelaskannya karena perasaan keterkaitan yang membahagiakan dengan segala sesuatu, dan semacam rasa aman dan keyakinan total. Tidak akan ada lagi rasa lelah.

Itulah suatu pengalaman mistik. Banyak orang melaporkan bahwa mereka mengalami hal serupa dalam hutan dekat puncak itu. Suatu pengalaman yang telah dijelaskan oleh para mistikus dari setiap agama. Apakah Anda pernah membaca hal-hal tentang pengalaman seperti itu?